Aku Telah Melihat Tuhan!

Aku Telah Melihat Tuhan!

Belum ada komentar 9 Views

Sebuah ironi terjadi di makam Yesus di Minggu pagi, hari ketiga setelah Yesus mati disalibkan dan dikuburkan. Pada saat itu Yesus menampakkan diri, menyatakan kebangkitan-Nya kepada Maria. Namun Maria memilih untuk membelakangi-Nya, karena mengira Dia adalah tukang kebun. Maria larut dalam kesedihannya sendiri. Ia datang ke kubur kemungkinan besar untuk menuntaskan perawatan jasad Kristus, karena mereka menguburkan-Nya secara terburu-buru berhubung persiapan hari Sabat. Dan tentunya juga untuk menengok kubur orang yang paling dicintainya, serta meratapi-Nya. Maria datang untuk melawat Yesus yang mati, bukan untuk menemui Yesus yang hidup. Sehingga ia tidak mengenali Yesus yang menyatakan diri kepadanya.

Ironi yang sama bisa terjadi pada kita saat ini. Kita dapat gagal mengenali Yesus yang bangkit dan hadir dalam hidup kita. Karena kita larut dalam persoalan kita sendiri-sendiri. Karena kita memilih untuk membelakangi-Nya, sebab tak mampu melepaskan pandang kita dari berbagai kepentingan dan dambaan. Bahkan kita luput bertemu dengan Kristus yang bangkit karena kita tidak sungguh-sungguh mencari-Nya.

Syukur Yesus tidak menghendaki anak-anak-Nya tidak mengenali-Nya. Ia memanggil Maria dengan namanya: “Maria…!” Dan Maria pun mengenali Tuhannya: “Rabuni…!” Kebangkitan Yesus mengubah kesedihan Maria menjadi sukacita yang total. Maria telah melihat Tuhan! Dan saat ini pun Ia memanggil kita dengan nama kita, agar kita mengenali-Nya, agar kesedihan dan masalah kita diubah menjadi sukacita yang utuh dalam nama-Nya. Agar kita dapat berkata dengan mantap bahwa kita telah bertemu dengan Dia!

Dan seperti pada Maria, Yesus tidak menghendaki sukacita kita berhenti pada diri kita. Sebagaimana yang terjadi pada Maria (ayat 17), IA mengutus kita untuk membagi sukacita itu dengan orang lain. Kita dipanggil untuk mempersaksikan kasih anugerah Tuhan dalam Kristus, dengan menyatakan: “Aku telah melihat Tuhan!”, melalui setiap aspek kehidupan kita, dalam setiap kesempatan, serta di mana pun Tuhan menempatkan kita.

Selamat Paska!

 

PWS

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Menjadi Gereja Responsif
    Kisah Para Rasul 6: 1-7
    Seorang ibu pernah bercerita mengenai pengalamannya melahirkan anak pertama. Ketika proses kelahiran usai, respon awal sang bayi adalah hal...
  • Yang jauh menjadi dekat
    Surat Filemon ini adalah hadiah buat Gereja di sepanjang abad dan tempat. Jadi bukan hanya surat pribadi dari seorang...
  • Dibutakan Untuk Melihat
    Kisah Para Rasul 9:1-18
    Saulus tiba-tiba tidak dapat melihat, matanya buta. Apa penyebabnya? Dalam Kisah Para Rasul 22:11, Rasul Paulus menceritakan bahwa suatu...
  • Kasih Yang Melampaui Aturan
    Suatu siang terjadi percakapan antara seorang Ibu pedagang gado-gado dan seorang Ibu pembeli gado-gado di sebuah warung. Tukang gado-gado...
  • Keteguhan Hati
    Pernahkah saudara merasa Tuhan tidak mau menjawab doa-doa saudara? Saudara memohon pertolongan Tuhan untuk menyembuhkan seseorang yang sakit atau...