Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia.” (Yohanes 13:31)
“Rasa sakit terburuk di dunia yang melampaui fisik, bahkan lebih jauh daripada rasa sakit emosional lainnya yang dapat dirasakan seseorang adalah pengkhianatan seorang teman,” demikian bunyi sebuah kalimat bijak. Tentu saja, dikhianati oleh orang yang selama ini dekat dengan kita atau yang sangat kita percayai sangatlah menyakitkan dan menimbulkan luka yang dalam.
Dalam Yohanes 13:21-32, Yesus dengan hati yang hancur mengungkapkan bahwa salah satu murid-Nya akan mengkhianati-Nya. Yudas, yang telah bersama-Nya selama bertahun-tahun, memilih meninggalkan terang dan masuk ke dalam kegelapan. Namun, yang luar biasa adalah respons Yesus: la tidak marah, tidak menyimpan dendam, dan tetap setia pada rencana Allah. Di tengah pengkhianatan, Yesus berbicara tentang kemuliaan yang akan datang di balik peristiwa ini (ayat 31-32). la tidak membiarkan kepahitan menguasai-Nya, tetapi tetap berfokus pada tujuan-Nya: menyatakan kasih Allah kepada dunia.
Mungkin saat ini kita sedang merasa dikhianati, disakiti, atau dikecewakan oleh orang yang dekat dengan kita atau yang kita percayai. Ketika mengalami pengkhianatan, kita memiliki dua pilihan: terjebak dalam kekecewaan atau percaya bahwa Tuhan sedang bekerja. Jangan biarkan luka hati membuat kita kehilangan iman. Tuhan sanggup mengubah setiap air mata menjadi kesaksian, setiap pengkhianatan menjadi kemenangan, dan setiap kegelapan menjadi terang. [Pdt. Jotje H. Karuh]
DOA:
Tuhan, mampukan kami untuk tetap tegar melakukan kehendak-Mu dan memuliakan nama-Mu walau di tengah kekecewaan. Amin.
Ayat Pendukung: Yes. 50:4-9a; Mzm. 70; Ibr. 12:1-3; Yoh. 13:21-32
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.