Warta GKI
| ● | SURAT PENGGEMBALAAN BADAN PEKERJA MAJELIS SINODE GEREJA KRISTEN INDONESIA dalam rangka HARI ULANG TAHUN KE-22 GEREJA KRISTEN INDONESIA ”ECCLESIA REFORMATA SEMPER REFORMANDA!” Saudara-saudara anggota dan simpatisan GKI yang dikasihi Kristus, Sebagaimana sudah disampaikan melalui berbagai cara dan kesempatan, dunia dan gerakan ekumenis global pada tahun 2010 ini menyaksikan lahirnya sebuah organisasi sedunia dari gereja-gereja yang beraliran reformed, “The World Communion of Reformed Churches” (WCRC). WCRC, yang merepresentasikan sekitar 80 juta orang reformed di 108 negara, oleh kasih dan kuasa Allah Tritunggal telah dibentuk pada bulan Juni yang lalu di kampus Calvin College di kota Grand Rapids, Michigan, Amerika Serikat, sebagai wujud penyatuan dari dua organisasi gereja-gereja reformed, yaitu “The World Alliance of Reformed Churches” (WARC) dan “The Reformed Ecumenical Council” (REC). Kita semua tahu, sampai dengan bulan Juni 2010 yang lalu GKI adalah gereja anggota dari WARC dan REC. Dan sekarang, kita menyambut dengan penuh syukur dan sukacita bahwa GKI menjadi salah satu gereja pendiri ─satu dari antara 227 gereja─ dan sekaligus gereja anggota WCRC! Laporan lengkap mengenai pembentukan WCRC itu tentu pada waktunya akan kami sampaikan kepada Saudara-saudara. Hal penting yang patut kita kemukakan pada kesempatan ini adalah, bahwa WCRC telah terbentuk karena dua organisasi pendahulunya, WARC dan REC sama-sama telah berpegang pada salah satu semboyan (motto) dari gereja-gereja reformed: “ecclesia reformata semper reformanda”! Ungkapan dalam bahasa Latin yang berasal dari abad XVI ini memang mengungkapkan semangat dan tujuan dari gerakan Reformasi: “gereja yang sudah direformasikan harus dan akan terus menerus direformasikan”. Dalam rangka GKI memperingati ulang tahunnya yang ke-22 kali ini, kami ingin mengajak kita semua untuk mengingat dan menghidupi semboyan Reformasi tersebut. Ada dua hal yang ingin kami kemukakan dalam kaitan ini. Pertama, GKI tidak boleh berpuas diri dengan segala sesuatu yang sudah “dicapai”-nya selama ini. Memang harus dicatat bahwa GKI ─sebagai wujud penyatuan dari GKI Jabar, GKI Jateng, dan GKI Jatim─ telah semakin mengokohkan kesatuan internalnya dengan mengembangkan berbagai perlengkapan dan sekaligus atribut dasar dari identitasnya sebagai sebuah gereja mandiri dan misioner di Indonesia. Di antaranya kita dapat menyebutkan, bahwa GKI telah mempunyai satu liturgi yang lengkap (lihat buku Liturgi Gereja Kristen Indonesia) dan satu tata gereja yang semakin mantap (lihat buku Tata Gereja dan Tata Laksana Gereja Kristen Indonesia). Di samping itu, pada saat ini pun kita sedang dalam proses intensif untuk menyusun sebuah konsep konfesi (rumusan pengakuan iman dan ajaran) GKI yang kontekstual dan relevan yang pada waktunya nanti akan dibahas dan ditetapkan menjadi Konfesi Gereja Kristen Indonesia. Pada ranah etika Kristiani, dalam berbagai pertemuan di tempat dan kesempatan yang berbeda-beda, kita juga telah dan terus mengumuli dan mencoba menyepakati, meski belum secara formal, sikap etis GKI dalam merespons kepada berbagai isu mendesak yang berkembang dan dihadapi oleh anggota-anggota GKI maupun masyarakat pada umumnya. Secara eksternal, GKI juga terus menyatakan kehadiran dan kiprahnya di dalam gerakan ekumenis di Indonesia maupun dalam kegiatan-kegiatan misioner nyata dalam masyarakat. Keterlibatan GKI dalam Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) maupun dalam berbagai kerjasama ekumenis bilateral dan multilateral dapat disebutkan sebagai contoh-contohnya. Di samping itu, berbagai kelompok/lembaga GKI giat sekali dalam mewujudkan pelayanan diakonia yang transformasional. Yang lain terlibat langsung dalam perjuangan membangun kehidupan demokrasi yang menghargai kesamaan derajad dan hak-hak asasi manusia. Anggota-anggota dan pemimpin GKI lainnya lagi terlibat dalam pembangunan hubungan antar-umat beragama yang menjadi salah satu sendi utama dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang pluralistik dan demokratis. Dan, last but not least, GKI juga telah dikenal sebagai singkatan dari Gerakan Kemanusiaan Indonesia, yang selalu siap memberikan respons tanggap darurat yang cepat dan tepat terhadap peristiwa bencana alam yang melanda di berbagai kawasan di tanah