menghitung hari

Menghitung Hari

Mazmur 90:1-12

Belum ada komentar 177 Views

Kehidupan di perkotaan penuh dengan rutinitas. Rutinisme menjadi sebuah bagian kehidupan kebanyakan orang. Memaknai hari bukanlah hal yang mudah bagi mereka. Aktivitas bangun pagi, berkendara dalam kemacetan, bekerja, makan siang, kembali melalui padatnya lalu lintas, dan kembali ke rumah untuk tidur menjadi kebiasaan-kebiasaan yang mungkin saja tanpa makna. Karenanya, lahirlah istilah I hate Monday atau Yeay, it is Friday.

Memaknai rutinitas memang tidak mudah bagi setiap manusia. Tengoklah soal makan! Bagi kebanyakan orang, makan hanya menjadi sebuah kegiatan rutin yang harus dilakukan. Kalau pun dimaknai, biasanya hanya sekedar untuk menjaga agar tidak masuk angin. Memahami pemeliharaan Tuhan dalam hidup melalui makanan, memaknai pekerjaan dalam rasa syukur, menerima makanan sebagai sebuah keajaiban karya Allah, dan banyak refleksi iman lain, bisa saja menjadi sesuatu yang langka dan bahkan mahal karena hanya dilakukan dengan dana besar untuk acara camp dan retret.

Pemazmur mengajar setiap umat Allah menjalani hidup dengan keyakinan iman sekaligus penuh syukur atas pemeliharaan Tuhan. Ajakan pemazmur bukan hanya pada perkara-perkara besar. Pemeliharaan Tuhan terjadi setiap saat dan setiap waktu. Bahkan disebutkan sejak mulanya Allah memelihara dunia dan seluruh umat manusia. Hal ini berlaku bahkan turun-temurun. Sejak leluhur kita sampai anak cucu kita, penyertaan-Nya selalu ada.

Sebuah tantangan bagi kita adalah ‘menghitung hari’. Menemukan setiap penyertaan yang Tuhan berikan. Kepekaan hati dan kedalaman refleksi iman adalah kacamata yang diperlukan untuk mencapai hal tersebut. Begitu banyak orang yang gagal bersukacita dalam hal-hal kecil yang Tuhan berikan. Seorang kawan pendeta berkisah, “Aku heran, mengapa banyak orang senang dengan yang luar biasa? Coba bayangkan, bila jantung kita berdegup dengan luar biasa. Sebutlah jantung kita berirama disko, bukan lagi seperti sebuah metronom yang berdetak tetap. Apa yang terjadi? Seluruh tubuh kita akan bermasalah karena detakannya. Otak kita tidak dapat bekerja dengan baik. Bukankah yang biasa itu baik bahkan yang terbaik?” Benarlah kiranya perkataan Sang Pendeta itu. Penyertaan Tuhan yang terbaik seringkali muncul dalam hal-hal biasa, seperti biasa mendapat selamat dalam perjalanan pulang pergi bekerja, biasa bernafas setiap saat, biasa mendapatkan makanan setiap jam makan, dan banyak hal lainnya.

Inilah ‘menghitung hari’ dan inilah kebijaksanaan kehidupan yang membahagiakan. Hitunglah hari dan jadilah bijaksana!

BA

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Berbahagia walau….
    Lukas 6: 17-26
    Ungkapan “berbahagialah” mengingatkan kita pada pengajaran Tuhan Yesus tentang “Kotbah di Bukit”. Sebutan berbahagialah mereka yang miskin, yang lapar...
  • Melihat Karya Tuhan melalui Kegagalan
    Lukas 5: 1-11
    Kegagalan yang terjadi dalam kehidupan kita, sering menjadi sesuatu yang menakutkan dan menjauhkan kita dari mimpi masa depan yang...
  • MUKJIZAT
    Yohannes 2:1-11
    Di dalam kisah Yesus mengubah air menjadi anggur di perkawinan Kana, muncul catatan sangat penting, yaitu di dalam ayat...
  • Berpartisipasi ke dalam Peristiwa Trinitas
    Lukas 3:22
    Peristiwa pembaptisan Yesus merupakan sebuah peristiwa Trinitarian. Artinya, di dalam peristiwa itu, ketiga Pribadi ilahi, Bapa, Anak, dan Roh...
  • Keajaiban Natal: Keajaiban Persahabatan
    Luk. 1:39-55
    Pernahkah saudara pergi dalam keadaan hamil ke pegunungan tanpa kendaraan yang memadai? Maria pernah. Dia pergi ke seorang sahabat...
Kegiatan