DARI SIKAP MENUNGGU KE AKSI NYATA: MENJADI PELAKU FIRMAN

Kejadian 15:1-6; Mazmur 33:12-22; Ibrani 11:1-3, 8-16; Lukas 12:32-40

Belum ada komentar 40 Views

Minggu lalu kita diingatkan untuk menggantungkan hidup pada pihak yang dapat diandalkan yaitu Allah. Kebendaan menggoda kita untuk mengubah cara berfikir kita bahwa kita tidak dapat hidup tanpa harta. Harta menjamin dan menentukan bagaimana kita hidup bahkan memperlakukan sesama. Pandangan tersebut terus menerus ditawarkan kepada kita terlebih ketika dunia membuktikan bahwa tempat-tempat nyaman, kemudahan, diberikan kepada mereka yang memiliki kelimpahan harta, suatu kondisi ideal yang ingin dialami semua orang.

Godaan ini begitu besar, kita berjalan melawan arus untuk menghidupi nilai bahwa hidup tergantung sepenuhnya pada Allah dan bukan kebendaan.

Inilah yang menjadi tantangan kita untuk mempercayai firman bukan sekadar dengan mengerti namun menghidupinya dalam keputusan-keputusan hidup keseharian. Menghidupi firman artinya membuka diri untuk berproses diteguhkan, diyakinkan bahwa apa yang dinyatakan-Nya adalah benar dan membangun realita kehidupan. Di ayat 30, Lukas menuliskan, “Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Padahal Bapamu tahu bahwa kamu memerlukannya.”

Allah tidak menutup mata terhadap kebutuhan hidup namun Allah menawarkan jalan baru yang tidak disediakan dunia yaitu jalan bergantung pada janji-Nya. Pada saat semua itu menghilang maka ada pihak yang tinggal tetap untuk menopang yaitu Allah. Pada saat semua itu direbut dan dirampas ada satu hal yang tetap menjadi milik kita yaitu percaya dan keteguhan hati bahwa Allah tidak meninggalkan kita. Allah mengajarkan dan menawarkan sebuah kualitas hidup merdeka dari segala keterikatan dan kemelekatan. Kita hanya dapat membuktikannya pada saat kita menghidupinya dalam keseharian. Ajaran ini hanya menjadi sebuah pengetahuan yang terus menerus kita pertanyakan dan ragukan pada saat kita tidak membuat keputusan untuk menjalani, memperjuangkan dan menjadikannya cara hidup. Maka marilah kita menghidupi apa yang difirmankan dengan mengalami, menghidupi dan membuktikan suatu kualitas hidup baru yang dijanjikan-Nya adalah suatu kualitas hidup damai sejahtera yang tidak pernah diberikan oleh dunia.

Amin (DVA)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...
  • Anugerah yang Mengganggu
    Matius 20:1-16
    Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang...
  • MENGAMPUNI TANPA KENDALI
    Matius18:21-35
    “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Sebuah pertanyaan...