Tetap Setia Kepada Tuhan

Tetap Setia Kepada Tuhan

Belum ada komentar 461 Views

Tetapi aku dan seisi rumahku akan beribadah kepada Tuhan (Yosua 24:15)

Judul di atas didasarkan pada Yosua 24:15 dan dipakai penulis dalam renungan Doa Subuh GKI Pondok Indah, Sabtu 10 Februari 2007. Tulisan ini mengembangkan lebih lanjut renungan tersebut. Selain melihat ucapan Yosua sebagai ikrar keluarga, dikemukakan juga Ikrar Tuhan dalam proklamasi-Nya yang direkam dalam Yohanes 3:16. Penulis juga mengajak kita melihat berkat Tuhan yang menyertai pelaksanaan ikrar itu dengan merujuk pada Maz. 73: 23-26.

Dalam tulisan ini dibagi juga kesan perayaan Natal 2006 di gereja di kota Makassar, di mana penulis mengaku percaya beberapa puluh tahun yang lalu.Yang dijadikan juga bahan renungan ialah dekorasi Natal di gedung gereja yang menampilkan Santa Clause dengan kereta saljunya, serta dikumandangkannya lagu-lagu Barat yang biasa didengar di pusat perbelanjaan. Suasana “Natal” itu dipakai untuk membuat bisnisnya ramai meriah. Dalam konteks itu, kita diajak untuk merenungkan bagaimana jatidiri GKI?

Ikrar Keluarga

Sebagai kepala keluarga dan kepala suku Efraim, sang jenderal besar, Yosua bin Nun, yang menggantikan Musa sebagai pemimpin umat Israel membuat pernyataan resmi, bahwa: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.” Itulah ikrar keluarga Yosua yang dinyatakan secara dramatis kepada Tuhan dan disaksikan oleh seluruh umat Israel. Memang Yosua sengaja melakukan itu di depan keluarganya, yang disaksikan sukunya Efraim bahkan seluruh umat Israel, agar dampak ikrarnya itu bukan saja menjadi perekat keluarga dan sukunya, tetapi menjadi anutan seluruh umat Israel. Itulah cara Yosua memimpin keluarga dan bangsanya dengan motivasi menanamkan nilai-nilai rohani pada keturunannya dan bangsanya. Yosua, sang pemimpin, memiliki visi segar agar generasi penerus, angkatan demi angkatan, akan tetap beribadah kepada Tuhan. Itulah sosok seorang pemimpin visioner yang sangat dibutuhkan masyarakat, tetapi merupakan barang langka dewasa ini.

Dalam Alkitab kita jumpai suatu keluarga lain, yakni Elkana dan Hana. Ibu Hana minta anak kepada Tuhan disertai ikrar yang kemudian direalisasinya dengan menyerahkan anak mereka, Samuel, untuk melayani Tuhan: “Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan.” (1 Sam 1:28). Ternyata, Hana yang minta satu anak, tetapi Tuhan memberikannya tiga anak laki-laki dan dua perempuan (1 Sam 2:21). Jadi minta satu, tetapi dapat enam.

Itu cerita Alkitab Perjanjian Lama. Tetapi dalam sebuah kisah kontemporer penulis mengenal dengan baik suatu keluarga, yang suami istri adalah pendeta. Mereka bukan saja menyerahkan satu anak, seperti dalam kisah Samuel, tetapi semua anak dipersembahkan kepada Tuhan. Hal ini dilakukan pada suatu upacara di depan mimbar gereja, yang terjadi pada pukul 12.00 malam, disertai penumpangan tangan sang ayah dan ibu, seraya mengucapkan dengan khidmat berkat imamat (Bil. 6:22-23). Berkat yang diucapkan itu menyertai realisasi ikrar keluarga ini, sehingga selalu hadir seorang pendeta pada setiap generasi.

Ikrar Tuhan

Baik ikrar keluarga Yosua dan Elkana-Hana dalam Alkitab Perjanjian Lama, demikian pun dalam sejarah kontemporer tentang ikrar keluarga pendeta kita, semuanya bersifat antroposentris, karena titik sentralnya adalah manusia yang berikrar kepada Tuhan. Ikrar itu berwujud janji keluarga kepada Tuhan, yang disertai berkat dalam pelaksanaannya.

Ternyata dalam hubungan dengan manusia ciptaan-Nya Tuhan mempunyai rencana agung, yang diikrarkan-Nya dalam proklamasi yang direkam oleh Rasul Yohanes (Yoh. 3:16). Ikrar tersebut bersifat theosentris, karena titik sentralnya adalah Tuhan, yang mencari manusia dan merendahkan diri untuk hidup di tengah umat yang dikasihi-Nya (Yoh.1:14). Peristiwa realisasi ikrar tersebut dirayakan umat-Nya setiap tahun dalam menyambut kedatangan Sang Bayi Natal.

