Akukah Domba Yang Baik?

Belum ada komentar 258 Views

Saudara, sepenggal kisah dari Yohanes 10:11-18 menceritakan suatu hubungan antara gembala dengan domba yang digembalakan. Yesus adalah sang Gembala sejati, sedangkan kita umat-Nya adalah domba-domba-Nya. Saudara, kita sama-sama tahu bahwa domba adalah hewan yang lemah. la tidak memiliki pertahanan diri yang kuat kala menghadapi ancaman dari luar. Misalnya saja serigala. Seekor domba hanya bisa berlari sekencang-kencangnya jika ia dikejar oleh seekor serigala. Itu mengapa, kawanan domba harus dijaga oleh seorang gembala yang berani, yang mampu membimbing mereka dan menuntun para domba ini ke area yang aman.

Jika kita memerhatikan teks yang baru saja kita baca, dua kali Yesus menyatakan ‘Akulah gembala’. Hal ini menjadi sebuah penekanan yang ingin Yesus sampaikan kepada para murid dan pendengarnya saat itu, bahwa la adalah gembala yang sejati.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa pada masa itu, bahkan juga saat ini, ada banyak gembala-gembala palsu. Alih-alih membawa para domba ke tempat yang aman, para gembala palsu ini justru berfokus pada keuntungan diri mereka sendiri.

Hal ini tak luput dari perhatian Yesus. la menunjukkan bahwa ada dua karakter dari gembala yang sejati. Pertama, gembala sejati rela berkorban demi domba-dombanya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan Sang Gembala rela menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba yang dikasihi-Nya. Kedua, gembala sejati mengenal domba-domba-Nya, dan para domba pun mengenal Dia. Inilah ciri dan karakter dari relasi antara gembala yang sejati dengan domba-domba-Nya.

Tidak berhenti di sana. Melalui kesaksian penulis Yohanes, Yesus bahkan menuntun para domba yang bukan berasal dari kandang yang sama dengan domba yang lain. Hal ini menunjukkan bagaimana la mengambil peran bukan saja pada domba tertentu yang berasal dari satu kandang/kawanan yang sama, namun juga para domba yang tidak berasal dari kawanan yang sama. Para domba ‘asing’ ini pun akan mengenal suara-Nya, dan menjadi satu kawanan yang

Kata mengenal suara-Nya menjadi penting, terlebih jika kita melanjutkan bacaan kita pada ayat 22 dan seterusnya. Dengan sengaja penulis Injil Yohanes menunjukkan realita bahwa Yesus ditolak oleh orang Yahudi. Mereka tidak ‘mengenal’ suara Yesus Sang Gembala.

Kini yang menjadi pertanyaan, domba seperti apakah Saudara dan saya? Mampukah Saudara dan saya mengenali dan membedakan mana suara Sang Gembala, mana suara orang upahan yang hanya mementingkan keuntungan pribadi saja? Suara siapakah yang Saudara ikuti? Dan yang tak kalah penting, Ibadah hari ini akan mengajak kita untuk berdiam sejenak dan bertanya pada diri sendiri, ‘Akukah domba yang baik?’. Tuhan memberkati. Amin.

ASC

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Keluarga yang Dilandasi Kasih
    Lukas 6:6-11
    Saudara, menurut Saudara, baikkah ketika kita memiliki prinsip dalam hidup? Tentu sebagian besar, kalau tidak semua, akan mengatakan ‘ya’....
  • Belas Kasihan: BERANI BERKURBAN
    ‘Terhapus namanya dari kitab kehidupan’? (Kel. 32:32), ‘Terkutuk dan terpisah dari Kristus’? (Roma 9:3), Wow…sebuah ungkapan yang menunjukkan kesediaan...
  • Belas Kasihan Menggerakkan
    Matius 14:13-21
    Sungguh menarik, perikop bacaan hari ini dimulai dengan sebuah pernyataan: “….tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan…” (Mat. 14:14). Artinya, belas...
  • Jumpai KRISTUS, dan Berubahlah!
    Kita menyadari bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan. Ketika kita membandingkan situasi kita di masa kini dan masa lalu,...