What if I married the wrong person

What if I married the wrong person

Belum ada komentar 77 Views

Semua orang punya obsesi menikah dengan pasangan yang ideal (menurutnya).

Tapi ideal tersebut seperti apa? Apakah indikatornya? Apakah standarnya? Contohnya bagaimana? Jika ketemu dengan orang yang tepat, secara konkret dilihat dari apanya? Apanya yang bisa dideteksi?

Masing-masing kita punya definisi, batasan-batasan, keinginan dan harapan-harapan yang berbeda-beda, meskipun sesungguhnya semua bersifat abstrak dan bukan merupakan jawab yang tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas.

Semua cenderung merupakan ideal yang kita harap bisa memenuhi keinginan-keinginan dan obsesi mendapatkan hal-hal yang menyenangkan dan memuaskan hati kita, walaupun referensi Alkitab cukup jelas anjurannya dalam memilih/menentukan kriteria dan interaksi yang diperlukan dalam hidup berpasangan sebagai suami-istri:

2 Korintus 6:14, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah yang terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan?”

• Bagaimana anak-anak TUHAN bisa berbagi dengan anak-anak kegelapan?

Efesus 5:2, ” … dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu …”

• Hiduplah di dalam kasih (karena Kristus penuh dengan kasih).

Tetapi apakah benar dan tepat hal-hal itu kita pakai sebagai pedoman? Atau justru obsesi-obsesi kita sendiri yang kita jadikan kriteria?

Pada kenyataannya, apakah kita mendapatkan yang kita inginkan, yang sesuai obsesi kita? Setelah sekian tahun menjalani kehidupan pernikahan, apakah benar kita telah menikah dengan orang yang tepat menurut ideal kita sebelumnya?

Di ruang konseling keluarga, banyak keluhan yang cukup mencengangkan disampaikan kepada konselor perihal pasangannya. “Saya kecewa, ternyata ia tidak seperti yang saya bayangkan waktu itu.” “Ia terlalu cepat berubah menjadi lain sesaat setelah pernikahan, beda dengan waktu masih pacaran dulu,” dsb.

Ketiga sahabat yang mendapat pengampunan dosa saling mengungkapkan perasaan masing-masing di surga. Mereka mengeluhkan bahwa mereka telah menikahi wanita yang salah, sehingga mereka melampiaskan ketidakpuasan mereka dengan berselingkuh (hal ini juga menjelaskan perolehan fasilitas kendaraan yang dipakai mereka saat itu).

Albert yang pernah berselingkuh sekali mendapat Alphard, Benny yang beberapa kali berselingkuh, Innova, sementara Charlie yang senantiasa berselingkuh memperoleh Katana.

Suatu hari mereka bertiga naik Alphard-nya Albert berkeliling padang. Tiba-tiba mereka melihat seseorang -yang rasanya pernah mereka kenal- melintas. Ternyata wanita itu adalah istri Albert semasa hidupnya di dunia. Albert kontan menjadi lemas dan sedih karena ia melihat istrinya hanya mengendarai sepeda motor tua.

Fakta-Fakta

  • Hasil survei menunjukkan data yang cukup mencengangkan:
  • Rata-rata 70% suami pernah berpikir untuk bercerai;
  • 70% pria Asia tidak pernah atau jarang mengatakan ‘I love You’ kepada pasangannya;
  • 67% pasangan suami-istri menganggap bahwa perasaan cinta itu sudah cukup untuk memasuki perkawinan;.
  • Di USA, 67% suami dan 41% istri berfantasi seksual dengan orang lain yang mereka kenal;
  • Banyak pasangan suami-istri berpikir: jangan-jangan saya menikah dengan orang yang salah;
  • Akibatnya: timbul perasaan tidak nyaman dan rawan konflik suami-istri.

Berikut beberapa faktor utama yang sering dipakai sebagai alasan timbulnya perasaan ‘salah pilih’ teman hidup, meskipun sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh tidak terpenuhinya ideal, obsesi dan kriteria-kriteria yang ditetapkan diri sendiri sedari semula.

