Termites in Our Relationship

Termites in Our Relationship

Belum ada komentar 24 Views

Seorang istri pendeta bercerita sambil menangis setelah mengetahui bahwa suaminya yang dianggap baik, alim dan menjadi panutan banyak orang, yang senantiasa sibuk menghabiskan waktunya untuk bekerja dan melakukan segala sesuatu bagi keluarganya, ternyata telah 12 tahun melakukan perselingkuhan dengan wanita lain dan telah mempunyai seorang anak berusia 10 tahun.

Pada kesempatan lain, seorang istri yang begitu memercayai suaminya sehingga mengizinkannya mempunyai apartemen dekat kantor, supaya kalau kerjanya lembur nggak perlu repot-repot pulang ke rumah, juga mengeluh bahwa suaminya kedapatan selingkuh di apartemennya bersama wanita lain, bahkan mempunyai pasangan selingkuh tetap selama enam tahun terakhir. Kini ia di ambang sebuah dilema, ingin bercerai karena hatinya terluka, namun di sisi lain ia tidak mau kehilangan suaminya.

Juga cerita Pak Robert yang mengancam akan membunuh istrinya (yang telah memberinya 3 orang anak dan 2 orang cucu), kalau ia tidak menghentikan kebiasaannya yang semakin menjadi-jadi selama empat tahun terakhir ini, menghambur-hamburkan kartu kredit untuk belanja dan menebar utang di mana-mana.

Fenomena umum yang banyak terjadi di sekeliling kita. Dari luar tampaknya tidak ada gejolak apa pun dalam kehidupan keluarga. Tapi tiba-tiba terguncang karena suatu peristiwa yang sudah berlangsung lama namun tersembunyi dari permukaan, menyeruak. Pertanyaan sederhana yang kerap diajukan: “Kok bisa yaa?” … “Kok tiba-tiba saja yaa?”

Apa benar hal itu terjadi dengan tiba-tiba? 12 tahun atau 6 tahun, bahkan yang cuma 4 tahun, bukanlah suatu peristiwa yang baru saja terjadi, melainkan suatu kurun waktu yang panjang untuk membentuk kebiasaan atau hal yang pada akhirnya menjadi biasa (bagi pelakunya). Tapi selalu ada awal yang sama, baik bagi yang 12 tahun, 6 tahun maupun yang 4 tahun.

Sang pendeta beralasan istrinya terlalu sibuk sehingga ia mempunyai Wanita Idaman Lain yang bisa menjadi temannya berbicara, memberi pujian kepadanya serta menjadikannya obyek kasih sayangnya. Si pria apartemen berkata bahwa ia tidak suka ‘bau mulut’ istrinya yang menyebabkan hubungan dan keintiman dengan istrinya itu ‘rusak,’ lalu ia menemukan orang lain yang tidak punya masalah itu, dan berselingkuh dengannya. Ketika bisnis Pak Robert maju pesat, ia tidak pernah mempermasalahkan uang yang dihamburkan istrinya untuk belanja, tapi ketika bisnisnya menurun dan semua pengeluaran harus dihitung masak-masak, persoalan membeli hal-hal yang tidak perlu, menjadi sangat perlu diperhatikan.

Ada hal-hal kecil yang pada mulanya dianggap ‘kecil’ dan ‘tak berarti,’ sehingga tidak mendapat perhatian khusus untuk direspons. Dan hal-hal kecil inilah yang kemudian tumbuh subur di bawah permukaan dan menjadi persoalan yang bermasalah besar di ujung perjalanannya. Itulah ‘termites’ in our relationship. ‘Rayap,’ ‘tungau’ atau ‘penggerogot’ keharmonisan relasi kita dengan pasangan.

Bila kita terlalu abai dan membiarkan banyak ‘termites’ dalam relasi kita, maka masalah-masalah itu akan tumbuh subur di bawah permukaan dan menggerogoti fondasi serta sendi-sendi bangunan rumah tangga dan relasi kita, tanpa kita sadari sepenuhnya. Meskipun dari luar tampak baik-baik saja, tidak ada masalah, rukun, harmonis dan selalu kompak, namun sebenarnya di dalam bisa sangat keropos. Bila ada sedikit saja tekanan dari luar, bangunan yang tampak seolah-olah kokoh itu bisa hancur berantakan.

Kembali kepada pertanyaan sederhana yang mengiringi respons terhadap kejadian-kejadian yang seolah-olah tiba-tiba saja terjadi tadi, “kok bisa yaa?” … maka hal-hal di bawah inilah yang menjawab kenapa hal itu bisa terjadi dan baru ketahuan setelah kondisinya parah dan hampir tak terselamatkan.

