Umat Kristiani Menghadapi Penderitaan

Umat Kristiani Menghadapi Penderitaan

Belum ada komentar 2 Views

Berbagai macam bencana silih berganti menimbulkan penderitaan di sejumlah daerah di Indonesia, seperti tsunami di Aceh, meletusnya Gunung Sinabung, tanah longsor di Wasior, tsunami di Mentawai, erupsi Gunung Merapi disertai awan panas. Tak terhitung banyaknya korban jiwa atau korban cacat tubuh, kerugian harta benda, hilangnya mata pencaharian (berladang, bertani, beternak) serta berbagai penyakit dan kelaparan yang diakibatkannya. Selain itu, kejahatan kemanusiaan dengan mengatasnamakan agama juga sering terjadi. Banyak tempat ibadah ditutup dengan paksa dan beberapa tokoh agama dibunuh atau dianiaya. Hal ini menggugah perenungan di dalam hati, bagaimana sebenarnya kita harus menyikapi keadaan ini.

Sejak zaman Perjanjian Lama, manusia sudah mengalami bencana air bah, hujan api dan belerang (Sodom dan Gomora), gempa bumi dan berbagai malapetaka lainnya. Bumi sudah pernah porak poranda karena bencana alam yang sangat besar. Apakah kita yang hidup di zaman sekarang ini menganggap bencana alam yang bertubi-tubi tersebut sebagai hal-hal yang biasa terjadi ataukah kita mengaitkannya dengan kedatangan Yesus yang semakin dekat, ketika malapetaka, kesulitan, bahaya, ancaman dan kesengsaraan merongrong seluruh keberadaan kita? Sebagai umat kristiani, selayaknya kita memperoleh hikmat dan pengertian dengan mendasarkan diri pada Firman Allah.

Ayub 5:7 mengatakan, “…melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi” (Yet man is born to trouble, As the sparks fly upward). Kata-kata itu sungguh benar. Dewasa ini dunia sarat dengan tekanan hidup. Orang kehilangan tempat tinggal, kelaparan, dilanda krisis ekonomi, diperbudak sesamanya, menderita gangguan psikologis dan ketidakstabilan emosi, mengalami pernikahan yang rapuh dan tidak bahagia. Tidak seorang pun luput dari masalah, apakah ia kaya, ternama, atau miskin, terlantar, apakah ia beriman atau ateis. Umat kristiani bahkan sering dibenci karena mengikut Yesus Kristus. Walaupun demikian, Alkitab memberikan jawaban.

A. HIKMAT DAN PENGERTIAN

Hikmat adalah pengetahuan dan kemampuan untuk memilih sikap yang tepat dalam menghadapi suatu kejadian. Namun untuk memperoleh jawaban yang tepat tentang hikmat diperlukan pengertian berdasarkan kepercayaan pada Allah Tritunggal.

Apakah hikmat itu? Dalam Alkitab, hikmat dan pengertian dijelaskan sebagai berikut: “Sesungguhnya takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi” (Behold the fear of the Lord, that is wisdom; And to depart from evil is understanding) (Ayub 28:28); “Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat” (Amsal 2:6); “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat dan orang yang memperoleh kepandaian” (Amsal 3:13); “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat; dan dengan segala yang kauperoleh, perolehlah pengertian” (Amsal 4:7); dan masih banyak lagi firman Allah yang dapat dibaca dan dipelajari di dalam Alkitab.

Hikmat dan pengertian diperoleh karena takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Dengan demikian manusia harus hidup suci, kudus dan tidak bercacat cela atau bernoda.

B. APAKAH PERISTIWA ALAM ATAU TEGURAN KEPADA MANUSIA

Sebagai orang Kristen yang percaya, kita harus “…bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu” (Kisah Rasul 26:19-23), dan mengucapkan PENGAKUAN IMAN RASULI: “Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi; dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita…,” dan diakhiri dengan “Aku percaya kepada Roh Kudus….” Itulah dasar hikmat yang dapat kita peroleh dengan membaca firman Allah. “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu…” (2 Timotius 3:15).

a. Ciptaan Allah, langit dan bumi dan isinya (Kejadian 1:1) ada di dalam pengendalian Allah;

