Keluarga Kristen = Keluarga yang Tepat Menentukan Prioritasnya

Keluarga Kristen = Keluarga yang Tepat Menentukan Prioritasnya

1 Raja-raja 17:8-16

Belum ada komentar 63 Views

Amat sulit pilihan yang dihadapi sang janda dari Sarfat. Bila ia menuruti permintaan Elia, satu-satunya jaminan baginya bahwa ia dan anaknya akan dapat makan, adalah janji Tuhan. Artinya bila janji Tuhan ditepati tidak akan ada persoalan, tetapi bila ternyata janji itu meleset, maka tak ada lagi apa pun untuk dimakan. Sedangkan kalau ia tak menuruti permintaan Elia, setidaknya ia dan anaknya masih akan dapat makan walau cuma sekali. Ternyata sang janda dari Sarfat memutuskan untuk memenuhi permintaan Elia. Lalu terjadilah apa yang dijanjikan Tuhan, segenggam tepung dan sedikit minyak itu tak pernah berkurang sehingga sang janda, anaknya, bahkan Elia sendiri dapat terus makan.

Sungguh indah dan ideal kisah ini. Inilah yang biasa kita sebut sebagai keputusan iman. Dan sebagai orang percaya, kita mengamini keputusan sang janda dari Sarfat itu sebagai keputusan yang tepat. Namun pertanyaannya adalah: akan tetap indah dan idealkah kisah itu bila tokohnya adalah kita sendiri? Kita pun dalam hidup kita masing-masing, sering dihadapkan pada pilihan-pilihan, termasuk pilihan iman. Dan tidak jarang dalam situasi itu kita cenderung untuk tidak mengindahkan apa yang indah dan ideal sebagai orang Kristen, melainkan kita mementingkan apa yang termudah dan ternyaman bagi diri kita sendiri.

Dari kisah sang janda dari Sarfat, kita dapat belajar bahwa ada banyak hal dalam hidup kita yang tidak hanya menyangkut diri kita sendiri atau bersifat menentukan pada saat tertentu saja, tetapi menyangkut juga hidup bahkan nasib orang lain atau menentukan bagi masa yang akan datang. Keputusan sang janda untuk memenuhi permintaan Elia adalah contoh idealisme yang pada zaman yang ditandai oleh konsumerisme dan individualisme ini kurang laku. Apalagi yang menjadi dasar pertimbangan sang janda hanyalah iman, atau kepercayaan bahwa Allah akan menepati janji-Nya, bukan hal-hal yang dapat diperhitungkan secara empiris! Menuruti norma zaman ini, memang sulit untuk dapat mengerti keberanian sang janda dari Sarfat untuk mempertaruhkan sedikit minyak dan segenggam tepung terakhir yang dipunyainya bagi Elia.

Tetapi itulah maknanya percaya. Percaya itulah yang membuat sang janda dari Sarfat memutuskan untuk berani mempertaruhkan sedikit minyak dan segenggam tepung terakhirnya. Kisah sang janda dari Sarfat ini seyogyanya menjadi cermin bagi kita masing-masing dalam segala segi kehidupan pribadi kita, mau pun dalam keluarga kita. Maka pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri kita dan keluarga kita masing-masing, sebenarnya sederhana saja: “mengingat semua berkat dan janji Tuhan bagi kita, beranikah kita memprioritaskan kehendak-Nya?

PWS

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • dosa
    Tidak Berdosa Lagi
    Kisah Para Rasul 3:12-19; Mazmur 4; 1 Yohanes 3:1-7; Lukas 24:36-48
    Manusia kenal dosa sejak ia jatuh ke dalam dosa. Keinginan untuk berbuat dosa dan harapan untuk meninggalkan dosa bagaikan...
  • damai sejahtera
    Damai Sejahtera Bagi Kamu!
    Kisah Para Rasul 4:32-35; Mazmur 133; 1 Yohanes 1:1-2:2; Yohanes 20:19-31
    Istilah hoax semakin tenar beberapa tahun belakangan ini. Arti hoax adalah berita bohong atau malicious deception, kebohongan yang dibuat...
  • Hilanglah Cemasku!
    Yesaya 25:6-9; Mazmur 118:1-2, 14-24; Kisah Para Rasul 10:34-43; Markus 16:1-8
    Kecemasan dapat menyerang siapa saja ketika rasa aman terampas, ketidak mengertian menyelimuti pikiran, dan menghadapi situasi yang tidak terduga....
  • cari selamat
    Cari Selamat?
    Markus 15:6-15
    Sejak kecil kecenderungan kita, memang cari selamat. Supaya tidak dimarahi karena menjatuhkan piring kesayangan ibunya, seorang anak sembunyi tangan....
  • segenap hati
    Dengan Segenap Hati?
    Yohanes 12:20-33
    Saat saya studi, saya bertemu dengan seorang pemimpin aliran UU. “Jadi, siapa Tuhan Yesus menurut aliranmu?” “Yesus itu, Guru...
Kegiatan