Tidak Tahu. Jangan berpikir kalau ‘seolah-olah’ tidak ada apa-apa, maka pernikahan kita fine. Istri pendeta tadi tidak tahu kalau suaminya membutuhkan dirinya, membutuhkan pengakuan, membutuhkan afeksi darinya. Ia tidak pernah tahu hal itu karena mungkin tidak pernah dikomunikasikan. Karena semua yang ada dalam perhatiannya berjalan baik, maka ia semakin terlena dalam pikir dan tindakannya serta menganggap perkawinannya fine-fine saja, sampai akhirnya …..

Tidak Menyadari. Kita tahu ada sesuatu, tapi tidak menyadari kalau itu berbahaya. Perubahan ekstrim dari sebuah kebiasaan biasanya bukan tanpa sebab dan risiko. Terlalu seringnya frekwensi menginap di apartemen yang tadinya seminggu sekali lalu terus meningkat menjadi seminggu empat kali, seharusnya menimbulkan pertanyaan dan telaah yang lebih serius, dikomunikasikan, dan dicari solusi yang lebih baik. Rayap ‘sudah biasa’ itulah yang akhirnya menggerogoti bahkan menghancurkan relasi.

Menyepelekan. Menganggap tidak mungkin hal itu dilakukan karena status/penilaian kita atas pasangan kita itu baik. Terlalu percaya dan mengentengkan masalahlah yang menyebabkan persoalan pendeta dan pria apartemen di atas tidak diperhatikan sehingga berkembang, dari yang tadinya mungkin sekadar coba-coba, sampai akhirnya keterusan.

Bingung. Tahu adanya sesuatu yang tidak wajar, tapi tidak mengerti harus berbuat apa dan bagaimana. ‘Kegilaan’ belanja dan hura-hura sang istri bukannya tidak diketahui Pak Robert, tapi Pak Robert tidak cukup punya alasan dan cara menghentikan atau setidaknya menertibkannya. Hingga suatu ketika ….

‘Termites’ sangatlah berbahaya karena menyerang ke pusat ‘bangunan’ pembentuk relasi. Meskipun pada awalnya tidak kelihatan, bahkan hampir tidak dirasakan, namun apabila sudah sempat merusak fondasinya, efeknya bisa sangat berbahaya, bahkan menghancurkan. Hal ini bisa terjadi karena ‘termites’ menimbulkan efek kumulatif, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Dengan bukit persoalan itulah akhirnya kita berhadapan; kebesaran dan kekuatannyalah yang pada akhirnya menimbulkan kerusakan total.

Dua jenis ‘termites’ yang paling umum bersemayam di antara relasi kita adalah Asumsi dan Kebutuhan Emosional yang tidak terpenuhi.

Asumsi

Pengertian asumsi adalah ide atau gagasan seseorang tentang pemikiran, perasaan atau tindakan orang lain. Kenapa asumsi berbahaya? Sebab asumsi tidak selalu akurat. Manusia sering bertahan dengan asumsinya meskipun sudah ada konfirmasi dari orang yang bersangkutan bahwa asumsinya tidak benar, dan akhirnya terjadi konflik.

Kita cenderung mengintepretasi maksud orang lain berdasarkan pengalaman kita dengan orang tersebut atau pengalaman kita dengan yang lain. Kita sering melakukan ‘already always listening,’ artinya kita tidak memahami orang lain berdasarkan titik pandang yang baru. Kita berpikir, kita sudah tahu apa yang dimaksudkan oleh orang lain. Masalahnya adalah, sering kali kita salah interpretasi.

Kecenderungan memilih berasumsi dilakukan orang lebih karena alasan-alasan berikut:

Mengurangi rasa takut. Upaya menghibur diri dari kekhawatiran-kekhawatiran yang mencuat. Berusaha menekan dan melawan hal itu dengan berasumsi.

Menjawab pertanyaan ‘why?’ Kepenasaran manusia sering tidak dikuasai, oleh karenanya banyak yang mencoba untuk menghindar dari persoalan-persoalan ini dan berasumsi untuk menjawab kepenasaran tadi.