  1. “…mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya…” (2 Tawarikh 16:9);
  2. “Mata orang berhikmat ada di kepalanya…” (Pengkhotbah 2:14);
  3. “…mata Tuhan tertuju kepada orang benar dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong” (and His ears are open to their prayers)” (1 Petrus 3:12).

b. Apakah manusia mampu memiliki pengetahuan tentang terjadinya penderitaan dan siapa yang berada di balik semuanya itu? Firman Allah mengatakan:

  • “Sebab kita, anak-anak kemarin, tidak mengetahui apa-apa…” (Ayub 8:3);
  • “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini” (Amsal 27:1);
  • “Orang yang bodoh banyak bicaranya meskipun orang tidak tahu apa yang akan terjadi… “ (Pengkhotbah 10:14);
  • “Allah mengguntur dengan sabda-Nya yang mengagumkan, Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita” (Ayub 37:5);
  • “Hari meneruskan berita itu kepada hari dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” (Mazmur 19:3);
  • “Engkau akan melihat kedatangan Tuhan semesta alam dalam guntur, gempa dan suara hebat, dalam puting beliung dan badai dan dalam nyala api yang memakan habis” (Yesaya 29:6);
  • “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya” (Roma 11: 33-36).

Dengan demikian umat kristiani (yang percaya kepada Trinitas–Allah Bapa, Allah Putra dan Rohulkudus–) jauh lebih dulu dibukakan mata dan telinganya melalui kesaksian para nabi, rasul, orang kudus yang membuka berbagai visi masa depan yang dapat dibaca di dalam Alkitab. Umat kristiani perlu waspada setiap saat dan mengharapkan perlindungan Allah Yang Maha Kasih serta berlaku bijaksana dan berjaga-jaga (watch and be sober–1 Tesalonika 5:1-11 dan 2 Korintus 8:1-15 dengan penekanan pada ayat 7–kaya dalam segala sesuatu: dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu dan dalam kasihmu–) karena kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya sudah sangat dekat! “Ya, Aku datang segera!” (Surely I am coming quickly) (Wahyu 22:20 dan Kisah Rasul 26:19-23).

C. KESETIAAN DAN KETAATAN TIDAK DENGAN SEGENAP HATI

Di dalam surat yang ketujuh yang ditujukan kepada Gereja Laodikia, sifat yang dibenci oleh Tuhan adalah “suam-suam kuku” atau tidak panas tetapi juga tidak dingin. Tuhan akan memuntahkan orang-orang seperti itu. Namun sebelum melakukannya, Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertobat. Gereja Laodikia berkata bahwa mereka kaya dan tidak kekurangan sesuatu apapun, namun tidak menyadari bahwa mereka tidak memperoleh upah dari mengikuti salib Kristus (1 Petrus 5:4).

Sifat suam-suam kuku ini membuat mereka tidak menyadari akan dosa-dosa mereka dan tidak hidup kudus. Mereka tidak mengenal Kristus yang sesungguhnya dan tidak memikirkan pertobatan. Dalam pikiran mereka, mereka kelak pasti akan ke surga, padahal mereka menuju ke neraka. Karenanya, tanpa kesadaran akan dosa, tidak ada perasaan bahagia yang Tuhan janjikan bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Dalam pelayanan keseharian, Gereja Laodikia lebih mengutamakan berbicara dan bersaksi tentang harta kekayaan manusia (mammon) dan mukjizat. Mereka lebih menitikberatkan pada “keberhasilan duniawi” ketimbang penderitaan dan kematian Mesias, serta kesaksian-kesaksian-Nya yang menuju pada keselamatan manusia. Mereka beranggapan bahwa kesempurnaan hidup rohani dan jasmani telah diperoleh dari kekayaan yang mereka miliki dan bahwa tidak ada kejatuhan dalam dosa lagi sehingga pengorbanan Yesus di kayu salib itu tidak penting.

Pengorbanan Yesus sebagai Juru Selamat, dengan menyerahkan dan mengorbankan roh, jiwa dan tubuh-Nya sebagai manusia (the Son of Man) untuk menebus umat manusia dari dosa sehingga memperoleh keselamatan kekal, sudah tidak diingat lagi. Secara rohani mereka sudah mati. Yesus memperingatkan mereka bahwa tanpa pertobatan, mereka hanyalah manusia yang melarat, malang, miskin, buta dan telanjang.

