“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat’.’ (Lukas 5:32)
Bagi seorang dog lover, kehadiran seekor anjing akan membuat matanya berbinar-binar. Sebaliknya, seseorang yang takut pada anjing akan panik dan menghindar ketika melihat seekor anjing. Demikian pula, bagi seseorang yang gemar berenang, melihat kolam renang membuatnya ingin segera menceburkan diri ke dalamnya. Sementara itu, bagi orang yang takut air, kolam renang bagaikan bahaya yang siap mencelakakannya.
Gambaran di atas dapat menolong kita memahami betapa, bagi seseorang, sekadar memikirkan tindakan korupsi atau perselingkuhan saja sudah membuatnya gemetar. Padahal, bagi orang lain, melakukan hal-hal tersebut terasa biasa saja. Rasa takut ketahuan sudah nyaris lenyap dan rasa bersalah pun bisa diabaikan. Waduh! Itulah sebabnya Tuhan Yesus hadir dalam perjamuan di rumah Lewi. Bukan semata-mata untuk mengembalikan rasa bersalah para pemungut cukai dan orang berdosa lainnya, melainkan juga untuk menyemangati mereka agar hidup benar. Tuhan Yesus menegaskan bahwa mereka bisa bertobat dari kesalahan mereka. Lewi adalah contohnya.
Dibandingkan dengan para pendosa di atas, bisa jadi kita merasa lebih baik. Namun, kita juga adalah orang berdosa. Mungkin dosa kita terasa kecil atau sepele. Namun, di hadapan Tuhan, dosa tetaplah dosa. Itu sebabnya Tuhan Yesus mencari orang berdosa dan mengajaknya bertobat. Kita juga dinanti-Nya! [Pdt. Timur Citra Sari]
REFLEKSI:
Bertobat adalah proses seumur hidup.
Ayat Pendukung: 1 Sam. 15:34-16:13; Mzm. 27:1-6; Luk. 5:27-32
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.

Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.