Communication breakdown. Masing-masing pasangan berkomunikasi dan nyaman dengan caranya sendiri. Suami akan ngomong kalau masalah sudah selesai dulu. Sementar istri asal sudah ngomong, tidak tergantung masalah sudah selesai atau belum, sudah lega hatinya. Tidak ada satu hal yang intim, masing-masing dikuasai asumsi. Bisa dibayangkan apa yang sering terjadi bila pola komunikasi masing-masing di antara pasangan seperti itu. Lebih banyak tuntutan pada teknis komunikasi menurut caranya sendiri dan jarang melakukan introspeksi untuk memadu-padankan pola komunikasinya.

Mempercepat proses. Timbul dari keengganan untuk berusaha tahu lebih jauh, lebih dalam dan lebih detail. Cukup puas dengan data dan informasi yang ada, lalu menambahinya dengan anggapan sendiri dan sudah menganggapnya sebagai suatu kebenaran, sehingga segera dapat disimpulkan.

Semua alasan di atas tidak terarah pada upaya penyelesaian atau mencari kejelasan persoalan, namun lebih pada upaya praktis mendapatkan kesimpulan akhir untuk tujuan-tujuan tadi.

Hal ini menimbulkan dampak negatif pada komunikasi dan interaksi serta menyebabkan kondisi yang tidak menguntungkan, antara lain:

  • Kita tidak hidup pada masa kini, tapi pada masa lalu atau masa depan, karena kita mendasarkan pemikiran kita pada pengalaman atau harapan kita dan bukan pada kenyataan yang enggan kita gali.
  • Not growing together but growing apart. Membiarkan pemikiran berjalan dan berkembang sendiri-sendiri tanpa ada upanya sinkronisasi.
  • Keputusan berdasarkan pemahaman yang salah – ilusi (kekanak-kanakan).
  • Stereotyping orang lain maupun diri kita. Menyimpulkan berdasarkan pengalaman orang lain maupun diri sendiri dan diterapkan pada segala situasi.
  • Menimbulkan kecemasan.
  • Membuat kita tidak dapat berjalan maju dan memaksimalkan potensi. Pengalaman masa lalu yang mengatakan tidak mungkin, menjadi limitasinya.
  • Tidak menghargai orang lain sebagai individu. Semua orang digambarkan sama.Apa yang pernah terjadi pada seseorang dianggap juga akan terjadi secara umum kepada orang-orang lainnya.

Secara umum begitulah dampak asumsi dalam komunikasi dan interaksi. Apabila hendak diteropong secara khusus dalam kaitannya dengan relasi bersama pasangan, maka dampak negatif asumsi dapat mengakibatkan hal-hal berikut:

  • Cenderung menimbulkan konflik karena manusia cenderung berpikir negatif.
  • Menggerogoti dasar relasi kita yaitu trust, respect, honesty, integrity.
  • Kita merasa dihakimi dan diberi ‘stempel.’
  • Komunikasi terputus.

Untuk alasan-alasan itulah maka kita harus menyingkirkan ‘termites’ pertama yang sangat berbahaya ini melalui keterbukaan dan kejelasan komunikasi dan informasi dalam berinteraksi dan memupuk serta mengembangkan relasi dengan pasangan.

Kebutuhan Emosional

‘Termites’ kedua yang tidak kalah berbahayanya adalah Kebutuhan Emosional yang tidak terpenuhi. Kita mengelola cadangan emosi seperti halnya rekening di bank, ada penyetoran dan juga ada pengambilan; ada hal-hal yang membuat emosi kita tertata dengan baik, stabil, tenang sehingga melahirkan perilaku yang menyenangkan, membangun dan memberdayakan, namun ada pula hal-hal yang membuat emosi kita kacau, bergolak, meledak sehingga menghasilkan perilaku yang menakutkan, membahayakan bahkan merusak.

Seberapa mampu kita bertahan untuk tetap pada sikap baik kita ketika persoalan datang menghampiri sangat tergantung pada seberapa cadangan emosi di dalam diri kita. Emosi yang terus-menerus diguyur dengan hal-hal baik, positif dan membangun akan menebal dalam sanubari kita menjadikan kita orang yang cenderung stabil, bahagia dan menyenangkan. Itulah setoran devisa emosi. Namun sebaliknya emosi yang terus-menerus dirongrong oleh hal-hal buruk, negatif dan menghancurkan, akan menguras cadangan emosi, menjadikannya kering dan akhirnya meluap tak terkendali.