Cinta: “Sejak semula, sebenarnya saya tidak mencintainya.” Saya kasihan, nggak ada pilihan lain, usia sudah lebih dari cukup, terpaksa, malu lama membujang, sering dipakai sebagai label ketika pada akhirnya ‘harus’ menikah dengannya. Benarkah?

Orangtua: “Demi orangtua saya terpaksa menikah dengannya.” Menikah karena sungkan atau hormat sama orangtua saja. Orangtua sudah mendesak dan memilihkan jodoh. Benarkah hanya karena alasan itu orang menyerahkan diri ke pernikahan tanpa mengenal, menyetujui dan mencintai calon pasangannya?

Ekonomi: “Saya kira pasangan saya sudah mapan, ternyata ia sangat bergantung pada saya secara finansial.” Keluhan ini lebih jujur mengakui kesalahtafsiran yang dilakukan sebelumnya, karena terpesona oleh penampilan atau kesan yang ditunjukkan sebagai ‘pemberi dominan’ pada waktu sebelum menikah.

Seks: “Ia bukan tipe pria idaman saya. Ia kurang macho.” Satu bukti lagi bahwa bukan persoalan itu sendiri pemicunya, tapi obsesi yang tidak terpenuhi.

Mitos: “Kalau saja saya dulu bertemu dengan orang yang mukanya mirip saya, maka pasti dialah jodoh saya yang cocok.” Sebuah takhayul yang dipakai sebagai alasan. Sebuah riset menyatakan bahwa pasangan yang seimbang lama-lama wajahnya akan mirip satu sama lain karena mereka makan, tertawa, mengalami peristiwa, menikmati hal-hal yang sama secara bersama-sama, jadi perkembangan dan kontraksi otot wajah yang dialami pun sama, sehingga menghasilkan guratan yang sama di wajah mereka. Bukan sebaliknya.

Finding The Right Person

Kembali ke pertanyaan yang tak terjawab tuntas di atas. Bagaimana memastikan bahwa yang kita temukan adalah ‘the right person’?

Menurut Anda ‘yang tepat’ itu seperti apa?

Scott Haltzman, seorang psikiatris dan penulis buku The Secrets of Happy Families, mengatakan dengan penuh keyakinan: “Kita semua menikah dengan orang yang salah.”

Kita menikah dengan orang yang salah, yang tidak sesuai dengan kriteria kita, yang berbeda dengan obsesi dan ideal kita, yang tidak sepenuhnya ‘oke’ dan meng-‘oke’-kan kita, yang sangat sedikit kita kenali. Dan tidak akan pernah berhasil kita kenali sepenuhnya, bahkan sampai akhir hayatnya sekali pun.

Kita menikah seperti membeli ‘kucing dalam karung,’ penuh ketidakpastian karena keterbatasan pengetahuan kita tentang pasangan. Dalam perjalanan, akan ada banyak perubahan, banyak perbedaan dengan pengenalan awal, dan semakin banyak yang tidak kita mengerti darinya, ….

Lalu, mengapa banyak pasangan masih tetap bertahan sampai usia senja mereka, bahkan sampai maut menjemput?

Bukan karena ketidakcocokan tersebut tak berdampak, namun upaya terus-menerus untuk mengetahui, mengerti, memahami, melakukan penyesuaian dan menerima perbedaan serta ketidaktepatan pasangan demi mencapai kecocokan dan ketepatan itulah yang menjadikan pasangan-pasangan tersebut bertahan.

Sungguh tidak mudah menerima per-bedaan pasangan dan hal itu lebih dipersulit lagi dengan berbeda-bedanya tantangan dan tuntutan sikap antara ketika masih pacaran, baru menikah dan sudah memiliki anak. Mampu melewati kesulitan-kesulitan penerimaan di tahap-tahap itulah yang memberi tiket untuk bertahan dan tetap bersama-sama sampai akhir.

