Ungkapan Perasaan Hati Para Senior

Belum ada komentar 2 Views

Rumah asri yang saat ini kami huni, telah mengenal kehidupan keluarga selama 30 tahun. Awalnya lingkungan masih sepi, tapi sebaliknya hiruk pikuk bergema di rumah saat anak-anak tidak bersekolah. Namun saat ini keadaan terbalik, justru lingkungan—terutama lalu-lintas di depan rumah dan polusi udara—menjadi masalah, sedangkan kehidupan di dalam rumah berubah sunyi senyap. Pada umumnya anak-anak—yang tadinya menyibukkan orangtua dengan mengantar- jemput ke sekolah dan ke berbagai les ekstrakurikuler, kini telah selesai sekolah dan berkeluarga. Yang bersekolah di luar negeri, menetap dan bekerja di negara impian, the dreaming land America. Anak kedua kami—yang bertahan untuk menuntut ilmu di dalam negeri—setelah selesai bersekolah dan bekerja, justru “dipanggil pulang” oleh Sang Pencipta saat menunaikan tugas pelayanan gereja. Demikian pula para tetangga yang semula aktif bekerja, semua menjadi sepuh, pensiun dan tinggal berduaan lagi, seperti yang kami alami saat ini. Banyak tetangga yang sudah pindah ke pinggiran atau ke kota lain, karena selisih nilai rumah mereka dapat dijadikan tambahan dana penunjang kehidupan. Bentuk dan fungsi rumah yang tersisa telah berubah dengan arsitektur modern berlantai 2 sampai 3, dan sebagian berfungsi sebagai apartemen/hotel rumahan. Tata ruang dan tata guna peruntukan sebagai daerah pemukiman telah dilanggar tanpa kepatuhan akan hukum yang berlaku. Teman olah raga jalan pagi, satu persatu “menghilang”, karena makin sepuh atau telah “dipanggil pulang” ke rumah Bapa di surga.

Banyak cerita yang menarik, bukan hanya untuk dibaca, melainkan juga menggugah para senior untuk berdoa agar peristiwa-peristiwa yang diberitakan itu tidak terjadi pada diri mereka. Ada seorang ibu yang harus tinggal sendiri, karena suaminya meninggal. Ia bersiap menjual rumahnya untuk pindah ke negara tempat anaknya disekolahkan. Saat ini anaknya telah berkeluarga dan bekerja dengan penghasilan 8 digit USD. Ibu ini memberi info kepada anaknya tentang niat dan rencananya tersebut. Dalam waktu singkat si anak menjawab suratnya, dan mengatakan bahwa keluarganya keberatan jika ibunya pindah dan tinggal bersama mereka. Anak ini akan mengganti uang untuk empat tahun biaya kuliahnya yang menghabiskan sebesar 4 x 18000 USD = 72000 USD. Uang ini ditransfer ke rekening ibunya, dengan mengingatkannya kembali agar si ibu tidak pindah ke rumahnya. Kesedihan dan keputusasaan meliputi hati si ibu. Puji syukur, berkat teman-teman seiman, ibu ini bangkit meninggalkan semua kesedihan hidup seorang diri. Bersama mereka dan dengan bekal uang yang dikirim anaknya, ia bisa berwisata keliling dunia, termasuk ke negara di mana keluarga anaknya bermukim. Hidup seorang diri dilakoninya bertahun-tahun dan akhirnya ia harus berbaring di rumah sakit seorang diri. Dengan semangat yang tersisa, ibu ini menulis surat kepada anaknya untuk mengucapkan terima kasih atas kiriman uang tersebut, yang bermanfaat memberinya pengalaman untuk melihat dunia dan kemegahan kehidupan di negara anaknya. Ia memohon maaf atas kekurangannya dalam membesarkan dan mendidik anak tunggalnya. Dengan hanya dihadiri keluarga saudara kandungnya dan sahabat-sahabat seiman, jenazah ibu tersebut dikremasi dan abunya ditaburkan di Samudra Hindia.

