Tidak Virgin

Tidak Virgin

Belum ada komentar 201 Views

Ini oleh-oleh kecil saya diundang bicara di Presbyterian Church Singapura, awal Oktober lalu. Dari berbicara di Bina Pranikah, selain di Komisi Pemuda saya memperoleh hal yang agak berbeda dengan yang selama ini pernah saya dapat dari audiens kelompok yang sama di Indonesia dalam hal seksualitas dan tata nilai pergaulan. Dari kalangan senior saya memetik info ihwal anak muda di sana. Apakah yang agak berbeda itu?

BIASANYA kalau saya memberikan ceramah pendidikan seks (di sekolah-sekolah), atau memberikan kegiatan bina pranikah (di sejumlah gereja), pertama-tama satu yang saya pancing dari audiens di awal pertemuan, selain dari kuesioner yang saya ajukan, “Apakah pihak laki-laki bersedia menerima kalau calon istrinya sudah tidak virgin?” Selama ini belum pernah saya mendengar ada jawaban bersedia.

Buat saya sedikit aneh bila di audiens di Singapura yang tidak terlampau banyak itu, dari satu kali pertemuan, saya mendengar ada tiga orang pemuda yang menjawab bersedia menerima sekiranya calon istrinya sudah tidak virgin. Mereka berumur di atas 25 tahun, dan tentu belum menikah. Di kesempatan terpisah bina pranikah, juga ada yang mengiyakan sikap yang sama.

Dari interaksi omong-omong hidup sehat dengan kalangan senior di hari yang lain, saya mendapat kesan bahwa pergaulan anak muda Singapura sebetulnya nyaris tidak berbeda dengan anak muda Indonesia. Satu-dua memang ada yang lebih nakal. Namun rata-rata lebih kurang sama. Sebagian dari mereka malah terlambat menikah bukan karena tak suka, tapi mendahulukan karier dan bekerja.

Lalu kenapa ada pemuda yang bisa menerima seandainya calon istrinya sudah tidak virgin, dan anak-anak kita di Indonesia sini dari sampling yang padahal lebih banyak (sejak tahun 1985 sampai sekarang, mungkin sudah ribuan anak sekolah dan calon pengantin yang saya pernah tanya ihwal virginitas) belum satu pun yang sudi menerima calon istri andai sudah tidak virgin?

Buat saya ini pertanyaan besar dengan jawaban yang masih lepas terbentang.

Tahun 1984 saya ikut Kongres Seksualitas Nasional di Bali. Waktu itu ada penelitian pendahuluan pada sebuah SMA di Denpasar ihwal virginitas. Dari kuesioner terungkap, bahwa semua siswa tak mau menerima kalau calon istrinya sudah tidak virgin. Siswa yang sama setuju dengan seks bebas, yang berarti boleh membuat siswinya menjadi tidak virgin lagi.

VIRGINITAS seharusnya dijadikan tema besar dalam kesibukan pendidikan seks kita, karena dua hal. Pertama, buat kultur kita, setiap remaja puteri masih memikul stigma kalau sudah tidak virgin. Dan kedua, hampir pasti malah menghalanginya memetik indahnya hari depan.

Saya pernah menulis soal reparasi selaput dara (hymen repair) di sebuah majalah wanita tahun 90-an. Ketika itu sedang in jasa diam-diam itu di sebuah klinik. Seorang wanita mengirimi saya surat dari Medan menanyakan berapa ongkosnya, dan dia mengaku sudah mengumpulkan uang untuk reparasi selaput daranya yang sudah koyak ke Jakarta. Ia pembantu rumah tangga. Majikannya memperkosanya.

Dalam benak saya merenung, selevel pembantu rumah tangga, virginitas begitu merisaukan hidupnya. Mestinya bagi remaja puteri, anak sekolahan, dari keluarga baik-baik, mengalami hal yang sepilu itu, harus lebih sangat merisaukannya lagi. Apalagi mengingat tidak ada lelaki yang sudi menerima kalau calon istrinya sudah tidak virgin. Kalau saja diberi tahu akan hal itu, para remaja, khususnya remaja puteri mestinya bakal membuat mereka jadi sangat risau.

