Mengapa Kita Mengikut Yesus?

Yohanes 6:24-35

Belum ada komentar 194 Views

Setelah Yesus melakukan mukjizat memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, orang berbondong-bondong mengikuti Yesus. Bahkan ketika Yesus beserta murid-murid-Nya menyeberang dangan perahu, mereka menyusul Dia dan menemui-Nya di tempat Yesus mendarat. Namun alih-alih senang bahkan bangga, dengan sedih Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” (Yoh. 6:26). Pertanyaan Yesus yang tajam ini ini bisa kita kenakan dalam berbagai aspek kehidupan kita.

Mengapa kita bersikap ramah dan baik kepada tetangga kiri-kanan kita? Apakah karena itu adalah hal yang sewajarnya kita lakukan, ataukah karena kita mengharapkan agar bila diperlukan kita dapat meminta pertolongan bahkan mengandalkan mereka? Mengapa kita bersahabat dengan si A dan si B? Apakah karena memang di antara kita bertiga terdapat kecocokan dan kehangatan yang indah, ataukah karena mereka berdua adalah sosok-sosok sosialita yang cukup mencuat? Mengapa kita menyekolahkan anak kita di sekolah yang amat mahal itu? Apakah karena kita memang yakin bahwa sekolah itu amat baik dan cocok bagi anak kita, ataukah sekadar demi gengsi kita orang tuanya?

Dan di Bulan Budaya ini kita juga mestinya bertanya dalam terang itu: Mengapa kita (masih) tinggal di Indonesia ini? Apakah karena kita yakin bahwa ini bukan kebetulan, melainkan Tuhan yang menempatkan kita di sini agar kita turut membangun dan memajukannya? Ataukah sekadar karena tidak ada pilihan, atau karena (hingga saat ini) Indonesia masih lumayan sebagai tempat kita bekerja dan berusaha?

Yesus berfirman: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu…” (Yoh. 6:27).

Dalam hidup beriman dan bergereja, yang normatif adalah relasi dengan Sang Kristus, sang Roti Hidup. Dan atas dasar itu normatif pula relasi dengan saudara-saudara seiman, anggota Tubuh Kristus. Bukan semata-mata demi diri, kepentingan dan kesejahteraan kita sendiri.

Pula atas dasar itu kiranya kita yakini pula: Dalam hidup bertetangga yang normatif adalah rukun tetangga. Dalam persahabatan yang normatif adalah relasi. Dalam pendidikan anak yang normatif adalah masa depan dan kepentingan anak. Dalam hidup berbangsa dan bernegara yang normatif adalah kewajiban dan tanggung jawab sebagai warga negara. Bukan semata-mata demi diri, kepentingan dan kesejahteraan kita sendiri.

PWS

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Yesus dan Petrus
    Ketika Yesus dan Petrus (dan kita) Saling Menghardik
    Yes. 50:4-9; Mzm. 116:1-9; Yak. 3:1-12; Mark. 8:27-38
    Percakapan dimulai dengan sangat indah. Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?” Lantas para murid mengajukan...
  • anjing dan ludah
    Antara Anjing dan Ludah
    Bacaan Injil kita minggu ini menyajikan dua kisah penyembuhan; yang satu berisi penyembuhan Yesus atas anak seorang perempuan Siro-Fenisia...
  • Ritualisme atau Hati yang Bersih
    Ulangan 4:1-2, 6-9; Mazmur 15; Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8, 14-23
    Insiden “penistaan agama” terjadi lagi. Kali ini menimpa para murid Yesus. Pelapor dan penuntutnya adalah “serombongan orang Farisi dan...
  • Bersama Mengukir Narasi Cinta Bagi Bangsa
    Ulangan 10: 12-22; Mazmur 15; Roma 2: 12-29; Markus 12: 28-34
    Merupakan anugerah dari Tuhan saat ini GKI melangkah memasuki usianya yang ke 30. GKI menyebut dirinya sebagai Gereja Kristen...
  • Libatkan dan Alami Tuhan
    Ams. 9:1-6; Mzm. 34:9-14; Ef. 5:15-20; Yoh. 6:51-58
    Melalui dua kata kerja “mengecap dan melihat” menurut pemazmur, seseorang dapat mengenal dan mengalami Tuhan dalam kehidupannya. Namun, pengenalan...
Kegiatan