Intimacy

The Secret of Intimacy

Belum ada komentar 51 Views

Menurut Tony dan Alisa DiLorenzo, ada enam bentuk keintiman, yaitu:

1. Keintiman Emosional (Emotional Intimacy)
Inilah perasaan dekat yang bisa diciptakan melalui berbagi atau mengungkapkan perasaan. Untuk itu kita perlu jujur kepada diri sendiri atas perasaan kita sebelum menyampaikannya kepada pasangan kita. Mengungkapkan perasaan membutuhkan keberanian dan kemauan untuk mengatakan apa yang sedang kita rasakan dengan sejujurnya, tanpa rasa takut, malu atau waswas.

Betapa bahagianya pasangan yang sudah bisa mengungkapkan perasaan-perasaan mereka satu sama lain, sehingga di situ keintiman emosional akan dirasakan.

Untuk meningkatkan keintiman ini, cobalah luangkan waktu 10 menit/hari tanpa gangguan (quality time): tanpa perangkat elektronik, tanpa anak, tanpa hal-hal yang bisa mengganggu suasana kedekatan yang ingin kita ciptakan.

2. Keintiman Intelektual (Intellectual Intimacy)
Keintiman ini melibatkan pengertian bersama tentang pentingnya area-area atau isu-isu penting dalam pernikahan.

Mungkin kita ingin membuat perencanaan tahun depan untuk membicarakan anggaran, atau ingin merencanakan penerapan nilai-nilai tertentu pada anak-anak. Semuanya perlu dibicarakan dengan pasangan tanpa perasaan khawatir atau takut, sehingga pernikahan kita merupakan tempat yang aman untuk diskusi.

Dasar dari keintiman intelektual adalah rasa kesetaraan dengan pasangan. Banyak pasangan yang merasa bahwa mereka tidak selevel, yang satu merasa lebih tinggi atau yang lain merasa tidak sepadan, sehingga merasa sulit atau malah enggan mendiskusikan atau membicarakan hal-hal di atas.

Upayakanlah agar kita bisa menerima intelektual pasangan kita. Perlakukanlah dia sebagai mitra yang cocok dan akrab untuk diajak membicarakan hal-hal tersebut.

Cobalah juga membaca buku yang sama, atau menonton film bersama, lalu mendiskusikannya, sehingga kita mulai merasakan keakraban dan mengagumi ‘bobot’ pasangan kita.

3. Keintiman Spiritual (Spiritual Intimacy)
Hal ini menyangkut kebersamaan dalam keagamaan dan cara-cara keagamaan. Keintiman spiritual akan mudah dilakukan dengan doa bersama (walau kadang-kadang juga sulit dilakukan). Dengan doa bersama, kita bisa mempunyai kesamaan pengertian dalam mengatasi pergumulan, menyelesaikan masalah atau menyesuaikan jalan pikir. Keintiman spiritual juga dapat dilakukan dengan pergi ke gereja bersama; saat teduh bersama, mendiskusikan tentang keimanan bersama, melakukan pelayanan bersama, atau menerima dan mengerti aktivitas pelayanan pasangan serta mendukungnya.

Ungkapan-ungkapan pengalaman hidup dalam keimanan yang sama akan meningkatkan keintiman spiritual. Disarankan agar pasangan berdoa bersama sedikitnya sekali seminggu.

4. Keintiman Fisik (Physical Intimacy)
Seringlah bergandengan tangan, berpelukan atau berciuman. Sentuhan bisa mengomunikasikan penerimaan dan cinta, suatu keakraban yang hanya Anda berdua bisa rasakan dan ungkapkan.

Keakraban itu membuat kita bebas melakukan keintiman fisik tanpa merasa risih atau kikuk untuk melakukannya. Sesuatu yang alami.

Untuk meningkatkan keintiman fisik, seringlah berpegangan tangan pada setiap kesempatan dan biarkanlah hal itu menjadi kebiasaan yang alami.

5. Keintiman Finansial (Financial Intimacy)
Keintiman dalam keuangan datang ketika kita bersama merencanakan kebutuhan keuangan. Upayakanlah untuk terbuka terhadap pasangan tentang hal ini.

Beberapa dari kita mungkin mengalami kesulitan untuk bisa terbuka, jujur dan membicarakan masalah keuangan bersama. Terkadang ada sesuatu yang menghalangi kita untuk jujur tentang status keuangan kita yang sebenarnya. Ketika pasangan kita meminta atau merencanakan sesuatu yang berhubungan dengan keuangan, kita mengiyakan saja padahal sebenarnya berat bagi status keuangan saat itu. Akhirnya dengan mudah kita ‘menggesek’ kartu kredit kita.

Upayakanlah untuk mulai terbuka tentang keadaan finansial kita sehingga kita akan merasa bersatu, punya tanggung jawab bersama atas kondisi keuangan kita, dan dengan bebas membicarakannya.

Untuk memperbaiki keintiman finansial, kurangilah berutang.

6. Keintiman Rekreasi (Recreational Intimacy)
Inilah keakraban untuk aktif bersama. Carilah hal-hal yang Anda sukai dan bisa dilakukan bersama pasangan, misalnya berlibur bersama, jalan-jalan bersama, makan malam bersama, olahraga bersama, ikut paduan suara bersama, jalan-jalan ke museum, naik gunung, atau hal-hal lain yang bisa dilakukan bersama.

Untuk meningkatkan keintiman, jalanlah 30 menit di dalam kompleks di mana kita bisa bertukar pikiran sambil mengobrol.

Nah, sekarang bagaimana kita bisa menghadirkan keenam keintiman itu? Rahasianya adalah: komunikasi.

Dapatkah Anda melihat bahwa untuk menghadirkan tipe-tipe keintiman ini dibutuhkan cara berkomunikasi yang baik, terutama bahasa perasaan di mana kita mengerti bagaimana mengungkapkan perasaan dan bagaimana turut merasakan apa yang dirasakan pasangan?

Untuk berkomunikasi dengan baik dibutuhkan dua orang yang memiliki kesetaraan. Dengan kesetaraan, komunikasi bisa dilakukan dua arah dan terbuka bagi terwujudnya dialog.

Lawan bicara kita harus dianggap setara/sederajat atau dalam posisi yang setara. Komunikasi akan bisa berjalan baik jika ada dua subjek yang berinteraksi (bukan yang satu subjek dan yang lain objek. Dalam posisi ini yang satu akan merasa kehilangan mitra. Ibaratnya ingin bertepuk tangan tetapi hanya ada 1 tangan. Apakah kita bisa bertepuk tangan?).

Bila komunikasi yang terjadi bukan di antara dua subjek (si A dan si B), maka si A akan merasa kehilangan mitra bicara. Apa yang terjadi? Si A akan merasa tidak puas dan uring-uringan. Hal ini bisa menimbulkan kekecewaan, kekesalan dan kemarahan. Kejadian yang berulang kali akan menjauhkan relasi dan keintiman yang kita harapkan.

Dalam komunikasi, di manakah posisi Anda?

  • Komunikasi formal,
  • Komunikasi tentang orang lain,
  • Komunikasi tentang diriku,
  • Komunikasi tentang isi hati.

Yang terdalam adalah komunikasi tentang isi hati. Tanpa hal ini, kita tidak akan pernah tahu apa yang dirasakan pasangan, dan tanpa mau atau bisa mengomunikasikan isi hati, kita akan merasa ada belenggu dan ketidakpuasan yang mengganggu keintiman.

Ada beberapa kendala untuk berkomunikasi, seperti faktor budaya timur. Misalnya anggapan bahwa yang lebih muda tidak boleh menentang yang lebih tua. Istri harus tunduk pada suami yang dianggap sebagai kepala rumah tangga (pemahaman Efesus 5:22, 23).

Kenyataan juga menunjukkan bahwa wanita lebih membutuhkan sesuatu yang tersirat, sedangkan laki-laki membutuhkan sesuatu yang tersurat. Para suami lebih kaku, sedangkan para istri lebih memutar dahulu ketika menyatakan keinginan mereka, sehingga bisa sering terjadi kesalahpahaman.

Pemahaman akan kendala ini membantu untuk menghadirkan a.l. keintiman fisik, keintiman emosional, dan keintiman rekreasi.

Kita juga perlu memerhatikan bagaimana cara berkomunikasi dengan pasangan yang memiliki latar belakang yang berbeda (budaya, nilai-nilai dan kebiasaan).

Pemahaman atas latar belakang akan membantu a.l. keintiman intelektual dan keintiman finansial.

Sebagai pasangan Kristen, kita sebetulnya mempunyai sarana indah yang membantu kita untuk bisa berkomunikasi dengan baik, yaitu menghadirkan komunikasi antara suami, istri dan Tuhan. Ketika suami atau istri mendekatkan diri pada Tuhan, maka tanpa disadari hal itu juga akan mendekatkan hubungan mereka berdua dan membantu menghadirkan keintiman emosional dan keintiman finansial.

Betapa indahnya kehidupan keluarga ketika kita bisa menghadirkan keenam jenis keintiman itu. Rahasianya adalah bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan baik dan akrab terlebih dahulu.

Gereja sebetulnya sudah sejak lebih dari 20 tahun menyediakan fasilitas Weekend Pasutri di mana kita belajar mengerti bahasa komunikasi dengan perasaan, menyampaikan, menerima dan menerima pasangan apa adanya.

Sebagai refleksi, cobalah renungkan:

  • Dari waktu 24 jam, berapa lamakah Anda berdua menyempatkan untuk berdialog dengan bertatap muka?
  • Dari tingkat komunikasi di atas, di tingkatan manakah komunikasi Anda berdua?
  • Kendala apa saja yang Anda berdua temui dalam berkomunikasi?
  • Langkah apa yang Anda berdua rencanakan untuk meningkatkan komunikasi?

» Pasutri JAN – AMI TANUMIHARDJA

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pasutri
  • Intimacy
    Mendengarkan Dengan Hati
    Upaya komunikasi efektif dalam memahami pasangan
    Lama pernikahan tidak menjamin tingginya tingkat pemahaman antara suami-istri. Berikut kisah Pak Sugandhi dan Ibu Rumiastuti; ini tentu banyak...
Kegiatan