Time Management

Time Management

Belum ada komentar 157 Views

Kalau kita bertanya kepada seseorang apakah ia sibuk, hampir selalu jawaban yang diberikan adalah bahwa ia sibuk. Sangat jarang saya mendapatkan jawaban “tidak sibuk”. Biasanya dilanjutkan dengan menceritakan bagaimana kesibukan itu sangat menyita waktunya sehingga ada banyak hal lain yang tidak dapat dilakukannya. Kekurangan waktu merupakan salah satu “trade mark” kehidupan saat ini. Betapa kita masing-masing sangat disibukkan dengan berbagai hal setiap hari, sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan hal-hal lain yang sebenarnya perlu juga dilakukan.

William Penn (1644-1718), seorang filsuf dan entrepreneur Inggris yang membangun negara bagian Pennsylvania di Amerika Serikat, pernah berkata: Time is what we want most, but what we use worst”. Kita selalu membutuhkan lebih banyak waktu, tetapi sering kali kita tidak memanfaatkannya dengan baik. Time management, atau pengelolaan waktu, merupakan topik yang sudah, sedang dan akan terus dibicarakan dan didiskusikan. Berbagai macam metode pengelolaan waktu, beserta saran-saran untuk menyiasatinya ―sehingga seseorang akan dapat bekerja lebih banyak lagi dan menghasilkan lebih banyak lagi melalui waktu yang dimilikinya―banyak ditawarkan dalam bentuk seminar, buku, pelatihan, dsb. Intinya, banyak orang menyadari bahwa pengelolaan waktu adalah hal yang penting dalam kehidupan mereka dan terus berusaha untuk mendapatkan jawaban dan/atau jalan keluarnya.

Sebagai orang Kristen, pertanyaan bagi kita adalah bagaimana kita memandang dan mengelola waktu dipandang dari aspek Tuhan? Apa yang Tuhan ajarkan melalui Firman-Nya mengenai cara seharusnya kita mengelola waktu kita?

Paling tidak ada dua kisah di dalam Alkitab yang menarik untuk dicermati ketika kita sedang membahas “waktu”.  Yang pertama terdapat di dalam kitab Yosua 10:12-14:

Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!”Maka berhentilah matahari dan bulan pun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN.

Di sini diceritakan kejadian ketika bangsa Israel sedang dalam proses untuk mengalahkan musuhnya, bangsa Amori. Yosua memohon kepada TUHAN untuk menghentikan matahari dan bulan, sehingga pasukan Israel memiliki waktu cukup untuk mengalahkan musuhnya.

Yang kedua terdapat di dalam kitab 2 Raja-Raja 20:9-11:

Yesaya menjawab: Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari TUHAN, bahwa TUHAN akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya: Akan majukah bayang-bayang itu sepuluh tapak atau akan mundur sepuluh tapak? Hizkia berkata: “Itu perkara ringan bagi bayang-bayang itu untuk memanjang sepuluh tapak! Sebaliknya, biarlah bayang-bayang itu mundur ke belakang sepuluh tapak.” Lalu berserulah nabi Yesaya kepada TUHAN, maka dibuat-Nyalah bayang-bayang itu mundur ke belakang sepuluh tapak, yang sudah dijalani bayang-bayang itu pada penunjuk matahari buatan Ahas.

Di sini diceritakan bagaimana Tuhan menunjukkan kuasa-Nya atas jagad raya ini dengan “memundurkan waktu” sebagai tanda untuk meyakinkan raja Israel pada waktu itu, Hizkia, bahwa Tuhan akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya, sesuai dengan apa yang disampaikan melalui nabi Yesaya.

Kedua kisah ini menggambarkan bagaimana seharusnya perspektif akan waktu dipandang dari sudut Allah.  Waktu adalah milik Tuhan. Dia yang menciptakannya dan hanya Dia pula yang bisa mengontrolnya. Manusia tidak dapat mengontrol atau mengelola waktu. Manusia tidak dapat menguasai waktu. Waktu akan datang dan pergi sesukanya dan tidak ada seorang pun yang dapat menahannya atau mengulanginya lagi. Tetapi Tuhan dapat melakukannya dan Dia akan melakukannya sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya. Yang dapat dilakukan oleh kita manusia adalah mengelola diri kita untuk memanfaatkan waktu yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Yang dapat kita kelola adalah purpose, goal, plan dan action di dalam hidup kita, yang kita lakukan sesuai dengan kehendak-Nya.

Prinsip pertama bagi kita dalam mengelola waktu adalah:

Waktu adalah milik Tuhan yang dianugerahkan kepada kita.
Kita harus memanfaatkannya untuk kemuliaan-Nya

Jika kita mengasihi Tuhan, tujuan hidup kita adalah untuk mengetahui rencana-Nya bagi kita. Dengan demikian obyektif hidup kita adalah cerminan dari tujuan hidup kita untuk menemukan rencana Tuhan dan menikmatinya. Sebagai konsekwensinya, jika kita sudah berkomitmen untuk mencapai sesuatu, maka segenap pemikiran, daya dan upaya kita tidak akan bisa lepas daripadanya. Tetapi, semua itu tidak ada gunanya kalau kita tidak mau untuk memulai langkah pertama dan melakukannya.

Dalam konteks di atas, sangat menarik kalau kita memperhatikan bagaimana kita mengalokasikan waktu kita setiap hari. Kita mungkin mengalokasikan 15-20 menit atau maksimal 2 jam dari waktu kita untuk fokus kepada Tuhan. Selebihnya, kita pergunakan bagi kepentingan kita sendiri. Tidak demikian dengan Tuhan. Jadwal Tuhan selalu dipenuhi oleh nama kita setiap hari, setiap jam dan setiap detik. Itu adalah anugerah Tuhan bagi kita. Melalui Roh Kudus, Tuhan mencampuri kehidupan kita setiap saat, sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya, tanpa aturan yang dipahami oleh manusia, tanpa bisa diatur sesuai dengan jadwal kita. Karena itu, kita perlu selalu memberikan ruang dan mengundang Tuhan di dalam segala aspek kehidupan kita, sehingga setiap langkah dalam aspek hidup kita merupakan bagian dari rencana-Nya bagi kita.

Efesus 5:15-17 mengatakan:

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

Ayat ini memberikan kita petunjuk tentang bagaimana kita seharusnya menetapkan prioritas dalam hidup kita, yang pada akhirnya akan menentukan bagaimana kita mengatur kegiatan kita di dalam waktu yang kita miliki. Kita diminta untuk mempergunakan waktu kita dengan arif (bijaksana) dan tidak seperti orang bebal. Kita juga diminta untuk berhati-hati dan berusaha untuk mengerti kehendak Tuhan. Dengan demikian, kalau kita melakukan hal-hal yang bukan merupakan kehendak Tuhan, maka pekerjaan kita tersebut hanyalah menghabiskan waktu saja. Kita perlu memulai kegiatan kita setiap hari dengan pengertian yang jelas tentang apa yang Tuhan ingin kita capai hari itu. Jadwal kegiatan kita seharusnya mencerminkan satu skenario besar aktivitas kita dalam pencapaian maksud Tuhan bagi kita.

Beberapa hal yang dapat/perlu kita lakukan adalah sebagai berikut:

  • Doakan tujuan dan prioritas hidup kita.
  • Buat daftar jadwal mingguan kita saat ini.
  • Evaluasi apakah jadwal kegiatan kita sudah selaras dengan struktur prioritas hidup kita? Apakah kita perlu mengubah kegiatan kita untuk menyelaraskannya?
  • Ingat bahwa sesuatu yang perlu dikerjakan, tidak selalu berarti harus kita yang mengerjakannya.  Berani untuk berkata “tidak” kalau kita yakin bahwa bukan itu yang Tuhan ingin kita kerjakan.

Sementara itu, ada beberapa hal yang perlu kita renungkan ketika kita menggumuli jadwal mingguan kita:

  • Setiap orang memiliki jumlah waktu yang sama, 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Jadi seharusnya kita semua juga memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan berbagai hal, dilihat dari sisi jumlah waktu yang tersedia.
  • Kita akan selalu memiliki cukup waktu untuk melakukan kehendak Tuhan. Dia yang memiliki dan menguasai waktu, sehingga Dia pasti akan memberi kita waktu yang cukup untuk melakukan kehendak-Nya. Apakah kita sudah memahami yang mana yang merupakan kehendak-Nya dan mana yang merupakan kehendak kita saja?
  • Kehilangan waktu sering kali terjadi melalui hal-hal yang kecil. Karena kita tidak disiplin, maka sering kali kita banyak kehilangan waktu. Misalnya bangun lebih siang dari yang direncanakan, menonton TV lebih lama dari yang seharusnya, datang terlambat ke suatu acara/pertemuan, dsb.
  • Bersantai bukan merupakan hal yang membuang-buang waktu. Konsep Sabat di dalam Kitab Suci mengajarkan bahwa sebagai manusia kita membutuhkan waktu untuk beristirahat, untuk refreshing. Bahkan Tuhan sendiri sudah memberikan contohnya ketika Dia menciptakan dunia dan segala isinya.
  • Pengelolaan aktivitas kita, mencerminkan sejauh mana kita mengenal kehendak Tuhan bagi kita. Tuhan memiliki rencana bagi kita masing-masing dan Dia ingin kita menjalani dan mencapainya bersama-Nya, di dalam sukacita-Nya. Kita perlu memahami rencana-Nya bagi kita dan memakai setiap detik waktu yang diberikan-Nya untuk pemenuhan rencana-Nya tersebut.

