Ada satu kalimat pendek di kisah Lazarus yang selalu terasa berat: “Yesus menangis.” Ia tahu Lazarus akan dibangkitkan. Ia tahu akhir cerita Lazarus bukan kubur. Namun ketika melihat Maria menangis, ketika mendengar ratapan orang-orang di sekitar, Ia tidak berdiri jauh sebagai pengamat. Ia ikut larut. Ia juga menangis.
Lazarus disebut sebagai “dia yang Engkau kasihi.” Menarik. Identitasnya diikat pada relasi, bukan pada penyakitnya. Ia bukan pertama-tama orang sakit. Ia adalah orang yang dikasihi. Saya sering berpikir, kalau Yesus tahu akan membangkitkan Lazarus, mengapa Ia tidak datang lebih cepat? Mengapa membiarkan kematian lebih dulu terjadi? Pertanyaan itu terasa terlalu dekat dengan hidup kita sendiri. Ada doa yang kita panjatkan, tetapi jawabannya seperti tertunda. Ada kehilangan yang tetap terjadi, meski kita percaya Allah sanggup mencegahnya. Yesus berdiri di depan kubur dan berseru, “Lazarus, marilah keluar!” Ia memanggil dengan nama. Ia tidak memanggil secara umum. Seolah-olah Ia ingin memastikan tidak ada satu pun yang tertukar.
Kematian bukan rumah terakhir. Namun sebelum sampai pada kebangkitan, ada ruang duka yang tidak dihindari. Pulang bukan berarti kita tidak pernah menangis. Pulang berarti kita tahu kepada siapa kita kembali, bahkan ketika kubur terasa terlalu nyata. Dalam kehilangan atau kekecewaan yang sedang Anda alami, masihkah Anda percaya bahwa Anda tetap disebut sebagai “yang dikasihi”? (ASC)




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.