Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikuti Yesus. (Yohanes 1:37)
Siapakah guru Sekolah Minggu yang masih kita ingat sampai sekarang? Apa saja yang kita ingat tentang dirinya? Apakah ada cerita atau pengajaran yang masih tersimpan dalam ingatan hingga kini?
Guru Sekolah Minggu, bagi kebanyakan dari kita adalah orang-orang pertama (selain orangtua, tentu saja) yang memperkenalkan kita pada kekristenan. Mereka menceritakan kisah-kisah Alkitab, mengajarkan tata cara beribadah, serta mengajarkan bagaimana hidup sebagai orang Kristen. Melalui ajaran dan teladan hidup mereka, kita mendapatkan gambaran tentang arti “menjadi Kristen”. Seiring bertambahnya usia, kita “lulus” dari Sekolah Minggu dan melanjutkan ke jenjang berikutnya. Dengan “kelulusan” tersebut, tanpa disadari kita “melupakan” guru-guru Sekolah Minggu kita. Waduh!
Meskipun berbeda, pengalaman ditinggalkan murid juga pernah dialami oleh Yohanes Pembaptis. Sebelum Tuhan Yesus mulai mengajar, Yohanes Pembaptis telah lebih dahulu memiliki murid-murid. Namun, Yohanes Pembaptis tahu bahwa murid-muridnya bisa belajar lebih banyak dari Tuhan Yesus. Itulah sebabnya ia menganjurkan para muridnya untuk mengikuti Tuhan Yesus. Apakah Yohanes Pembaptis tidak merasa ditinggalkan dan dilupakan? Mungkin saja. Namun, Yohanes Pembaptis tidak memikirkan dirinya sendiri. la memikirkan yang terbaik bagi murid-muridnya. Luar biasa! Yuk, kita ucapkan terima kasih kepada Yohanes Pembaptis dan para guru Sekolah Minggu di gereja! [Pdt. Timur Citra Sari]
REFLEKSI:
Tuhan Yesuslah yang harus makin besar. Bukan aku!
Ayat Pendukung: Yes. 49:1-7; Mzm. 40:1-11; 1 Kor. 1:1-9; Yoh. 1:29-42
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.

Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.