Jangan Takut, Percayalah!

Markus 4:35-41

Belum ada komentar 175 Views

Setiap orang memiliki ketakutannya masing-masing. Para psikolog mendeteksi beragam ketakutan yang bahkan daftarnya mencapai lebih dari 500 jenis ketakutan (phobia). Mulai dari ketakutan yang jamak dijumpai sampai dengan langka; mulai dari yang masuk akal hingga yang terasa aneh. Bayangkan, jika seorang suami dan istrinya memiliki phobia yang kebetulan saling merugikan. Si suami memiliki phalacrophobia (ketakutan menjadi botak) dan si istri memiliki peladophobia (ketakutan pada orang yang botak). Atau, seorang calon pendeta yang memiliki calon pasangan hidup yang memiliki hierophobia (ketakutan pada pendeta). Aneh dan konyol bukan?

Namun, terlepas dari semua phobia yang individual sifatnya, ada ketakutan yang lebih umum sifatnya, yang muncul dari kesadaran akan keterbatasan manusia. Contohnya: kematian! Para psikolog menamainya thanatophobia. Kisah Injil minggu ini berbicara tentang ketakutan kolektif yang dialami oleh para murid, yang saat itu tengah berada di dalam perahu bersama dengan Yesus yang tidur. Ombak ganas mengamuk dan sebagai orang-orang yang akrab dengan perairan—sebab banyak di antara para murid yang berprofesi sebagai nelayan—mereka tahu persis bahwa kematian tengah mengancam. Mereka mengajukan protes pada Yesus yang tertidur dan berteriak, “”Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” (ay. 38).

Lalu Yesus pun bangun. Ia mengenali ketakutan para murid itu, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (ay. 40). Sangat menarik respons Yesus. Ia tidak sekadar melihat ketakutan pada kematian itu sebagai persoalan psikis (Mengapa kamu begitu takut?). Yesus mendeteksi adanya persoalan spiritual (Mengapa kamu tidak percaya?). Di hadapan batas hidup-mati, kita dipaksa untuk mengakui bahwa kita bukan hanya memiliki masalah psikis namun juga spiritual.

Pada hari Minggu ini, GKI Pondok Indah merayakan ulang tahunnya sebagai sebuah jemaat yang dewasa. Hari ini, kita diundang untuk secara pribadi menghadapi ketakutan kita secara pribadi, namun juga mengakui ketakutan kolektif kita—apa pun itu. Tampaknya kita dipaksa pula untuk mengakui bahwa ketakutan kita lebih merupakan persoalan spiritual, yaitu seberapa jauh kita memercayai Allah di dalam Kristus melalui kuasa Roh Kudus yang melampaui semua penyebab ketakutan kolektif kita. Hanya dengan jalan itu, kita dapat belajar kembali menjadi sebuah komunitas iman dan pewarta kehidupan. Selamat ulang tahun!

ja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Hidup Adalah Ujian!
    Markus 1:9-15
    Istilah kawah Chandradimuka sering dipakai untuk memberi gambaran tentang ladang tempaan atau tempat uji bagi seseorang. Kawah ini diambil...
  • Wajahku, Wajahmu, Wajah Kristus
    Markus 9:2-9
    Isi hati seseorang biasanya nampak dari wajahnya. Orang lain biasanya mampu membacanya. Muka sedih, muka gembira, muka nyinyir, muka...
  • HOMO HOMINI SALUS
    Homo Homini Salus
    1 Korintus 9:16-23
    Hitam atau putih? Warna hitam biasa dipakai untuk menyimbolkan perilaku jahat dan kejam, sedang putih untuk sikap dan tindakan...
  • tentang Allah
    Bukan tentang Aku atau Kamu, tapi tentang Allah
    Ulangan 18:15-20; Mazmur 111; 1 Korintus 8:1-13; Markus 1:21-28
    Sesuatu yang biasa, jika dalam hidup bersama di suatu komunitas, ada orang-orang yang ingin menonjolkan diri atau ingin dianggap...
  • Jangan Tunda, Sekaranglah Saatnya
    Yunus 3:1-10; Mazmur 62:5-12; 1 Korintus 7:29-31; Markus 1:14-20
    Sudah menjadi kebiasaan di kalangan umat Yahudi, jika seseorang mau belajar tentang keagamaan, maka ia yang menentukan Rabbi yang...
Kegiatan