D. SIKAP GEREJA ZAMAN SEKARANG

Surat-surat kepada ketujuh Jemaat (Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia), selalu diakhiri dengan ucapan: “Siapa bertelinga hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Ucapan ini juga ditujukan kepada jemaat dan gereja masa kini (untuk setiap generasi). Pesan dalam surat-surat ini bersifat abadi dan di dalam pesan ini, Roh tetap berbicara kepada manusia (perwujudan tugas Roh Kudus ialah untuk membongkar dan membangun, menegur dan menghibur). Dialah Roh Kebenaran (Yohanes 14:17; 16:13) dan Roh Penghibur (Alos Parakletos) (Yohanes 14:16). Bila jemaat dan gereja menjadi tuli, maka mereka juga menjadi bisu, sehingga doa dan kesaksian pun hilang. Tuhan Yesus telah berfirman: EFATA!, artinya “Terbukalah!” (Markus 7:34). Sama seperti Yesus menyembuhkan orang tuli, firman ini perlu diindahkan oleh jemaat dan gereja masa kini dalam menghadapi penderitaan.

Dalam mengabarkan Injil Kabar Baik (mengajar/teaching, memberitakan Injil/preaching, menyembuhkan/healing–Matius 4:23), Yesus senantiasa mengingatkan para murid dan pendengar-Nya untuk bertobat, memohon ampun atas dosa-dosa mereka serta mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Selama 3,5 tahun Ia memberikan banyak nasihat bagi kehidupan manusia melalui Khotbah di Bukit (Matius 5:3-12), Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13, Markus 12:30-31, Markus 8:34) dan perumpamaan-perumpamaan, serta membuat berbagai mukjizat (wonders) dan tanda (signs). Ia memperingatkan dalam Lukas 8:8, “…Akan tetapi jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (will He really find faith on the earth?).

E. PANGGILAN GEREJA ZAMAN SEKARANG

Gereja dan umat manusia zaman sekarang yang hidup seperti Gereja Laodikia, perlu melakukan perubahan melalui pembaharuan (Roma 12:2), karena tidak sesuai dengan ajaran kebenaran Yesus Kristus.

1. Pada zaman Gereja Laodikia, orang mendikte apa yang akan diajarkan atau dikhotbahkan (memberitahu pengkhotbah tentang apa yang harus dikhotbahkan) dan bukan menerima wewenang firman Allah dari kuasa Roh Kudus. Ini dirasakan dan terjadi dalam kehidupan banyak gereja masa kini.

2. Rasul Paulus dalam suratnya yang kedua kepada Timotius, menulis bahwa pada hari-hari terakhir “orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat (endure sound doctrine), tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Timotius 4:3-4) dan hal ini sudah terjadi pada saat ini.

3. Bukannya manusia menyerahkan diri kepada kebenaran firman Allah, namun malah menyelewengkannya menurut kehendak mereka sendiri.

4. Jemaat masa kini ditandai sebagai:

  • Jemaat yang dengan cepat hanyut, yang memuakkan di mata Tuhan (melarat, malang, miskin, buta dan telanjang) (Wahyu 3:17);
  • Jemaat yang menjauh dari kebenaran Alkitab, dan semua sudah berbuat dosa (Roma 3:10; 23);
  • Meningkatnya sifat «memegahkan diri dalam kecongkakan» (boast in your arrogance) (Yakobus 4:16-17) seolah-olah lebih mengetahui soal rohani daripada firman Allah sendiri dengan menyimpangkan ayat-ayat Alkitab sesuai dengan keinginan diri sendiri dan adanya peran dari para pengajar/pendeta/guru palsu;
  • Di kalangan umat kristiani terjadi penyalahgunaan intelektual manusia untuk hal-hal yang berdosa dan menyimpang dari kebenaran serta tidak memuliakan Allah (baca Roma 1:18-32: Hukuman Allah atas kefasikan dan kelaliman manusia), kejahatan, narkoba, ambruknya moralitas (pornografi di majalah, radio, televisi, internet), komputerisasi untuk hal-hal yang najis/tidak kudus, pencemaran kehidupan, dan sebagainya);

5. Pendirian berbagai macam gereja yang memisahkan diri atau hanya diperuntukkan bagi kelompoknya sendiri. Umat manusia sudah tidak lagi berbicara tentang pertobatan dan pengorbanan (repentance and sacrifrice) tetapi hanya berbicara tentang kekayaan (bisnis, real estate, saham, investasi besar, dan sebagainya).

