Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata..(Matius 28:17-18a)
Merasa ragu adalah hal yang manusiawi. Saat berkendara di daerah asing, kita merasa ragu apakah jalan yang kita tempuh benar atau salah. Saat pemimpin mengeluarkan kebijakan, kita ragu apakah dia cakap memimpin atau tidak. Orangtua yang melepas anaknya untuk merantau, merasa ragu apakah anaknya mampu hidup mandiri atau tidak. Ketika masalah datang menghadang, manusia pun bisa merasa ragu apakah Tuhan mau menolong.
Dalam teks Alkitab hari ini, dikisahkan bahwa Yesus menampakkan diri kepada para murid pasca kebangkitan-Nya. Para murid itu merasa ragu, apakah sosok yang mereka lihat adalah Yesus. Yesus mengetahui keragu-raguan mereka. la pun mendekati mereka dan menyampaikan pesan agar para murid pergi memberitakan Injil, meneruskan karya Yesus. Yesus tidak memarahi para murid yang mengalami keraguan. la merangkul mereka. Bahkan, la memberi kepercayaan kepada mereka untuk melakukan karya yang mulia.
Bagaimana sikap kita terhadap orang yang sedang ragu? Apakah kita menertawakannya? Sikap ragu- ragu memang bisa menjengkelkan. Namun di sisi lain, sikap ragu-ragu adalah suatu proses belajar: belajar untuk memahami, belajar untuk percaya, belajar untuk mengambil keputusan. Yesus memberi contoh bagaimana la mendekati orang yang ragu dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mau melangkah. Bagaimana dengan kita? [Pdt. Natanael Setiadi]
REFLEKSI:
Ragu-ragu bukanlah pertanda kita mesti berhenti, melainkan ancang-ancang untuk melanjutkan langkah dengan terarah.
Ayat Pendukung: Kej. 1:1-2:4a; Mzm. 8; 2 Kor. 13:11-13; Mat. 28:16-20
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.