Cerita-cerita sejenis banyak beredar. Ada seorang anak yang membawa ayahnya berwisata ke luar kota dan singgah di sebuah bangunan megah. Setelah bertemu dengan seseorang, anak itu meninggalkan ayah dan kopernya dengan pesan: “Pa, tinggal di “hotel” ini dulu ya, kami akan pergi sebentar.” Menjelang magrib, si ayah masih duduk di ruang tamu menunggu anaknya, ketika manajer “hotel” itu menghampirinya dan dengan santun membimbingnya ke kamar untuk beristirahat. Saat pagi tiba, si anak tidak muncul dan ketika seorang petugas mengantar sarapan, pria itu melihat bahwa “tamu-tamu” di sekitarnya semua sudah sepuh. Ia mulai sadar setelah membaca papan nama yang tertera di pintu masuk kamar. Ternyata bangunan megah itu adalah rumah jompo yang telah disiapkan anaknya untuknya. Cerita menarik lainnya adalah tentang anak dan menantu yang menempatkan orangtua mereka di bangunan terpencil, di sudut belakang halaman rumah. Perabot rumah diberi ala kadarnya, dan kualitas perlengkapan makan dan minum sama dengan yang diberikan kepada pembantu rumah.

Pada abad milenial ini, banyak pijakan hidup telah berubah. Para senior banyak yang ditinggalkan anak-anak mereka dan harus hidup berduaan lagi, menyesuaikan diri dengan pikiran sebagian anak zaman now. Melahirkan anak itu tugas wajib, sedangkan membesarkan/menyekolahkan anak adalah tugas sosial. Satu ibu atau ayah harus dapat merawat dan menghidupi tujuh anak, tetapi ketujuh anak ini belum tentu mau membahagiakan dan memelihara ibu atau ayah mereka. Orangtua tidak takut miskin untuk memberi nafkah kepada anak-anak mereka, tetapi sebagian anak takut kekurangan saat menanggung orangtua mereka yang sepuh. Ada pemikiran yang lebih drastis: rumah, harta dan dana orangtua juga milik anak, tetapi sebaliknya rumah, harta dan dana anak bukan milik orangtua.

Selain pemikiran anak zaman now ini, banyak pula nasihat yang diberikan kepada para senior dalam menghadapi perubahan perilaku generasi sekarang. Para senior harus dapat membuang kekhawatiran atas keuangan anak, karena sudah cukup merawat, menyekolahkan, dan menikahkan mereka. Jangan hidup campur bersama anak dan menantu, karena masing-masing membutuhkan privasi. Jangan terbenam dalam kesepian, sakit dan ketidaknyamanan. Cintailah hidup, upayakanlah hidup sehat, nikmatilah hari demi hari dengan ceria, dan bersosialisasilah dengan orang-orang yang berpikiran positif. Berwisata menikmati keindahan alam ciptaan Sang Pencipta yang Maha Pengasih bukan pemborosan, tetapi penting untuk menyegarkan fisik dan batin. Dari buku terlaris 2007 “The last lecture” karya Ausberg, ada tiga “kunci” yang membuat hidup kita lebih baik, yaitu Personality, community dan Life. Intinya, abaikan perasaan duka dan yang tidak berguna, hidup dan nikmatilah apa adanya. Setiap bangun pagi, bersyukurlah kepada Tuhan, karena dengan Dia, kita akan selalu bersukacita. Usahakanlah sejak usia muda untuk hidup sehat, sehingga saat tua akan tetap sehat. Lima kunci hidup sehat menurut dr. Handrawan Nadesul (Seminar Pensiunan Kompas/Gramedia 18 Juli 2018) adalah: menyantap menu makanan yang tepat, melakukan gerak badan yang memadai, mengendalikan stres, melakukan check-up fisik secara teratur, dan juga check-up jalannya kehidupan masing-masing.

Sebagai orang beriman, menghormati orangtua bukan hanya budaya yang harus dilestarikan, melainkan juga merupakan hukum Tuhan yang ke-5, “Hormatilah ayah ibumu, agar lanjut usiamu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu.” Menghormati orangtua bukan hanya sekadar dengan ucapan dan bahasa tubuh, melainkan juga dengan substansi yang ada: dengan memenuhi kebutuhan mereka sebagai bentuk pelayanan balasan atas apa yang telah mereka lakukan dalam membesarkan anak-anak mereka menjadi manusia yang utuh kehidupannya. Menghormati mengandung pula pengertian memberi perhatian, penghargaan, penghormatan dan dukungan.

>> Harry Tanugraha

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Senior
  • Menumbuhkan Kebiasaan Baik
    Pada suatu kali, dalam Persekutuan Kasih Komisi Senior GKI PI—yang biasanya ramai dikunjungi para lanjut usia dan diadakan pada...
Kegiatan