Seluruh denominasi gereja masa kini harus menyatukan sikap dengan seia sekata, sehati sepikir, untuk menghambat kejadian tersebut dengan:

  1. Melakukan pengajaran, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran;
  2. Bersatu-padu dan berbagi tugas untuk memperbaiki gereja-gereja yang terkena bencana.

PERENUNGAN

A. Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita meyakini bahwa kejadian di langit, bumi dan isinya adalah ciptaan Allah (Kejadian 1:1), milik Allah dan di dalam pengendalian Allah–Tuhan Allah yang sudah ada, yang sekarang ada dan yang akan datang! Marilah kita sebagai umat manusia dari segala suku, bahasa, kaum dan bangsa dengan gentar dan takut memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. “Hendaklah engkau setia sampai mati dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2:10); dengan melihat atau tanpa melihat apa yang (sedang) terjadi;
  2. “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Epesus 5:17);
  3. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu (transformed by renewing of your mind) sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2);
  4. “Senantiasa memohon hikmat dan rahmat-Nya dalam menghadapi segala perkara” (Yakobus 1:1-8, dengan penekanan pada ayat 5: “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah…)”;
  5. Memohon agar tidak dikatakan “…bahwa engkau melarat dan malang, miskin, buta dan telanjang” (Wahyu 3:17-18);
  6. “Kaya dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu dan dalam kasihmu…” (2 Korintus 8:7);
  7. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yohanes 14:27) dan “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:7).

B. Mereka yang hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, akan menerima upah besar. “Upah orang benar akan bertahan untuk selamanya” (Mazmur 57:2).

“I will cry to God Most High, who performs on my behalf and rewards me (who brings to pass His purpose for me and surely complete them!)” (AMP)

Demikian juga sebuah mahkota dijanjikan bagi para hamba-Nya yang setia. Mahkota ini abadi (an imperishable crown), tidak akan cacat, busuk atau bertambah suram (1 Korintus 9:25) yakni:

  • Mahkota Kebenaran (2 Timotius 4:8)
  • Mahkota Kehidupan (Yakobus 1:12; Wahyu 2:10)
  • Mahkota Kemuliaan (1 Petrus 5:4)
  • Mahkota yang Abadi (1 Korintus 9: 25)
  • Mahkota Kemegahan (1 Tesalonika 2:19-20)

Dalam menghadapi penderitaan, hendaklah kita sebagai pengikut Yesus Kristus senantiasa berpegang pada janji Allah yang kekal, yang akan menyertai dan melindungi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Kita harus mempersiapkan diri dan tidak mengikuti bahkan menolak dan tidak tergoda atau terpengaruh oleh petunjuk pengajar/pendeta/guru/rasul palsu (baca Roma 16:17-18 dan Efesus 6:12-17). Senantiasalah mendengarkan firman Alah. Berjaga-jagalah karena waktunya sudah dekat! Amin.

Jakarta, 5 Desember 2010

Erna Kusoy

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Dari Hana Ke Samuel
    Dari Hana Ke Samuel
    Dan dengan hati pedih ia (Hana) berdoa kepada Tuhan sambil menangis tersedu-sedu (I Samuel 1:10). IN PRAYER IT IS...
  • Kekuatan untuk Memaafkan
    Kekuatan untuk Memaafkan
    Neh 9:17 Mereka menolak untuk patuh dan tidak mengingat perbuatan-perbuatan yang ajaib yang telah Kaubuat di antara mereka. Mereka...
  • Rancangan TUHAN Selalu Lebih Besar
    Rancangan TUHAN Selalu Lebih Besar
    Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya:”Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus:...
  • Puasa
    Puasa
    Sebuah refleksi penyangkalan diri dalam upaya mencari dan memahami kehendak Tuhan
    Puasa adalah tindakan sukarela berpantang makan, minum, dan menahan nafsu. Istilah ‘puasa’ dalam bahasa Ibrani adalah tsum (berpuasa), tsom...
  • Kata-kata yang Menguatkan
    Kata-kata yang Menguatkan
    Kata-kata, merupakan sesuatu yang biasa kita gunakan dan kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak dalam tahap awal pertumbuhan mereka,...
Kegiatan