Keluarga yang Menerapkan Sabda Kasih Allah

Keluarga yang Menerapkan Sabda Kasih Allah

Matius 22:34-46

Belum ada komentar 1083 Views

Banyak orang Kristen menghidupi imannya dengan memegangi erat-erat berbagai kepastian yang tak dapat ditawar-tawar. Surga ada di atas, neraka ada di bawah, dan mereka tahu persis siapa saja yang akhirnya akan ke atas atau ke bawah. Dunia diciptakan selama 6 hari atau 144 jam, tidak kurang dan tidak lebih. Tidak ada ruang untuk bertanya atau bersikap ragu-ragu. Inilah sikap para Farisi dan sang ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mat. 22:34).

Yesus memuaskan orang itu dengan mengatakan apa yang dipegangi oleh semua orang Israel: mengasihi Allah dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatan (Ul. 6:5), yang adalah bagian dari “shema Israel” (“dengarlah hai IsraelUl. 6:4). Tetapi Yesus tidak berhenti di situ, IA melanjutkan dengan mengutip Im. 18:19; mengasihi sesama seperti diri sendiri. Para Farisi dan ahli Taurat yang disapa Yesus mestinya hafal isi ayat yang dikutip Yesus itu secara lengkap.

Dengan jawaban-Nya, Yesus hendak menekankan setidaknya dua hal. Pertama, hukum yang terutama adalah “mengasihi”, mengasihi Allah dahulu, kemudian mengasihi sesama, sebagai suatu keutuhan yang tak terpisahkan. Yang kedua, mengasihi adalah kata kerja, aksi, bukan pengertian abstrak. Oleh karena itu mengasihi adalah usaha, proses belajar yang tak pernah boleh usai.

Keluarga Kristen dikehendaki Tuhan menjadi wadah orang percaya belajar dan bertumbuh “menerapkan sabda kasih Allah”. Belajar mengasihi Allah dan mengasihi sesama secara nyata, betapa pun sulitnya. Tidak dengan kebetulan Yesus mengutip dari Im. 18:19 yang lengkapnya berbunyi demikian: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.” Mengasihi sesama secara tidak pilih bulu, secara all out.

Alangkah sulitnya! Bagaimana lalu dengan mereka yang telah menipu, menghina, menyakiti, mengkhianati, menelantarkan saya? Memang sulit, dan tidak pernah di manapun dikatakan bahwa mengasihi adalah mudah. Itu sebabnya ketimbang memegangi berbagai kepastian iman tetapi menutup mata pada panggilan untuk mengasihi secara nyata, mari kita belajar untuk mengasihi. Belajar dengan rendah hati, seraya mengakui bahwa untuk itu kita butuh pertolongan. Dari Tuhan, dari orang lain.

PWS

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Berjaga-jagalah
    Matius 25:1-13
    “Santai aja, bro!”, celoteh seorang kawan. Tak apa lah. Tugas masih jauh dari dateline. “Sekarang kita happy happy dululah!”,...
  • Praktik Keagamaan yang Koruptif
    Korupsi adalah praktik yang menguntungkan diri sendiri dengan cara memanipulasi secara negatif sebuah hal. Memang, di Indonesia, terminologi korupsi...
  • Sekolah Kehidupan: Tuhanku, Rajaku!
    Mazmur 96:10a
    Katakanlah di antara bangsa-bangsa: “Tuhan itu Raja!” Apa yang mengendalikan hidup kita setiap hari? Kita bisa dikendalikan oleh agenda...
  • sekolah kehidupan
    Sekolah Kehidupan: Tuhanlah Gembalaku!
    Mazmur 23:1 Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
    Apakah saudara pernah merasa sendirian dan kesepian? Daud pernah mengalaminya. Hal yang paling tidak mudah dilalui oleh seorang adalah...
Kegiatan