Kita tidak punya data yang sahih soal angka tidak virgin anak sekolah kita. Tapi realitas yang ada menunjukkan, angka anak sekolah yang sudah tidak virgin agaknya tidak menurun melihat pola dan gaya pergaulan anak sekarang. Dari pembicaraan informal dengan beberapa bidan di Jakarta, dan pihak klinik bersalin, permintaan aborsi sekarang sudah datang dari siswi SD. Angka permintaan aborsi kalangan anak sekolah pun, konon, terus bertambah.

Virginitas perlu terus dibicarakan karena sekali stigma itu sudah melabel dalam diri seorang “gadis”, segera itu menjadi sangat dilematis. Mengapa? Lantaran ia akan menjadi seorang calon istri yang serba salah.

Mengaku tidak virgin kepada calon suami, belum tentu bakal diterima, atau malah kemungkinan diputus hubungannya. Atau kalau pun diterima, kelak jadi kartu truf bagi pihak suami untuk menyudutkannya. Saban kali bertengkar dalam hidup perkawinannya, suami mungkin saja akan bilang, “Bukankah kamu dulu sudah tidak virgin. Jadi aku kan boleh-boleh saja berbuat macam-macam sekarang!”, misalnya.

Andaikata saat sebelum komit untuk menikah, tidak mengaku kalau sudah tidak virgin pun, akan muncul masalah malam pengantin yang tidak berdarah (Ketika awam masih beranggapan kalau malam pengantin harus berdarah). Dari catatan, tak sedikit kasus remaja dengan status “nona-bukan-nyonya-bukan” begini, yang akhirnya memutuskan tidak kawin, dan sebagian hari depan mereka telanjur gumpil.

JADI sesungguhnya betapa berharganya upaya sekolah memberikan pendidikan seks, ketika pihak orangtua gamang harus bicara apa. Indonesia sudah meratifikasi bahwa hak reproduksi milik setiap remaja (Konferensi Kependudukan Dunia, di Kairo 1994).

Namun kita belum memberikan hak itu bagi remaja kita. Maka angka-angka seperti angka kecelakaan seks, kawin muda, putus sekolah, janda muda, anak tanpa ayah, aborsi, kehamilan yang tak diharapkan (unwanted child), AIDS, semua itu barang pasti bagian dari akibat diabaikannya pendidikan seks bagi anak. Sejatinya pendidikan seks sudah perlu masuk kurikulum sejak masih TK mula.

Saya ingin memberi salut kepada sekolah Tirta Marta Jakarta yang sudah menciptakan modul pendidikan seks. Itu berarti bukan saja ada niat untuk memberi hak reproduksi sehat bagi anak, melainkan juga merasa berkepentingan untuk lebih serius menyusun perangkat pendidikan bagaimana menyelamatkan hari depan anak-anak sekolah dari godaan seksualitas. Godaan centil yang jauh lebih berat dibanding yang dihadapi generasi ayah-ibunya dulu, melihat begitu mengglobalnya informasi, genitnya tayangan televisi, dan entengnya internet bikin cawat moral anak muda sering kedodoran sekarang ini.

Bahkan di sebuah pojok kampung atau pedesaan, seorang remaja lugu yang jauh dari hiruk-pikuk pergaulan kota, bisa gampang mengakses siaran televisi Perancis yang semi-blue itu dari kamar tidurnya. Tanpa bekal pendidikan seks, berita remaja memperkosa anak tetangga sehabis nonton film perempuan nggak bisa beli baju, bukan kejadian sekali-dua.

Saya pribadi risau menyaksikan pola dan gaya pergaulan anak muda sekarang. Mereka seperti memasuki hutan rimba penuh hewan buas bernama seks dan seksualitas tanpa dibekali senjata, atau kemampuan menembak. Nasib mereka hanya tinggal pada bekal iman.

Kita melihat rata-rata anak muda di Amerika memang sudah menguasai pendidikan seks dari kurikulum sekolahnya. Mereka sudah suntuk memahami hal-ihwal seks dan seksualitas. Namun kalau nyatanya masih seks bebas, kecelakaan seks, hamil sebelum menikah, dan aborsi masih tinggi, jangan salahkan pendidikan seksnya.

