Ada seorang anak muda yang merantau. Awalnya penuh semangat, tapi karena kegagalan, tekanan, dan rasa kecewa… dia memilih pulang. Saat sampai rumah, anehnya dia berkata: “Aku sudah pulang, tapi kenapa hatiku masih kosong? ”Ternyata… pulang secara fisik tidak selalu berarti pulang secara hati. Itulah yang dialami dua murid (Kleopas dan temannya) dalam perjalanan ke Emaus.
Mereka pulang secara fisik tapi hatinya menjauh dari Tuhan. Dua murid ini berjalan ke Emaus karena kecewa. Mereka berkata: “Padahal kami dahulu mengharapkan…”( ayat 21).
Ketika Yesus mati, mereka merasa semuanya selesai. Harapan Mereka hancur. Namun mereka tak menyadari Yesus bangkit dan berjalan bersama mereka. Mereka tidak mengenali-Nya. Ini sering terjadi dalam hidup kita. Kita pikir Tuhan jauh. Padahal Dia sedang berjalan di samping kita. Sampai akhirnya dua murid itu berkata: “Tinggallah bersama kami…” Di situlah segalanya berubah. Disitulah titik baliknya. Bukan ketika masalah selesai. Bukan ketika jalan berubah tetapi ketika mereka mengundang Yesus tinggal bersama mereka. Waktu Yesus memecahkan roti dan memberikan kepada mereka, mata mereka terbuka. Bukan karena keadaan berubah tetapi karena perjumpaan dan penyatuan dengan Kristus. Menyatu dengan Kristus bukan hanya tahu tentang Yesus tapi hidup bersama Yesus. Seperti ranting yang melekat pada pokok anggur (Yohanes 15:5).
Dua murid itu berubah karena Yesus tidak hanya berjalan di samping mereka tetapi masuk dan tinggal dalam hidup mereka. Orang yang menyatu dengan Kristus pasti mengalami perubahan arah hidup. Di hari Paska ini, apakah kita sudah menyatu dengan Kristus. Mari katakan seperti dua murid itu: “Tuhan, tinggallah bersama aku.” Karena saat Yesus tinggal dalam kita, kita tidak hanya pulang… kita menemukan rumah yang sejati di dalam Kristus. Selamat Paska. Amin (LS)

Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.