Namun, perkembangan kontemporer tentang ikrar Tuhan yang dirayakan dalam wujud acara perayaan Natal memperlihatkan kadar komersial yang kian meresap masuk, sehingga terjadi kontaminasi kadar tinggi. Sewaktu mengikuti kebaktian Natal 2006 di gereja di kota Makassar, di gereja mana puluhan tahun yang lalu penulis mengaku percaya, pandangan penulis merekam sesuatu yang asing. Agak tercengang juga melihat dekorasi di dinding gereja pada sisi kiri dan kanan mimbar, di mana terpancang gambar besar kereta salju, kendaraan ajaib Santa Clause.

Adalah sangat mengganggu bagi penulis apabila harus mengagumi Santa Clause di dalam gereja, apalagi bila disertai iringan lagu Jingle Bells, Rudolph the Reindeer, White Christmas, I saw Mommy kissing Santa Clause, dan sejenisnya. Semuanya hampa dan tanpa nilai Natal! Ini sama saja dengan kegemerlapan lampu-lampu hias yang memeriahkan suasana “Natal” di Ginza, Tokyo, tetapi samasekali tidak ada urusan apa pun dengan kedatangan Kristus, Sang Bayi Natal. Apakah perayaan Natal itu laksana tanaman di pot yang dipindahkan dari “sono” ke bumi Indonesia? Dalam konteks itu, apakah jatidiri GKI? Apakah hendak menampilkan diri sebagai Gereja Kristen di Indonesia, atau Gereja Kristen Indonesia? Terserah!

Berkat Tuhan

Ikrar Yosua dan seisi rumahnya, keluarga Elkana-Hana, demikian pun ikrar pendeta kita dalam sejarah kontemporer, merupakan perekat keluarga dalam menjalani hidup dan kehidupan melalui kegiatan kesaksian dan pelayanan, angkatan demi angkatan, dengan mempergunakan talenta-talenta pemberian Tuhan. Di dalam pemahaman iman kita, yang dipersembahkan kepada Tuhan sebagai ucapan syukur, adalah apa yang diterima dari Tuhan, dengan merujuk kepada peristiwa Bukit Muria (Kej. 22:13-14). Musa mempersembahkan ucapan syukur kepada Tuhan, yakni seekor domba jantan yang diterimanya dari Tuhan. Karena Tuhan adalah suci, maka persembahan yang berasal dari pada-Nya adalah suci. Oleh karena itu persembahan Musa adalah suci, dan Musa terhindar dari kecenderungan manusiawi untuk mengklaim, bahwa persembahan itu adalah hasil karyanya.

Memang harus diakui bahwa pelaksanaan ikrar itu, sebagai perekat keluarga, tidak semuanya berjalan dengan baik, bahkan pada kasus Samuel, sang hakim terakhir umat Israel itu mengalami kegagalan. Hal itu diakui dengan sedih oleh Samuel, apabila dia menulis: “Tetapi anak-anaknya tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.” (1 Sam 8:3). Kutipan itu memberi kesan seolah-olah diangkat dari pemberitaan masalah korupsi di suatu harian di Megapolitan Jakarta, 12 Januari 2006. Agar tetap kontemporer, maka dikemukakan sebuah interview Larry King Live dari CNN. Yang diinterview ialah seorang pendeta dalam kaitan dengan peringatan ulang tahun kelimapuluhnya (Golden Jubilee) sebagai evangelis. Beliau adalah juga Pendeta Gedung Putih selama jabatan tujuh orang presiden Amerika. Sewaktu diajukan pertanyaan apakah yang akan dilakukannya apabila dia diberikan kesempatan lagi memulai kegiatannya sebagai evangelis? Tanpa ragu-ragu sang yubilaris menjawab: “I’ll spend more time with my family.“

Ternyata Hakim Samuel sangat sibuk melayani Raja Saul dan Raja Daud, demikian pun evangelis kita yang sangat terkenal itu merasa di rumah di mana-mana pun di muka bumi ini, terkecuali di rumahnya sendiri (Belanda: men was overal thuis, behalve thuis), sehingga ikrar tidak menjadi perekat keluarga, karena dilupakan peran sebagai imam dalam keluarga.

Namun, selalu terdapat keyakinan atas berkat Tuhan yang siap dianugerahkan dan diterima oleh keluarga, tetapi dalam keserasian pelayanan dan di dalam keseimbangan antara tugas dan tanggung jawab kepada keluarga, seraya mengingat akan jaminan berkat itu (Maz. 73:23-26).

Paul P. Poli

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan