Kristus: Rumah yang Dituju

Matius 21:1–11; Mazmur 118

Belum ada komentar 9 Views

Orang banyak menghamparkan jubah. Mereka memotong ranting. Mereka berseru, “Hosana!” Suasananya riuh. Penuh harapan. Seperti seseorang yang akhirnya melihat pemimpin yang ditunggu-tunggu datang memasuki kota.

Namun Yesus memilih keledai. Bukan kuda perang. Bukan arak-arakan kemenangan seperti yang mungkin mereka bayangkan. Ada ketegangan di sana. Antara ekspektasi dan cara Allah bekerja.

Beberapa hari kemudian, Yesus masuk ke Bait Allah dan membalikkan meja-meja penukar uang. Tindakan itu keras. Tidak sopan menurut ukuran tertentu. Tetapi Ia sedang menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Rumah Allah telah dipenuhi suara yang bukan suara doa. Tempat perjumpaan berubah menjadi ruang transaksi.

Saya sering bertanya dalam hati, kalau Yesus masuk ke “bait” hidup saya, meja apa yang mungkin Ia balik? Aktivitas rohani bisa berjalan. Liturgi bisa tertata. Namun hati pelan-pelan sibuk dengan hal lain.

Injil Yohanes kelak menyebut bahwa Yesus sendiri adalah Bait itu. Bukan bangunan yang menjadi pusat, melainkan pribadi-Nya. Di dalam Dia, manusia dan Allah bertemu tanpa perantara meja apa pun.

Minggu Palma selalu terasa seperti gerbang. Orang-orang bersorak, tetapi kita tahu jalan di depan-Nya menuju salib.

Mungkin pulang bukan sekadar menyambut Dia dengan daun palma. Mungkin pulang berarti membiarkan Dia menata ulang rumah batin kita, meski itu membuat tidak nyaman. Jika Kristus benar-benar adalah rumah yang Anda tuju, bagian mana dari hidup Anda yang perlu Ia bersihkan agar Anda sungguh-sungguh tinggal di dalam-Nya? (ASC)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu