Tetap mengasihi walau ditolak

Tetap mengasihi walau ditolak

Belum ada komentar 19 Views

Kata orang cinta romantik amatlah berbeda dengan cinta sejati. Cinta romantik adalah cinta yang menginginkan diri orang yang dicintai. Apa pun yang ada pada diri orang itu, bahkan perasaannya, mimpinya, sejarahnya, waktunya, ingin dimiliki sepenuhnya. Sedangkan cinta sejati adalah cinta yang menginginkan yang terbaik bagi orang yang dicintai. Apa pun adalah demi orang itu, bahkan ketika itu berarti yang terburuk bagi diri sendiri. Cinta sejati yang seperti itu sangatlah ideal. Lebih mudah menekadkannya, apalagi sekadar mengatakannya, ketimbang memraktikkannya. Dan halnya menjadi kritikal ketika terjadi penolakan.

Bayangkan, orang yang kita cintai, dan yang kita yakini mencintai kita, tiba-tiba berhenti mencintai kita. Di samping itu ia memberikan kesan yang amat kuat bahwa ia kini membenci kita. Apa pun yang kita lakukan dan katakan, salah di matanya. Bahkan rasanya menatap kita pun ia enggan. Celakanya kita tidak bisa berhenti memikirkannya. Karena biar pun ia telah berhenti mencintai kita, bahkan membenci kita, kita tidak bisa berhenti mencintainya. Pada satu sisi hati kita remuk-redam, pada sisi lain hati kita adalah persemaian cinta yang niscaya tetap hijau baginya. Dan lambat laun, seiring dengan pupusnya harapan untuk mendapatkan kembali cinta yang hilang itu, dari persemaian hijau itu tumbuh sebuah doa, agar orang yang kita cintai itu mendapatkan yang terbaik.

Begitulah kasih Yesus bagi Yerusalem, bagi umat Bapa-Nya, Israel, bahkan bagi segenap ciptaan. Betapa pun IA ditolak, betapa pun IA meratap, IA tidak menyurutkan tekad-Nya untuk memeluk Yerusalem dan dunia dengan kasih dan pengorbanan-Nya di kayu salib. Inilah kasih yang sejati. Yang bahkan jauh melebihi cinta sejati di atas. Karena kasih Kristus bukan cuma menginginkan yang terbaik bagi Yerusalem dan segenap ciptaan, tetapi memberikan yang terbaik. Yaitu diri-Nya sendiri, seutuhnya.

Bagaimanakah dengan kasih kita? Terhadap Tuhan? Terhadap sesama?

PWS

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Yesus dan Petrus
    Ketika Yesus dan Petrus (dan kita) Saling Menghardik
    Yes. 50:4-9; Mzm. 116:1-9; Yak. 3:1-12; Mark. 8:27-38
    Percakapan dimulai dengan sangat indah. Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?” Lantas para murid mengajukan...
  • anjing dan ludah
    Antara Anjing dan Ludah
    Bacaan Injil kita minggu ini menyajikan dua kisah penyembuhan; yang satu berisi penyembuhan Yesus atas anak seorang perempuan Siro-Fenisia...
  • Ritualisme atau Hati yang Bersih
    Ulangan 4:1-2, 6-9; Mazmur 15; Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8, 14-23
    Insiden “penistaan agama” terjadi lagi. Kali ini menimpa para murid Yesus. Pelapor dan penuntutnya adalah “serombongan orang Farisi dan...
  • Bersama Mengukir Narasi Cinta Bagi Bangsa
    Ulangan 10: 12-22; Mazmur 15; Roma 2: 12-29; Markus 12: 28-34
    Merupakan anugerah dari Tuhan saat ini GKI melangkah memasuki usianya yang ke 30. GKI menyebut dirinya sebagai Gereja Kristen...
  • Libatkan dan Alami Tuhan
    Ams. 9:1-6; Mzm. 34:9-14; Ef. 5:15-20; Yoh. 6:51-58
    Melalui dua kata kerja “mengecap dan melihat” menurut pemazmur, seseorang dapat mengenal dan mengalami Tuhan dalam kehidupannya. Namun, pengenalan...
Kegiatan