air maupun di mancanegara. Namun, sesuai dengan semboyan Reformasi di atas, kita tidak boleh berpuas diri dengan semuanya itu. Karena itu, dan inilah hal kedua yang ingin kami sampaikan, kita harus terus menerus membuka diri untuk mereformasikan diri kita. Marilah kita bersama ber-semper reformanda! Upaya mereformasikan diri bagi sebuah gereja tentu bersifat multi-aspek dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kami pun tidak bermaksud membahasnya secara tuntas di sini. Kami hanya ingin mengaitkan upaya itu secara khusus dan terbatas dengan Persidangan XVII Majelis Sinode GKI yang akan dilaksanakan pada bulan Nopember 2010 mendatang. Tema yang diangkat untuk persidangan tersebut adalah “Gereja Kristen Indonesia Semakin Bermakna dan Relevan secara Internal dan Eksternal”. Tema tersebut juga dimaksudkan untuk mengusung semboyan ecclesia reformata semper reformanda. Yang ingin kami tekankan adalah bahwa upaya mereformasi diri bagi GKI haruslah dilakukan pada keempat lingkupnya dan bukan cuma di lingkup Sinode, secara terus menerus dan konsisten. Itu berarti, upaya mereformasi itu harus dilaksanakan oleh semua Jemaat GKI (yang pada saat ini berjumlah 218), semua Klasis GKI (yang jumlahnya 18), semua Sinode Wilayah GKI (sekarang ada 3), dan Sinode GKI. Semuanya mesti ber-sunhodos (berjalan bersama) dan bersinergi agar GKI sebagai satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh tetapi tetap dalam kekayaan kepelbagaiannya, semakin bermakna dan relevan, baik ke dalam bagi dirinya sendiri maupun ke luar, yaitu bagi masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Namun, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari upaya mereformasi diri secara bersama itu, kiranya Majelis Sinode GKI melalui persidangannya yang ke-16 pada tanggal 16-18 Nopember 2010 itu dapat menggoreskan kebijakan dan langkah-langkah strategis pembaruan GKI pada tahun-tahun mendatang dan menetapkan Badan Pekerja Majelis Sinode GKI yang baru yang akan memimpin GKI pada periode pelayanan 2010-2014. Saudara-saudara yang terlibat langsung dalam persidangan-persidangan yang mendahuluinya, yaitu ketiga Persidangan Majelis Sinode Wilayah GKI yang akan digelar pada bulan September dan Oktober ini, akan ikut menentukan berhasil atau tidaknya Persidangan XVII Majelis Sinode GKI itu. Saudara-saudara yang tidak terlibat secara langsung di dalamnya dimohon untuk mengingat dan mendukung dalam doa agar Tuhan Yesus Kristus, Raja Gereja, yang akan memimpin dan memberkati sehingga Persidangan XVII Majelis Sinode GKI dapat terlaksana dengan lancar dan efektif. Akhirnya, marilah kita semua saling mengucapkan “Selamat Ulang Tahun Gereja Kristen Indonesia”! Kiranya kasih karunia dari Allah Bapa dan Tuhan Kita Yesus Kristus dalam kuasa Roh Kudus menyertai kita terus dalam derap langkah bersama dan pelayanan kita ke depan agar semboyan Reformasi ecclesia reformata semper reformanda dapat semakin terwujud nyata. Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu, hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2 : 6-7) Soli Deo gloria! Jakarta, Agustus 2010 |
| ● | “TOLAK AKSI PEMBAKARAN AL’ QURAN!” SURAT PENGGEMBALAAN BADAN PEKERJA MAJELIS SINODE GEREJA KRISTEN INDONESIA Saudara-saudara anggota dan simpatisan GKI yang dikasihi Kristus, Beberapa hari belakangan ini, komunitas agama-agama di dunia, termasuk di Indonesia dan kita semua, sangat terusik dengan provokasi dari kelompok yang menamakan dirinya Dove World Outreach Center, yang berkantor di Florida, Amerika Serikat. Kelompok yang mengklaim dirinya sebagai kelompok Kristen non-denominasional itu berada di bawah pimpinan Pdt. Dr. Terry Jones dan Pdt. Sylvia Jones. Melalui berbagai cara, mereka mengkampanyekan pembakaran Al’Quran, Kitab Suci agama Islam, pada peringatan 9 tahun Tragedi WTC (9/11) pada tanggal 11 September 2010. Untuk merespons kepada kampanye dan aksi provokatif tersebut, kami ingin menyatakan beberapa hal sebagai berikut:
Akhirnya, marilah kita semua terus saling mendoakan. Kiranya kasih karunia dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus menyertai terus derap langkah bersama dan pelayanan kita. ” … sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala”. (Efesus 4 : 13-15) “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12 : 14) Soli Deo gloria! |


