… yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; (Mazmur 15:3 b)
Orang bijak berkata, “Tetangga adalah saudara terdekat kita”. Hal ini benar, karena bagi kebanyakan dari kita, saudara sekandung bisa jadi tinggal jauh dari kita. Sebaliknya, tetangga yang tidak memiliki hubungan darah dengan kita justru berada di dekat kita. Kepada merekalah kita menitipkan paket yang datang saat kita masih berada di kantor, atau meminta tolong untuk ditemani ke rumah sakit karena kita sendirian di rumah.
Namun, hubungan bertetangga tidak selalu berjalan baik. Tetangga yang iri atau gemar bergosip adalah situasi yang tidak kita harapkan, tetapi nyata terjadi. Pemazmur tampaknya menyadari situasi ini. Menariknya, ia membahas hubungan dengan tetangga dalam kaitannya dengan pertanyaan, “Siapakah yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapakah yang boleh tinggal di gunung- Mu yang kudus?” Betapa relasi kita dengan tetangga berdampak pada relasi kita dengan Allah. Kita tidak hanya diminta untuk beribadah kepada Allah, melainkan juga untuk menjalin hubungan yang baik dengan tetangga.
Merenungkan nasihat Pemazmur, kita diajak untuk mengenal tetangga-tetangga kita dengan lebih baik— bukan sekadar nama, melainkan juga kondisi mereka. Bukan untuk dijadikan bahan gosip yang seru, melainkan untuk membantu mereka jika diperlukan. Jadi, apakah kita sudah mengenal dengan baik tetangga-tetangga di sekitar rumah kita? [Pdt. Timur Citra Sari]
REFLEKSI:
Tuhan memandang hubungan kita dengan tetangga sebagai sesuatu yang penting.
Ayat Pendukung: Ul. 16:18-20; Mzm. 15; 1 Ptr. 3:8-12
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.