Bangsa itu berbantah dengan Musa, katanya, “Andai saja kami binasa pada waktu saudara-saudara kami binasa di hadapan TUHAN!” (Bilangan 20:3)
Sepasang suami istri mengidam-idamkan hadirnya buah hati. Akhirnya, setelah delapan tahun berdoa dan berupaya, mereka dianugerahi seorang anak. Pada awalnya, mereka merasa bersukacita dan bersyukur karena Tuhan menjawab doa mereka. Seiring berjalannya waktu, mereka menghadapi kesulitan dalam mendidik anak. Mereka pun berkeluh kesah dan merasa kesal, bertanya mengapa Tuhan memberikan anak yang sulit diatur.
Bangsa Israel bersukacita saat keluar dari Mesir, tetapi kemudian berkeluh kesah dan bersungut-sungut ketika menghadapi kesulitan di padang gurun. Bahkan, mereka berpendapat bahwa lebih baik tinggal dijajah di Mesir daripada hidup sulit di padang gurun. Bangsa Israel menjadi bangsa yang tidak tahu berterima kasih. Itulah sifat manusia: sering kali tidak merasa puas. Saat menghadapi tantangan, manusia lupa akan kebaikan yang menyertai hidupnya. Mereka bersungut-sungut, tidak bersyukur, dan tidak tahu berterima kasih. Sering kali, kita hanya menginginkan hal- hal yang menyenangkan. Kita lupa bahwa di dalam setiap kebaikan pun terselip tantangan.
Kita mungkin pernah mengalami masa ketika kita bersyukur dan bersukacita karena apa yang kita inginkan tercapai. Namun, setelah hal itu tercapai, kita justru menghadapi tantangan tertentu. Sukacita itu pun bisa mendadak hilang dan berganti dengan sungut-sungut, penyesalan, bahkan membuat kita terjebak dalam sikap tidak mau bersyukur. [Pdt. Cordelia Gunawan]
REFLEKSI:
Bersyukurlah dan hadapi tantangan. Jangan mudah berputus asa.
Ayat Pendukung: Yeh. 18:19-24; Mzm. 25:1-9; Mrk. 11:27-33
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.