Tubuh Kristus : Antara Dependensi dan Interdependensi

Tubuh Kristus : Antara Dependensi dan Interdependensi

1 Komentar 27 Views

Sewaktu     saya    mendoakan   seorang   bapak   yang    berulangtahun,   saya mengatakan  demikian,  “Tuhan berkatilah dia sebagai kepala rumah tangga, agar…dan seterusnya”. Setelah  berdoa  beberapa  teman  protes, “Memang dia Kepala rumah tangga?”

Rupanya konsep  pelajaran  waktu saya SD masih  melekat  dalam   benak saya,  seperti:   Ayah   bekerja   di   kantor,  ibu   memasak   di dapur. Ibu sebagai  ibu  rumah   tangga   dan  ayah  berperan  sebagai  kepala rumah tangga. Apakah  salah konsep  ini? Dalam  konteks  di beberapa tradisi dan budaya  masyarakat, memang    tidak   dapat   disalahkan.   Tapi  ternyata  dalam   konteks    Alkitab  khusus   saat   Paulus  bicara  tentang  kesatuan  tubuh  Kristus,  satu-satunya kepala  adalah  Kristus.  Kristus  yang  adalah  pemimpin    gereja,  Kristus  pula  yang  menjadi  pemimpin  dalam  rumah tangga kita.

Sehingga  bukan  bapak  atau  suami  yang terutama dan  pendapatnyalah yang  paling  utama,   melainkan   Allah   yang  dapat  juga memakai ayah (tetapi  juga,  Allah   bisa   memakai   ibu)   untuk    berperan    menolong   anggota keluarga memahami pikiran, perasaan dan kepemimpinan  Kristus.

Di   satu   sisi,   prinsip  Dependensi,   mengacu   pada  ayat  versi  kolose, adalah cara kita,  keluarga   dan  gereja  sebagai  anggota  tubuh – jemaat  Kristus, bergantung  kepada  Kristus  sebagai  kepalanya.

Di   sisi   lain,   prinsip    interdependensi,  mengacu  pada versi   Korintus, mengingatkan    kita    bahwa    kita   semata   hanya    bergantung    dan

berelasi dengan  Kristus  saja.  Sebagai  sesama    anggota   tubuh  Kristus atau  jemaat  Kristus,  termasuk    kepala,   mata,   telinga, dll. kita semua

sesungguhnya   saling   bergantung.    jika    ayah     sakit,  ibu  tentu  ikut merasakan  sakit.   Jika seorang  anggota   jem aat  melakukan  kesalahan,  kita juga  sebagai  s esama anggota jemaat  turut  menolong  memperbaiki  kesalahannya.

Jadi, jika seorang bapak berulangtahun saya kira  saya  akan  memperjelas doa  saya   seperti   ajaran  Paulus,  “Ya  Bapa,  biarlah  bapak  ini   belajar memiliki pikiran  dan  perasaan Kristus agar  ia   dapat   menolong  sesama anggota keluarga  dan  anggota  jemaatnya, hidup menjadikan-Mu sebagai  Kepala dalam  hidup  mereka.”

Pertanyaannya:

  1. Dengan pertimbangan apa kita biasanya  mengambil    keputusan  dalam keluarga?
  2. Bagaimana  cara mengambil keputusan  berdasarkan  pikiran dan perasaan Kristus?

Riajos

1 Comment

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Menghidupi Pertobatan
    Yesaya 40:1-11; Mazmur 85:1-2, 8-13; 2 Petrus 3:8-15; Markus 1:1-8
    Pertobatan memanggil seseorang untuk menghayati hidupnya dengan cara baru. Pertobatan artinya berbalik dari cara kehidupan lama menuju kehidupan baru....
  • Keluar Dari Kekelaman
    Yesaya 64:1-9; Mazmur 80:1-7, 17-19; 1 Korintus 1:3-9; Markus 13:24-37
    Apakah Anda mengingat permainan petak umpet? Pada saat saya masih kecil, kami sering memainkan permainan ini. Satu orang menutup...
  • Yesus Raja dan Gembala
    Yehezkiel 34:11-16, 20-24
    Minggu ini adalah Minggu Kristus Raja, akhir tahun liturgi gereja. Minggu depan adalah Adven I, awal tahun gereja. Gelar...
  • menghitung hari
    Menghitung Hari
    Mazmur 90:1-12
    Kehidupan di perkotaan penuh dengan rutinitas. Rutinisme menjadi sebuah bagian kehidupan kebanyakan orang. Memaknai hari bukanlah hal yang mudah...
  • Berjaga-jagalah
    Matius 25:1-13
    “Santai aja, bro!”, celoteh seorang kawan. Tak apa lah. Tugas masih jauh dari dateline. “Sekarang kita happy happy dululah!”,...
Kegiatan