Bisa jadi itu urusan bekal iman. Jadi memang tak cukup hanya pembekalan pendidikan seks belaka. Ketakutan sejumlah pihak di kita kalau pendidikan seks menjadi “knowing is doing” sampai sekarang juga belum terbuki, kalau makna pendidikan seks bukan diterjemahkan sebagai praktik seks seperti halnya yang diberikan dalam konseling perkawinan, atau bina pranikah.

Kondisi anak-anak sekolah, dan pemuda kita sekarang ini bukan saja tak punya bekal pendidikan seks, atau kalau pun punya sering tak lengkap, namun kebanyakan pendidikan iman pun belum ideal betul. Sering-sering lebih pada konsep “Patuhi apa yang aku katakan, dan bukan yang aku lakukan!” melihat pada saat yang sama semakin banyak kenakalan orangtua di depan mata anak.

DAMPAK sosial tidak virgin masih ruwet. Keruwetan ini sesungguhnya bisa dijadikan motivasi kuat agar para siswi mempertahankan keutuhan selaput daranya, dan tidak mengumbar kegadisannya sejak jauh hari sebelum hari perkawinannya.

Kalau selaput dara sudah cacat, selain hari depan sudah lecet, sedikit cara untuk menyembunyikan bila selaput dara sudah tak utuh. Tidak pula dengan teknik tinggi operasi selaput dara. Karena kalau bicara manusia “virgin” seutuhnya tentu bukan cuma “virgin” secara fisik, melainkan tentu tetap perlu “virgin” pula sosok jiwa, sosial, dan spitirualitasnya.

Bila ternyata sudah tidak virgin, mungkin betul calon suami bisa dikelabui. Mungkin juga betul sesiapa bisa dikibuli. Tapi jiwa yang sudah tidak “virgin”, roh yang sudah lecet, dan spitirualitas yang ompong, akan tetap membekas di hati. Hati kecil kita sendiri yang akan terus merasakannya dan memikulnya sebagai kealpaan yang belum ada satu pun cara untuk menghapuskannya. Tidak juga cukup bisa ditips-ex dengan bertobat semata.

Pergaulan anak muda kita sekarang berkubang dalam situasi kepalang tanggung. Pergaulan seksnya sudah demikian beringas. Namun sikap ksatria pemerintah untuk membekali semua anak-anaknya masih malu-malu kucing. Maka yang terjadi sekarang ialah skandal. Skandal karena orang yang lebih tua tidak memberikan hak anak-anaknya untuk eling waspodo ketika memasuki rimba belantara bernama seks dan seksualitas.

Kalau memang nyatanya sudah memilih permisif seks, sepatutnya harus tulus pula menerima andai pasangannya sudah tidak virgin. Jangan sampai seksnya mau, tapi bekasnya ogah! Atau sepatutnyalah memilih menolak itu semua, dan berikrar untuk membentengi diri dengan bekal tahu seks, dan iman yang harus terus naik kelas.

Kalau itu yang dipilih, orangtua dan sekolah wajib menyebarkan ikrar bagi anak gadisnya. Mantapkan diri setiap remaja puteri untuk berikrar agar tetap virgin sebelum memasuki pintu perkawinan. Ini harus menjadi bagian dari kredo hidup setiap gadis. Dengan cara begitu sekaligus mengajarkan kepada remaja putera juga untuk tidak sembrono, tidak gegabah, dan tidak seenaknya mengambil keputusan pendek seks yang berisiko merusak hari depan mereka berdua.

Salah satu pil pendidikan seks yang belum sempat remaja kita rutin minum kini, sesungguhnya juga ikut memberi efek dalam menjinakkan kodrat seks yang dibawa semua remaja agar menjadi lebih beradab.

Tabiat kodrat seks remaja di mana-mana dunia tidak berubah. Dari zaman kuda gigit besi, sampai zaman rambut berduri seperti sekarang ini, kodrat seks manusia sejatinya barang liar, dan tidak pernah menjadi kuno. Hanya bedanya, pergaulan zaman sekarang cenderung mengumbarnya.

Setiap sikap orang yang lebih tua membatasi pergaulan bebas dianggap anak sebagai sikap yang kuno. Dan perlawanan generasi muda terhadap nasihat yang kuno itu yang anehnya tapi nyata, sering bikin kancing dan retsleting kolor hari depan mereka sudah pada copot semua ketika umur mereka masih sangat belia.

Astaga!

Handrawan Nadesul

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan