Engkau Tidak Jauh dari Kerajaan Allah!

Engkau Tidak Jauh dari Kerajaan Allah!

4 Komentar 59 Views

Mengapresiasi orang yang berbeda dengan kita sungguh bukan perkara mudah. Apalagi jika ia berada dalam kelompok besar yang hampir selalu berseberangan dengan kita. Namun, itulah yang Yesus lakukan terhadap seorang ahli Taurat yang berdiskusi dengan-Nya. Ahli Taurat itu mulai dengan bertanya tentang hukum manakah yang paling utama. Dan jawaban yang Yesus berikan adalah Hukum Kasih. Versi Matius tidak melanjutkan percakapan mereka berdua, sedang versi Lukas melanjutkannya dengan kisah orang Samaria yang baik hati. Versi Markus secara unik memberi ruang bagi percakapan antara Yesus dan ahli Taurat itu.

Setelah Yesus berbicara tentang Hukum Kasih, ahli Taurat itu—secara mengejutkan—mengamini ucapan Yesus. Terhadap jawaban bijaksana ahli Taurat itu Yesus berkata, ”Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”

Ini kali pertama saya menyadari perbedaan perlakuan Yesus terhadap ahli Taurat itu di dalam Injil Markus. Yang paling sering kita baca adalah versi Matius. Padahal versi Markus ini memberi perspektif unik yang mempertontonkan sikap Yesus yang sungguh mampu menghargai dan terbuka pada mereka yang berbeda dengan-Nya.

Alih-alih berkata “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” kita lebih suka berkata pada mereka yang berbeda iman dengan kita, “Engkau sungguh jauh dari Kerajaan Allah!” Entah diucapkan, entah hanya di dalam hati. Kita lebih suka memakai apa yang dalam teori permainan disebut zero-sum game: Jika saya menang, kamu harus kalah; jika saya kalah, maka kamu menang. Tak mungkin keduanya menang. Pola berpikir zero-sum game ini sangat merasuki cara beragama banyak orang Kristen, hingga tertutuplah pintu keterbukaan bagi yang lain. Kalimat “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” absen dari mulut dan hati kita, justru karena kekuatiran bahwa ketika kita mengucapkannya, maka jangan-jangan itu berarti, “Saya sungguh jauh dari Kerajaan Allah!”

Ketika ada seorang yang berkata, “Mengasihi Allah dan mengasihi sesama ternyata jauh lebih penting dari semua ritus dan doktrin agama” (Mrk. 12:32-33), mampukah kita berkata tulus padanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”?

[ja]

4 Comments

  1. afer dirk malanguna

    Yang patut kita sepakati dulu adalah: apakah ‘Kerajaan Allah’ setidaknya dalam pemahaman penulis di atas…..? Bicara ttg Kerajaan Allah, maka mau tidak mau, kita akan memasuki sebuah dimensi rohani yang sangat subyektif……Maksud saya…ya…..Kerajaan Allah adalah sebuah ‘iman’ yang saya yakini sebagai satu ‘imbalan’ keyakinan saya kepada YESUS plus ketaatan saya pada firmanNYA…..Kalau ‘itu’ yang penulis maksudkan, maka, otomatis saya ingin menyatakan kata TIDAK SETUJU saya terhadap ‘statement’ : …. Alih-alih berkata “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” kita lebih suka berkata pada mereka yang berbeda iman dengan kita, “Engkau sungguh jauh dari Kerajaan Allah!” ……..Mengapa saya tdk setuju? Dalam kasus ini, mari kita kesampingkan kamus toleransi atau apapun yang ingin memancing kita untuk berpikir ‘netral’ , ‘memahami’…etc……Dalam Alkitab yang saya baca sejak kecil ditambah berbagai pengetahuan non formal saya di bidang ini, saya memahami bahwa HANYA melalui YESUS orang memperoleh KERAJAAN ALLAH…..(saya tidak perlu menulis ayat2 Alkitab sebagai pendukung, krn saya yakin, bahkan kita mungkin bisa menghapal di luar kepala bpr ayat ttg itu)…INilah yang saya sebut sbg subyektivitas……NAMUN….. saya ingin dipahami bahwa sikap saya seperti ini bukanlah sebuah sikap penolakkan terhadap toleransi, perdamaian, hidup bersosial dst…….BAHKAN…..saya dengan TEGAS mengatakan bahwa, sikap2 toleransi, damai, mengalah (untuk melengkapi, bisa dilihat di Galatia 5…..) adalah aplikasi dari ajaran Yesus. Artinya, semua itu HARUS kita lakukan. Hanya saja, JANGAN krn alasan yang saya sebutkan di atas, kt lantas rela berada di ‘zona abu-abu’…………Salam Damai…..!

  2. Joas Adiprasetya

    Sdr, Afer yg baik.
    Terima kasih untuk tanggapannya. Saya berusaha keras untuk memahami inti pendapat Anda. Berbeda dengan cara pandang Anda yang menyatakan bahwa Kerajaan Allah itu subjektif, saya justru menegaskan bahwa ia adalah realita yang objektif. Yang subjektif adalah konsep yang kita bangun tentang Kerajaan Allah. Dan di sini kita bisa dan sah-sah saja untuk berbeda. Dan tidak seperti yang Anda nilai atas tulisan saya, justru saya menegaskan bahwa keselamatan itu memang hanya melalui Yesus Kristus. Namun, justru karena iman di dalam Kristus itulah maka saya berani menegaskan perenungan yang saya di atas. Gereja Kristen sejak awal berdirinya tak pernah menganut eksklusivisme. Bapa-bapa gereja selalu mengajarkan inklusivisme; justru karena ketaatan dan iman pada Kristus yang di dalam dan melalui-Nya segala sesuatu diciptakan.

    Tulisan saya di atas tidak kena-mengena sama sekali dengan urusan toleransi. Justru saya hendak menegaskan refleksi atas keyakinan iman saya. Anyway, terima kasih untuk responnya. Salam.

  3. torkis ropinda

    pak joas,
    thanks untuk sharenya.
    saya ingin tau lebih lanjut, apakah pesan markus dan matius untuk kisah yang sama ini berbeda?
    apakah kisah ini (baik di markus maupun matius) tidak memiliki pesan tunggal?
    jika pesannya tidak tunggal (tergantung perspektif / maksud masing2 penulis), apakah kisah ini bisa dikatakan masih memiliki unsur obyektivitas?
    salam

  4. Joas Adiprasetya

    Dalam studi injil-injil, khususnya injil-injil sinoptis (Matius, Markus dan Lukas–Yohanes tidak termasuk), ada dua pendekatan umum. Pertama, menemukan pesan bersama ketiga injil; kedua, menemukan pesan unik tiap-tiap injil. Keduanya ok-ok saja dikerjakan. Untuk pendekatan pertama, kita bisa mengatakan bahwa ketiga versi ingin menuturkan perintah kasih yang dominan di dalam pengajaran dan hidup Yesus. Tapi pendekatan kedua juga sangat bermanfaat untuk menunjukkan perspektif unik setiap penulius injil. Apa yang ada di satu injil dan tidak ada di dua injil lainnya menjadi indikator bahwa yang unik itu memang secara sengaja ingin ditonjolkan oleh si penulis. Renungan saya di atas memakai pendekatan yang kedua, sebenarnya.

    Pendekatan kedua ini bisa mengatasi keterbatasan dari pendekatan yang pertama, yang cenderung mereduksi pesan yang kaya dari injil-injil. Tapi, pendekatan pertama juga sangat bermanfaat bagi usaha kita untuk menemukan siapa Yesus dan apa ajaran-Nya menurut injil-injil. Semoga bisa membantu.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Mengampuni itu Indah
    Kejadian 50: 15-21, Mazmur 103: 1-13; Roma 14: 1-12; Matius 18: 21-35
    Seorang ibu dari Afrika Selatan, Joyce Ledwaba mengampuni pembunuh anaknya – Samuel yang berusia 17 tahun – Samuel menghilang...
  • besar hati
    Allah yang Besar Hati
    Yehezkiel 33:7-11; Mazmur 119:33-40; Roma 13:8-14; Matius 18:15-20
    Alih-alih menghendaki hal buruk (kematian) terjadi kepada orang berdosa, Allah lebih berkenan agar pertobatan terjadi dalam hidup mereka (Yehezkiel...
  • Kasih itu tidak Berpura-pura
    Yeremia 15:15-21; Mazmur 26:1-8; Roma. 12:9-21; Matius 16:21-28
    Kalimat ‘Hendaklah kasih itu jangan pura-pura’ (Roma 12:9). Dalam International Standard Version ditulis demikian: “Your love must be without...
  • Peduli : Mengutamakan Kepentingan Orang Lain
    Lukas 10:25-37
    Si ahli Taurat bertanya: ‘Siapa sesamaku’? Yesus bertanya: ‘Siapa sesamanya’? Kelihatannya sama, tetapi jauh berbeda. Yang satu tertutup (sesamaku)...
  • inisiatif
    Partisipatif : Berinisiatif
    Markus 2:1-12
    Wow..kembali sebuah kisah tentang keterbukaan Yesus. Ia menerima cara orang menghampiriNya, meski tidak lazim. Melalui atap! Bukankah tiap orang...
Kegiatan