Dari teropong iman Kristen, ‘the right person’ adalah mereka yang memegang, menghayati dan menjalani kehidupan mereka secara:

  • Takut, Setia, Taat dan Cinta Kepada Allah(seperti yang dikriteriakan hamba Abraham ketika mencari calon istri yang tepat buat Ishak).Sikap hidup di hadapan Allah sangatlah penting artinya bagi kehidupan berpasangan. Dalam pernikahan Kristen, fondasi keluarga dibangun melalui hubungan komunikasi segitiga antara suami, istri dan Kristus (sebagai Kepala).

    Pasangan yang terus-menerus mengupayakan hubungan yang semakin dekat dengan TUHAN akan mengalami kedekatan di antara mereka secara lebih intim.

  • Se-visi Dengan Visi Allah Bagi Keluarga. Keluarga dibentuk untuk menjadi Bait Allah di mana Allah tinggal bersama dan hidup di tengah-tengah umat-Nya. Mereka dibentuk untuk memuliakan Allah dan menampilkan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka.Karena itu Paulus berpesan agar dalam memilih pasangan, hendaknya kita mencari orang yang sama-sama anak Terang dan bukan pasangan yang tidak seimbang (2 Kor 6:14-16). Bait Allah tidak dapat dikaitkan dengan berhala.
  • Mau Hidup Sebagai Hamba Bagi Pasangannya. Tentu bukan dalam arti yang satu menuntut dan menguasai yang lain, namun lebih kepada saling menghargai, saling menghormati dan saling melayani. Saling mendahului dalam membuat kebaikan bagi pasangan, demi kemajuan dan peningkatan nilai pasangan menuju pertumbuhan bersama yang lebih mendekatkan diri kepada TUHAN.Efesus 5:22-26, “Hai istri, tunduklah pada suamimu seperti kepada TUHAN …. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat ….”

    • Kedua belah pihak mendapat mandat yang sama untuk saling melayani pasangannya, seperti halnya Kristus telah melayani mereka masing-masing.

Kunci Hidup Harmonis Pasangan Suami-Istri

Tidak ada ‘the right person’ sedari semula (ingat: Scott Haltzman). Semuanya cenderung masuk kategori ‘the wrong person’ karena begitu gue-nya kriteria ideal dan obsesi yang kita tuntut dalam menetapkan serta mendefinisikannya. ‘The right person’ adalah bentukan penyesuaian dan penerimaan, yang bukannya tidak memiliki kemungkinan gagal.

Proses menjadi ‘the right person’ membutuhkan upaya, kesediaan, keyakinan serta tekad untuk melakukan:

  • Adjustment (penyesuaian): bukan mengedepankan menang-kalah atau bahkan ‘pokoknya harus sesuai dengan kehendakku,’ tetapi mampu melihat sisi baik dari sebuah perbedaan. Bukan tidak mungkin bahwa pasangan punya ide/kebiasaan yang lebih baik sehingga menjadi sangat bijak apabila kita menerimanya sebagai ganti pemikiran kita. Kita perlu menyesuaikan diri untuk bersama-sama menggapai yang lebih baik.
  • Flexible (tidak kaku): Kecuali hal-hal yang memang hakiki, maka hal-hal lain harus diupayakan untuk memperoleh jalan tengah dan penyelesaian damai yang membawa sejahtera bagi kedua belah pihak. Jika kita terlalu kaku memegang sikap (pribadi) padahal bukan prinsip, maka kita akan menyulitkan proses pemahaman dan penerimaan kepada/oleh pasangan.
  • Learning attitude (mental pembelajaran): Kita menyadari bahwa tidak semua hal kita ketahui, mengerti dan pahami mengenai pasangan kita, karena itu hendaknya kita tidak bosan berusaha memahami pasangan dan menempatkan diri kita pada posisinya (empathy) serta mempelajari dasar pemikiran, sikap dan tindakannya. Bila upaya pertama gagal dan tidak menimbulkan pemahaman yang sama, jangan bosan untuk mengulanginya lagi hingga suatu saat menemukan sebuah simpul pemahaman yang sama, dan pada akhirnya perbedaan tersebut dapat diatasi.
  • Listening skill (keterampilan mendengarkan): Karena pada dasarnya hambatan komunikasi terbesar adalah ketidakmampuan manusia untuk mendengarkan secara cerdas, terampil dan penuh pengertian kepada orang lain, maka dalam proses menjadi ‘the right person,’ kita perlu berusaha meningkatkan keterampilan dalam mendengarkan pasangan. Tidak sekadar mendengar, tetapi mendengarkan dengan segenap perhatian dan perasaan yang tidak terbagi. Tidak menyela pembicaraan pasangan serta tidak terburu-buru menyimpulkan informasi pasangan, adalah salah satu bentuknya.
  • Serving heart (hati yang melayani): Konsep berpikir ‘yang kulakukan untuk pasanganku sebenarnya kulakukan untuk (kepentingan)-ku juga’ adalah dasar dari tumbuhnya serving heart. Pola pikir ini akan mendorong pasangan untuk melakukan yang terbaik bagi pasangannya, karena melalui hal itu kepentingannya juga akan terpenuhi secara layak. Melayani pasangan berarti mengisi tabungan emosinya, yang memungkinkan pasangan melakukan hal serupa sehingga mengisi tabungan emosi kita. Ketika pasangan saling mengisi tabungan emosi masing-masing, maka proses menuju ‘the right person’ akan semakin lancar, cepat dan ringan.
  • Thankful spirit (semangat bersyukur): Rasa bersyukur bertolak belakang dengan menuntut. Tidak ada batas alasan bagi mereka yang mau bersyukur. Namun tidak demikian halnya dengan menuntut. Sekecil apa pun kemajuan/perubahan baik dalam proses menuju ‘the right person’ sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur dan meningkatkan upaya guna menjadi lebih baik lagi. Demikian juga sikap dalam menghadapi pasangan. Sekecil, sesederhana dan seremeh apa pun upaya yang dilakukan pasangan untuk menuju ‘the right person,’ cukup menjadi alasan untuk memuji, mendorong, menghargai serta mensyukurinya secara bersama-sama agar proses tersebut menjadi lebih cepat, lebih bersemangat, lebih sukacita serta lebih optimal dalam mencapai sasarannya.

Kita harus percaya bahwa orang bisa dan harus berubah menuju ke kondisi yang lebih baik, dan menjadi pasangan yang lebih ‘cocok,’ lebih ‘tepat’ dan lebih ‘sesuai’ dengan pasangan kita. Kemauan untuk berubah dan kesediaan untuk menerima perbedaan pasangan adalah kunci utama menuju ke sana.

Penerimaan adalah attitude. Jika suami hanya menuntut istri untuk berubah menjadi seperti yang dimauinya, begitu pun sebaliknya, maka hal itu cuma pindah tempat, bukan proses menuju ‘the right person.’ Jika tuntutannya hanya seperti itu, maka seumur-umur kita akan terus dikecewakan, karena pada prinsipnya orang tidak gampang berubah.

Pada beberapa kasus, pasangan memang bisa berubah karena upayanya sendiri atau bersama pasangan, tetapi secara umum TUHAN-lah yang bisa melakukannya. Oleh karena itu, mintalah pertolongan TUHAN untuk menjalani proses tersebut.

Jadi bagaimana kalau ternyata seperti judul di atas, saya merasa menikah dengan orang yang tidak tepat? Bukankah tidak ada orang yang tepat? Memang, yang ada hanyalah orang yang berproses menjadi orang yang tepat. Cermatilah: sepanjang ciri dan perilaku pasangan masih sesuai dengan ‘the right person’ menurut teropong iman Kristen di atas, maka sebenarnya harapan masih sangat besar terbuka. Anda sudah masuk dalam dunia pernikahan. Jangan mundur. Teruslah berproses menuju ‘the right person’ dengan terus berupaya dengan giat dan dengan pertolongan TUHAN.

Just Stay In Your Marriage!

 

Sujarwo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan