Keluarga yang Menerapkan Sabda Kasih Allah

Keluarga yang Menerapkan Sabda Kasih Allah

Matius 22:34-46

Belum ada komentar 1087 Views

Banyak orang Kristen menghidupi imannya dengan memegangi erat-erat berbagai kepastian yang tak dapat ditawar-tawar. Surga ada di atas, neraka ada di bawah, dan mereka tahu persis siapa saja yang akhirnya akan ke atas atau ke bawah. Dunia diciptakan selama 6 hari atau 144 jam, tidak kurang dan tidak lebih. Tidak ada ruang untuk bertanya atau bersikap ragu-ragu. Inilah sikap para Farisi dan sang ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mat. 22:34).

Yesus memuaskan orang itu dengan mengatakan apa yang dipegangi oleh semua orang Israel: mengasihi Allah dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatan (Ul. 6:5), yang adalah bagian dari “shema Israel” (“dengarlah hai IsraelUl. 6:4). Tetapi Yesus tidak berhenti di situ, IA melanjutkan dengan mengutip Im. 18:19; mengasihi sesama seperti diri sendiri. Para Farisi dan ahli Taurat yang disapa Yesus mestinya hafal isi ayat yang dikutip Yesus itu secara lengkap.

Dengan jawaban-Nya, Yesus hendak menekankan setidaknya dua hal. Pertama, hukum yang terutama adalah “mengasihi”, mengasihi Allah dahulu, kemudian mengasihi sesama, sebagai suatu keutuhan yang tak terpisahkan. Yang kedua, mengasihi adalah kata kerja, aksi, bukan pengertian abstrak. Oleh karena itu mengasihi adalah usaha, proses belajar yang tak pernah boleh usai.

Keluarga Kristen dikehendaki Tuhan menjadi wadah orang percaya belajar dan bertumbuh “menerapkan sabda kasih Allah”. Belajar mengasihi Allah dan mengasihi sesama secara nyata, betapa pun sulitnya. Tidak dengan kebetulan Yesus mengutip dari Im. 18:19 yang lengkapnya berbunyi demikian: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.” Mengasihi sesama secara tidak pilih bulu, secara all out.

Alangkah sulitnya! Bagaimana lalu dengan mereka yang telah menipu, menghina, menyakiti, mengkhianati, menelantarkan saya? Memang sulit, dan tidak pernah di manapun dikatakan bahwa mengasihi adalah mudah. Itu sebabnya ketimbang memegangi berbagai kepastian iman tetapi menutup mata pada panggilan untuk mengasihi secara nyata, mari kita belajar untuk mengasihi. Belajar dengan rendah hati, seraya mengakui bahwa untuk itu kita butuh pertolongan. Dari Tuhan, dari orang lain.

PWS

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Jangan Tunda, Sekaranglah Saatnya
    Yunus 3:1-10; Mazmur 62:5-12; 1 Korintus 7:29-31; Markus 1:14-20
    Sudah menjadi kebiasaan di kalangan umat Yahudi, jika seseorang mau belajar tentang keagamaan, maka ia yang menentukan Rabbi yang...
  • medengarkan
    Berbicaralah Hamba-Mu Mendengarkan
    Peristiwa penyataan Allah pada Imam Eli dan Samuel, merupakan pengalaman yang langka dan mengejutkan mereka. Mengapa begitu sulit seseorang...
  • Berkenan Di Hadapan Allah
    Markus 1:4-11
    Baptisan Yesus menjadi peristiwa peneguhan yang dinyatakan Allah bukan saja bagi Yesus tetapi juga bagi setiap orang. Bagi setiap...
  • Merayakan Kebaikan Tuhan
    Yesaya 61:10-62:3; Mazmur 148; Galatia 4:4-7; Lukas 2:22-40
    Pengalaman hidup adalah pengalaman mengalami kebaikan Tuhan. Setiap hari kebaikan Tuhan dinyatakan bagi kita. Namun sering kali tidak peka...
  • Tak Pernah Ingkar Janji
    2 Samuel 7:1-11, 16; Mazmur 89:1-4, 19-26; Roma 16:25-27; Lukas 1:26-38
    Sempurnalah kabar baik itu dengan berita tentang kelahiran Yesus. Allah yang menjadi manusia. Ini adalah fakta yang menggemparkan. Peristiwa...
Kegiatan