Siapa saja yang menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan siapa yang menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. (Matius 10:40)
Pada masa kini media sosial berkembang menjadi ajang penyaringan. Kita bebas menyaring siapa yang ingin kita ikuti atau siapa yang kita anggap layak disambut. Pada umumnya orang yang populer lebih disambut daripada orang yang tidak populer.
Yesus menantang kita untuk menyambut orang yang dianggap tidak penting karena di dalam mereka pun ada wajah Kristus. Yesus berkata, “Siapa saja yang menyambut kamu, ia menyambut Aku.” Kalimat ini diucapkan ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk membawa kabar baik kepada orang banyak. Mereka pergi tanpa bekal. Mereka mengandalkan kebaikan hati orang-orang yang akan mereka temui. Yesus memberi jaminan bahwa siapa pun yang menyambut mereka sebenarnya menyambut Dia sendiri. Menyambut sesama bukan hanya soal keramahan sosial, tetapi pengakuan bahwa Tuhan hadir lewat mereka. Sesungguhnya Allah memakai perjumpaan antarmanusia sebagai ruang di mana kasih-Nya bekerja. Saat menyambut orang lain, kita sedang membuka pintu bagi Tuhan.
Di zaman ini, kita sibuk dengan gadget dan pelbagai kegiatan pribadi. Akibatnya, kita semakin jarang melihat orang lain sebagai sesama, padahal Yesus bisa hadir dalam banyak rupa sesama di sekitar kita. Maukah kita menyambut mereka dengan tulus seperti sedang menyambut Kristus? Menyambut bukan hanya tentang sikap ramah, tetapi menerima, memperhatikan, dan menghargai keberadaan sesama, siapa pun dia. [Pdt. Sri Agus Patnaningsih]
DOA:
Ya Tuhan, bukalah hati kami bagi sesama, agar kami belajar menyambut-Mu dalam kehidupan sehari-hari. Amin.
Ayat Pendukung: Yer. 28:5-9; Mzm. 89:1-4, 15-18; Rm. 6:12-23; Mat. 10:40-42
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.