…”Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN.” Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. (Kejadian 29:35)
Ada orang yang merasa seperti figuran dalam drama kehidupan. Seolah-olah semua perhatian tertuju pada orang lain. Dia seakan tidak terlihat dan tidak dihargai. Sungguh pedih ketika seseorang sudah bekerja keras, tetapi tidak diakui, atau ketika cinta tidak berbalas.
Kisah Lea merupakan cerminan dari perasaan tersebut. Lea adalah istri yang tidak dicintai oleh suaminya, Yakub. Yakub lebih mengasihi adik Lea, Rahel. Namun, di tengah kesedihan dan pengabaian itu, terdapat kebenaran yang menenangkan. Allah tidak membiarkan orang yang diabaikan terus tinggal dalam luka dan kesedihan. Lea memang tidak dicintai Yakub, tetapi Allah memerhatikannya. Ia memberkati Lea dengan kehadiran anak-anak. Puncaknya adalah kelahiran Yehuda, anak keempatnya. Ketika Yehuda lahir, Lea mengakui kasih Allah dan bersyukur kepada-Nya. Dari Yehuda kelak lahir Raja Daud. Dari garis keturunan Daud, lahir Yesus Kristus. Melalui karya Yesus, kita menyaksikan Allah yang memerhatikan mereka yang terpinggirkan.
Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita semua. Karena itu, pujian dan syukur harus terus mengalir dari hati. Jangan menanti penerimaan dari manusia terlebih dahulu untuk merasa berharga. Ingatlah Lea. Bersyukurlah dalam setiap keadaan, bahkan dalam keadaan yang tidak sempurna sekalipun. Di dalam Kristus, hidup yang dipandang remeh oleh orang lain dapat dipakai Allah untuk karya besar-Nya. [Pdt. Essy Eisen]
REFLEKSI:
Apa alasan kita untuk tetap bersyukur dalam segala keadaan?
Ayat Pendukung: Kid. 2:8-13; Kej. 29:31-35; Yoh. 13:1-17
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.