Prinsip kedua bagi kita dalam mengelola waktu adalah:

Doakan dan cari rencana-Nya bagi kita.
Tetapkan jadwal kegiatan kita sesuai dengan rencana tersebut.

Alkitab sering kali disebut sebagai life manual book from God, tetapi contoh yang paling sempurna ―bagaimana seseorang harus menggunakan waktunya– adalah kehidupan Yesus Kristus di dunia ini. Kisah kehidupan Tuhan Yesus merupakan kisah sukses sejati yang terbaik, karena Dia menyelesaikan tugas-Nya dari Allah Bapa dengan sempurna. Yesus sangat memahami apa yang menjadi tugas-Nya sesuai dengan rencana Tuhan di dunia ini, dan Dia menyelesaikannya dengan sempurna dalam waktu 33 tahun.

Mengikuti cara Yesus memanfaatkan waktu-Nya tidak mudah. Banyak yang harus dikorbankan untuk itu. Sebagian waktu habis untuk kepentingan orang lain dan sering kali hidup kita akan dijungkir-balikkan oleh Tuhan dan dibawa ke jalan yang tidak pernah kita bayangkan. Tuhan juga akan memilih kita untuk melakukan tugas yang tidak akan pernah kita pilih. Matius 26: 39 mengatakan:

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Bahkan Kristus pun di dalam bentuk-Nya sebagai manusia, pernah mengalami pergumulan itu. Di taman Getsemani sempat timbul keengganan-Nya untuk mengikut kehendak Tuhan. Tetapi di dalam kesempurnaan-Nya, Kristus menyerahkan diri-Nya pada kehendak Bapa. Demikian juga seharusnya dengan kita. Ketika kita sudah berkomitmen untuk memakai waktu yang dianugerahkan Tuhan bagi kita untuk kemuliaan-Nya, ketika kita sudah mendoakan dan mencari rencana-Nya bagi kita, dan ketika kita sudah menjadwalkan (dan melakukan) kegiatan kita sesuai dengan rencana tersebut, maka yang tersisa adalah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya.

Prinsip ketiga bagi kita dalam mengelola waktu adalah:

Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi

Kita harus menyadari bahwa kita hanyalah penatalayan dari segala hal yang Tuhan berikan bagi kita. Segala kemampuan, kepandaian, kekayaan kita dan waktu kita adalah anugerah Tuhan yang harus dipakai untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya dan bukan apa yang kita kehendaki.

Beberapa saran praktis yang dapat dipertimbangkan dalam kita membagi waktu kita adalah:

  • Perlakukan to-do list kita sebagai pokok doa kita setiap hari.
  • Buat not-to-do list untuk memastikan kita tidak menggunakan waktu untuk hal yang tidak berguna bagi Tuhan.
  • Alokasikan paling tidak 15 menit setiap hari untuk diri kita sendiri, sebagai waktu untuk berkontemplasi dan recharging.
  • Lebih berani untuk mengatakan TIDAK bagi hal-hal yang kita percaya bukan kehendak Tuhan untuk kita lakukan.

Pada akhirnya, Leonardo da Vinci pernah mengatakan, “Time stays long enough for those who use it (as per God’s will)”.  Kita harus mengimani dan percaya bahwa kalau semua jadwal kegiatan kita sudah kita sesuaikan dengan prioritas hidup kita untuk memuliakan Tuhan, dan sudah kita gumulkan dalam doa kita kepada Tuhan, maka Tuhan akan memampukan kita untuk menyelesaikannya dengan baik.

Jika kita masih merasa kewalahan dengan jadwal dan waktu kita, maka kita perlu untuk instropeksi kembali apakah memang yang kita kerjakan adalah yang Tuhan ingin kita lakukan?

Apakah kegiatan kita setiap hari (apa pun itu) didasarkan untuk kemuliaan-Nya? Ataukah untuk memenuhi keinginan dan ambisi kita sendiri?

 

Chandra Suria
(dipresentasikan di dalam Persekutuan SubKomisi Dewasa Muda, GKI Pondok Indah, Sabtu, 26 Januari 2013)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan