Trinitas

Trinitas

Komentar ditutup 106 Views

Sebagai orang Kristen seringkali saya banyak pergumulan mengenai paham Allah Trinitas. Saya sudah yakin akan hal itu apalagi saya sudah dibaptis. Tapi entah mengapa kalau orang lain (tetangga iman) menanyakan hal tersebut saya menjadi sulit untuk menjelaskannya.

  1. Untuk itu mohon Bpk. jelaskan lagi  dengan contoh yang sederhana tetapi saya bisa menjadi gamblang.
  2. Kapan ihwal pengakuan Tritunggal Allah diimani oleh orang Kristen? Dan mengapa beberapa orang yang mengaku Kristen (aliran lain) tidak mengakui hal itu?

Demikian atas penerangan dari Bapak dari tempat jauh, saya mengucapkan terimakasih.

salam,
Iwan – Jakarta

Pdt. Rudianto Djajakartika:

Saudara Iwan yang baik,

Persoalan Trinitas memang bukan persoalan yang mudah. Jadi kalau anda merasa kesulitan menjawab persoalan ini, saya kira anda tidak sendiri. Bahkan Filipus yang sudah hidup sekian lama bersama Yesus pun masih sulit memahami akan persoalan Trinitas (Yoh. 14:8-10).

Nah, sekarang penjelasan yang sederhana tapi gamblang. Mari kita kembali pada pernyataan Yesus dalam Yoh. 14:10. “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang aku katakan kepadamu tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.”

Apa yang bisa kita tangkap dari penjelasan Yesus ini?

Kita melihat Bapa (Allah) dalam seluruh pekerjaan (hidup) Yesus. Allah memperkenalkan diri-Nya melalui Yesus. Tanpa itu, kita manusia yang terbatas ini tidak bisa mengenal Allah yang tak terbatas. Dalam Yesus, Allah yang tak terbatas itu menjadi nampak secara manusiawi (in fillio esse finitum – God is become finite in his Son). Dari sinilah muncul pengakuan gereja, bahwa Yesus adalah Allah (yang nampak secara manusiawi). Pengakuan gereja ini diteguhkan melalui peristiwa kebangkitan Yesus dan seluruh pemberitaan mengenai Yesus, misalnya peristiwa kelahiran-Nya, di mana Dia disebut Imanuel (Allah menyertai kita – melalui kehadiran Yesus – Matius 1:23).

Lalu bagaimana dengan Roh Kudus?

Dalam Yoh. 14:18 Yesus mengatakan bahwa Ia tidak akan meninggalkan murid-murid-Nya sebagai yatim piatu. Ia datang kembali! Konteks dari pernyataan Yesus ini bukan tentang kebangkitan-Nya, tetapi tentang Roh Kudus (Yoh. 14:15-17) dan tentang kesatuan-Nya dengan sang Bapa serta kesatuan-Nya dengan murid-murid-Nya. Kita bisa memahami ucapan Yesus ini, setelah Roh Kudus dicurahkan dan tinggal serta bekerja dalam diri kita. Kita bukan hanya menyadari bahwa kita tidak ditinggalkan seorang diri, bahwa Yesus hadir dalam diri kita melalui Roh Kudus, tetapi sekaligus melalui karya Roh Kudus itu kita menjadi sadar akan kesatuan antara Bapa-Yesus-Roh Kudus, sebagai Allah yang Esa, yang telah menyelamatkan kita dan menyertai kita selama-lamanya.

Dari sinilah pemahaman Trinitas itu lalu muncul. Kita menjadi sadar bahwa Allah yang tak terbatas itu mengakomodasi keterbatasan kita, sehingga Ia memperkenalkan diri-Nya secara manusiawi melalui Yesus Kristus. Dalam Yesus kita melihat dan mengenal Allah, dan melalui kebangkitan-Nya pemahaman kita diteguhkan bahwa Yesus adalah Allah! Ketika Ia naik ke surga, Ia datang kembali melalui Roh Kudus, dan melalui karya Roh dalam diri kita, kita menjadi sadar akan kehadiran Allah menyertai kita, sekaligus kita mengakui bahwa Roh Kudus adalah Allah yang bekerja dalam diri kita.

Mau yang lebih gamblang lagi? Kalau kita melihat bintang film, kadang kita tidak ingat siapa dia, tapi tokoh film yang dimainkannya. Kenapa? karena peran itu sudah melekat dalam dirinya. Padahal itu cuma film. Nah, apalagi dengan Yesus sebagai pernyataan Allah yang sempurna. Yesus jelas bukan bintang film yang sedang memerankan peran tertentu, tetapi Dia adalah pernyataan Allah yang sempurna. Dalam Dia kita bukan hanya melihat Allah, tetapi juga mengakui Dia sebagai Allah. Dan karena Dia yang kita akui sebagai Allah itu datang kembali melalui Roh Kudus, maka kita juga menyebut Roh Kudus sebagai Roh Allah, atau Allah yang bekerja dalam diri kita.

Nah, semoga menjadi jelas dengan pemahaman Trinitas. Selamat merenungkan!

Arsip kategori Pastoralia
  • Persembahan Bagi Tuhan
    Yth. Pak Pendeta, Mengapakah ragi dan madu dilarang digunakan bangsa Israel pada saat membakar hewan-hewan korban di Kemah Suci,...
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
  • ALLAH Sang Sutradara?
    Bapak Pendeta Yth. Saya sedang membaca kitab Yehezkiel dan di sana terdapat banyak segala nubuatan, baik bagi bangsa Israel,...
  • Manusia Purba
    Pak Pdt. yang baik, Bolehkah saya meminta penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang mengusik hati saya: Siapakah manusia...
Kegiatan