Setoran dan pengambilan devisa emosi ini harus imbang dan dinamis. Terlalu berat di satu sisi akan berakibat tidak baik bagi pemegang’account’-nya. Di satu sisi kita bertindak sebagai Pemberi, mengurangi cadangan devisa untuk dibagi dengan pasangan, melalui tindak memperhatikan, memuji, mengerti, mengalah, menerima, mengampuni, memaklumi, inilah Pengambilan. Namun di sisi lain kita juga bertindak sebagai Peminta, berupaya menambah cadangan devisa dari share pasangan, kita melakukannya dengan meminta perhatian, mengharapkan sanjungan, memperoleh pengakuan, mendapatkan pemakluman, inilah Penyetoran. Dengan cara itulah kita mengelola Cadangan devisa emosi kita. Bila Kebutuhan Emosional kita tidak terpenuhi maka Cadangan Devisa Emosi kita semakin berkurang. Dan bila hal itu terjadi maka kita akan cenderung menjadi Peminta – Penuntut.

Ada tiga kondisi emosi dalam pernikahan yang berkembang menurut perilaku pasangan-pasangan yang ada di dalamnya.

Intimacy – Hal ini umum terjadi pada awal hubungan di mana seseorang ingin menjadi ‘Pemberi yang Dominan’ bagi pasangannya. Ia berusaha untuk terus menyenangkan pasangannya. Apa pun kondisinya akan ditekan terus demi mempertahankan ‘citra’ di hadapan pasangan. Namun demikian juga perlu diingatkan bahwa apabila hal itu terjadi secara tidak seimbang (artinya hanya satu pihak saja yang berlaku demikian) akan ada bahayanya juga. Memberi terus-menerus tanpa pernah mendapatkan pengisian kembali akan bisa menyebabkan cadangan devisanya habis. Sebaik-baiknya relasi pasangan adalah apabila masing-masing berupaya bertindak sebagai ‘pemberi yang dominan’ sebab dengan demikian selain mengisi, ia juga akan diisi oleh pasangannya. Apabila pernikahan mampu mempertahankan kondisi seperti ini terus, maka pernikahan itu akan bahagia dan langgeng.

Konflik – Kondisi lain adalah adanya pihak yang menjadi ‘Peminta yang Dominan.’ Terhadap pasangannya ia berlaku menuntut terus, mengharap diperhatikan terus, meminta dimaklumi terus. Meminta pasangan untuk melayaninya saja. Pemicu konflik terutama adalah terjadinya ketidakseimbangan dalam pengelolaan cadangan devisa emosi. Satu pihak menginginkan devisanya diisi/ditambah terus sementara pihak lain dituntut untuk terus-menerus mengeluarkan cadangan devisa emosinya. Konflik ini bisa merupakan efek berkelanjutan dari keintiman yang tidak seimbang/tidak bersambut, di mana pasangan yang berlaku sebagai ‘pemberi yang dominan’ tidak diimbangi atau tidak pernah diisi kembali sehingga cadangan devisa emosinya habis. Bila kondisi ini terus berlaku. maka ia pun bisa berubah menjadi peminta/penuntut. Bisa dibayangkan kondisi yang dimaksud apabila kedua pihak pasangan berlaku sebagai peminta/penuntut. Itulah konflik.

Menarik Diri – Merupakan perkembangan terakhir dari memburuknya kondisi dalam perkawinan. Sekalipun diawali dengan intimacy, namun apabila tidak dipelihara secara seimbang, maka akan memicu terjadinya kondisi yang lebih buruk yakni konflik. Konflik yang berkepanjangan dan tidak pernah diselesaikan, atau bahkan sudah tidak mau lagi berupaya mencari penyelesaian (desperate) akan menyebabkan tindakan menarik diri. Menjadi ‘peminta yang dominan’ namun sudah tidak mau bertindak apa-apa. Menggerutu tanpa berkeputusan, menuntut tapi tanpa pengharapan, ribut tanpa tujuan, apatis. Dalam kondisi ini sebenarnya kebersamaan pasangan menjadi dipertanyakan, mereka tidak lagi hidup bersama, tapi sama-sama hidup saja. Tidak ada lagi keintiman, kehangatan, kebersamaan. Hidup menjadi berat dan penuh penyesalan. Tidak mampu lagi menemukan alasan untuk bersyukur. Bahkan bisa menyakiti hati dan perasaan pasangan akan menjadi prestasi tersendiri.

Dua jenis termites semuanya merusak dari dalam. Pada tahap awal semuanya tampak demi kebaikan. Pada tahap selanjutnya, menghancurkan.

Mari kita cek kehidupan pernikahan kita, apakah sudah ada telur-telur termites di dalam pernikahan kita? Bila ada, mari segera kita musnahkan sebelum terlambat.

Sujarwo

(ditulis kembali dari Couple Power Series: “Termites in Our Relationship” by Benny Siswanto)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan