Aku menggemari perintah-perintah-Mu yang memang kucintai. (Mazmur 119:47)
Masih ingatkah ketika Saudara jatuh cinta kepada seseorang? Ketika sedang jatuh cinta, bukankah kita bersedia melakukan apa pun demi orang yang kita cintai? Misalnya, ia meminta dijemput. Tempatnya jauh, dan perjalanannya memakan waktu. Lalu ia berkata, “Tidak usah, tempatnya jauh, kasihan kamu.” Kita pasti menjawab, “Tidak, tidak jauh kok. Tunggu ya, aku segera meluncur.” Kita melakukannya dengan sukacita.
Kira-kira seperti itulah pemazmur menggambarkan suasana hatinya berkenaan dengan perintah-perintah TUHAN. Ia menggemari, sangat menyukai, dan sangat mencintai perintah-perintah TUHAN. Oleh karena itu, ia melakukannya dengan penuh kegembiraan dan sukacita. Mengapa pemazmur bisa bersikap demikian? Itu karena ia mencintai perintah-perintah TUHAN. Cinta membuat pemazmur melakukan perintah TUHAN dengan sepenuh hati.
Bagi sebagian orang, melakukan perintah-perintah Tuhan dimaknai sebagai tanggung jawab yang menjadi beban. Perintah itu dijalankan, tetapi seperti orang yang memikul beban berat, sekadar memenuhi kewajiban. Oleh karena itu, tidak ada sukacita dalam menjalaninya. Betapa indahnya jika kita pun seperti pemazmur, yang mencintai perintah-perintah Tuhan. Karena mencintainya, kita akan menggemari dan sangat menyukainya. Lalu kita melakukannya dengan penuh kegembiraan dan sukacita. Berbahagialah orang yang mencintai perintah Tuhan dan menggemarinya. [Pdt. Em. Ronny Nathanael]
DOA: Ya Allah, tumbuhkanlah dalam diri kami kecintaan dan kegemaran akan perintah-perintah-Mu. Amin.
Ayat Pendukung: Im. 9:1-2, 15-18; Mzm. 1; 1 Tes. 2:1-8, Mat. 22:34-46
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.