Menghidupi

Menghidupi Pertobatan

Belum ada komentar 539 Views

Pertobatan adalah hal yang umum kita dengar. Dalam pemahaman iman Kristen, kita memaknai sebuah pertobatan sebagai respon atas tindakan kasih dari Allah kepada kita, manusia. Kata ‘tobat’ adalah kata pertama yang digaungkan oleh Yohanes Pembaptis dalam Injil Matius. Kata ‘tobat’ juga menjadi kata pertama yang Yesus katakan dalam pelayanan-Nya (Mat 4:17 dan Mark 1:15). ‘Pertobatan’ juga menjadi salah satu misi pertama yang dibawa oleh kedua belas murid Yesus (Mark 6:12). Hal yang sama dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dalam perenungan kita Minggu ini. Ia tampil di padang gurun Yudea dan memberitakan ajakan untuk sebuah pertobatan. Saat itu, masa dengan jumlah banyak berkumpul untuk dibaptis oleh Yohanes, sebagai tanda pertobatan mereka.

Hal yang menarik adalah ketika sekelompok orang datang untuk ‘bertobat’ dan menerima baptisan dari Yohanes, bukannya disambut dengan baik, justru mereka dihujani dengan kata-kata yang keras, ‘ular beludak’. Apa yang membuat Yohanes mengatakan hal semacam itu kepada sekelompok orang ini? Siapakah mereka? Dalam ayat 7, dikatakan bahwa sekelompok orang ini adalah orang Farisi dan Saduki. Di mata masyarakat awam, kelompok ini mungkin dianggap memiliki status yang tinggi dalam hal keagamaan. Mereka memelihara hukum Musa, dan mengupayakan diri tidak melanggarnya. Namun nampaknya, hal ini tidak berlaku di mata Yohanes Pembaptis. Ia mengetahui betul alasan para Farisi dan Saduki ini menghampirinya. Mereka ingin dibaptis hanya agar nampak saleh dan berkenan di hadapan orang banyak. Yohanes tahu mereka kerap kali menyalahartikan hukum Musa. Mereka sering munafik dalam kehidupan praktis. Mereka kerap kali mengabaikan inti dan spirit sesungguhnya dari hukum Musa, hanya untuk menonjolkan aspek kepatuhan. Dengan dasar itulah, Yohanes mengatakan, “Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (ay 8).

Ya, mudah memang menampilkan diri sebagai orang yang bertobat. Mungkin kita melayani, hafal ayat-ayat dan kisah dalam Alkitab, handal berdebat soal pemahaman agama, dan hal semacamnya yang nampak dari luar. Namun perlu kita ingat, bahwa pertobatan sejati hanya nampak dari buahnya. Bukan buah yang sementara, dan nampak di permukaan saja, tapi buah yang benar-benar dihasilkan sebagai bukti pertobatan dan bisa menjadi berkat buat orang lain. Ada distingsi yang kadang tak nampak, antara membicarakan pertobatan, dan menghidupi pertobatan. Mari kita menghidupi pertobatan, dan hasilkan buahnya. Kiranya Tuhan memberkati kita!                                                                                                                        

ASC

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • RUMAH TANPA KEMUNAFIKAN
    Matius 22:15-22
    Dalam Matius 22:15-22, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus melalui pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Mereka memuji Yesus seolah-olah tulus,...
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...
  • Anugerah yang Mengganggu
    Matius 20:1-16
    Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang...