Petrus baru saja mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Namun ketika Yesus mulai menjelaskan bahwa la harus pergi ke Yerusalem, menderita, dibunuh, dan dibangkitkan, Petrus menarik-Nya ke samping dan menegur-Nya. la menerima gelar Mesias, tetapi menolak jalan yang akan ditempuh Sang Mesias.
Jawaban Yesus terdengar sangat keras: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku.” Namun ada detail yang mudah terlewat. Secara harfiah Yesus berkata, “Pergilah ke belakang-Ku.” Sesudah itu la berkata kepada para murid, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Ungkapan “di bclakang-Ku” muncul kembali.
Petrus telah berpindah tempat.Seorang murid semestinya berjalan di belakang gurunya, tetapi Petrus maju ke depan dan mencoba menentukan jalan bagi Yesus. la menginginkan kemuliaan tanpa penderitaan, kemenangan tanpa penyerahan diri. Yesus menyuruhnya kembali ke tempat seorang murid: di belakang Sang Guru.
Di sanalah makna menyangkal diri mulai terlihat. Yesus tidak mengajarkan kebencian terhadap diri sendiri. la meminta para murid melepaskan tuntutan untuk mengendalikan jalan-Nya dan menjadikan keselamatan diri sebagai ukuran tertinggi. Salib pada masa itu juga bukan sebutan bagi setiap kesulitan kecil. Salib adalah alat kekuasaan Romawi untuk mempermalukan dan mematikan. Memikul salib berarti tetap setia kepada jalan Kristus sekalipun kesetiaan itu menuntut harga.
Karena itu, teks ini tidak boleh dipakai untuk menyuruh korban kekerasan bertahan dalam penindasan. Salib bukan pembenaran bagi penderitaan yang dipaksakan orang lain. Salib adalah bentuk kehidupan yang mengikuti Yesus: berani kehilangan keuntungan, status, atau rasa aman demi kasih dan kebenaran Allah.
Kita biasanya meminta Yesus memberkati jalan yang sudah kita pilih. Dalam perikop ini, Yesus memanggil kita kembali ke belakang-Nya. Kita mungkin tidak melihat seluruh jalan dan tidak memperoleh jalan pintas. Namun kita mengikuti Dia yang berjalan menuju salib dan kebangkitan. Di belakang-Nya, kehilangan bukan kata terakhir. (ASC)




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.