..ia datang mendekat, lalu menggulingkan batu itu dari mulut sumur, dan memberi minum kambing domba Laban, saudara ibunya. (Kejadian 29:10)
Kapan terakhir kali Saudara berada di kota atau tempat yang baru seorang diri? Mungkin kecemasan mulai muncul. Siapa saja yang akan ditemui? Apa yang harus dilakukan dengan benar? Di tengah ketidakpastian itu, tiba-tiba Saudara bertemu dengan seseorang yang tulus menawarkan bantuan, misalnya menunjukkan arah atau menawarkan pekerjaan. Pertemuan yang tidak terduga ini terasa seperti sebuah anugerah. Demikianlah yang dialami Yakub.
Allah tidak membiarkan Yakub sendirian dalam pengembaraannya. Ia bertemu dengan orang-orang yang menjadi bagian penting dalam kisah hidupnya. Di balik pertemuan-pertemuan itu terdapat penyertaan ilahi yang lembut, tetapi nyata. Tindakan kebaikan Yakub yang spontan dan penuh inisiatif menunjukkan kesediaannya untuk berserah pada rencana Allah. Meskipun Yakub adalah orang asing, ia bersedia melayani terlebih dahulu. Dari tindakan persahabatan ini, Allah menyingkapkan relasi yang kelak membentuk masa depannya.
Seperti Yakub, kita dipanggil untuk percaya pada pemeliharaan Allah dalam perjalanan hidup kita, bahkan ketika arah hidup tampak samar. Percayalah bahwa Allah sedang menuntun langkah kita, meskipun tujuan akhir belum terlihat. Lakukanlah kebaikan dalam setiap perjumpaan dengan sesama. Jangan enggan berinisiatif memberikan bantuan. Sapalah setiap orang dengan akrab dan hangat. Jadilah sahabat. Ikut sertalah bersama Allah meniti rencana-Nya yang baik bagi segenap ciptaan. [Pdt. Essy Eisen]
REFLEKSI:
Apa saja inisiatif tindakan yang akan kita lakukan hari ini untuk menjadi sahabat yang menolong?
Ayat Pendukung: Kid. 2:8-13; Kej. 29:1-14; Rm. 3:1-8
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.