Jalan Pulang yang Panjang

Yohanes 9:1–41

Belum ada komentar 0 View

Ia buta sejak lahir. Itu kalimat pembuka yang terasa dingin. Seolah-olah hidupnya sudah ditentukan bahkan sebelum ia sempat memilih apa pun. Orang-orang di sekitarnya lebih tertarik pada sebabnya daripada dirinya. “Siapa yang berdosa?” Pertanyaan itu terdengar teologis, tetapi sebenarnya menyakitkan.

Yesus tidak menjawab sesuai arah diskusi mereka. Ia membuat lumpur, mengoleskannya ke mata orang itu, lalu menyuruhnya pergi ke kolam Siloam. Aneh. Tidak instan. Tidak dramatis. Ia harus berjalan dalam keadaan masih buta, dengan tanah basah menempel di wajahnya.

Saya sering membayangkan momen itu. Langkahnya pasti pelan. Mungkin ada yang menertawakan. Mungkin ada yang kasihan. Mujizat ternyata tidak langsung mengubah segalanya. Setelah ia melihat, masalahnya belum selesai. Ia diinterogasi. Diperdebatkan. Diusir. Perjalanan pulang memang jarang lurus. Orang itu memulai dengan menyebut Yesus “orang.” Lalu “nabi.” Lalu “datang dari Allah.” Dan akhirnya, ketika Yesus menemuinya lagi setelah ia dibuang, ia berkata, “Aku percaya.”

Ia diusir dari komunitasnya, tetapi justru di situlah ia menemukan siapa yang benar-benar menerimanya.

Saya tidak tahu di bagian mana Anda sedang berdiri hari ini. Masih menyebut Yesus “orang”? Atau sudah berani berkata “Aku percaya”? Jalan pulang itu mungkin lebih panjang dari yang kita harapkan. Namun di setiap tahapnya, Ia tidak pernah berhenti mencari kita. Di titik mana dalam perjalanan iman Anda hari ini, dan apakah Anda berani jujur mengakuinya di hadapan-Nya? (ASC)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu