Sukacita

Sukacita

Belum ada komentar 20 Views

Masing-masing kita mungkin mempunyai satu atau lebih ayat Alkitab yang paling disukai karena satu atau beberapa alasan pribadi. Dalam 2 Tim 3:15-16 dikatakan, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Firman Tuhan, selain memastikan keselamatan jiwa kita dalam kekekalan, juga membantu kita menjalani hidup ini dengan benar.

Dua ayat yang senantiasa kami renungkan dan gumuli ialah Roma 8:28 dan 29. Ayat 28 mengatakan, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Sedangkan ayat 29, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”

Ayat-ayat ini menjadi pegangan dan penghiburan bagi kami di dalam pergumulan hidup yang melelahkan, terutama bagi saya pribadi ketika dulu istri saya, Vonny, mengalami kelemahan fisik yang sangat berat. Ayat 28 sungguh menjadi kekuatan bagi kami. Kebanyakan kita memang lebih menitikberatkan pada ayat 28, bahwa ada campur tangan dan kendali Allah atas apapun yang terjadi dalam hidup orang percaya, khususnya peristiwa-peristiwa yang membebani kita. Hal itu tentu tidak salah. Tetapi, dengan sudut pandang itu saja, kita justru dapat kehilangan hal lain yang lebih berharga. Pada kutipan ayat 29 di atas, tulisan ini memberi penekanan pada anak kalimat “untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.” Dengan ayat 28 kita sekadar seperti melihat pohon-pohon, tetapi dengan kaca mata ayat 29, kita melihat seluruh hutannya. Apa artinya?

Ketika kita melihat kedua ayat ini bersama sebagai suatu keutuhan, kita melihat indahnya rencana Allah, yakni bahwa segala yang kita alami dalam hidup ini, bukan semata untuk memberi kita kebahagiaan, tetapi bahwa pengalaman hidup kita tersebut sengaja Tuhan izinkan terjadi dengan maksud agar, sebagaimana disebut dalam ayat 29, kita akhirnya menjadi serupa dan makin serupa dengan Kristus. Inilah gambar utuh seluruh rangkaian kehidupan kita.

Gambar dan Rupa Allah

Ketika Tuhan menciptakan kita, Ia memakai gambar dan rupa (citra) Allah sendiri untuk menciptakan manusia. Karenanya manusia juga membawa sejumlah ciri ilahi, seperti daya cipta (memampukan kita melakukan invensi dan inovasi) dan hasrat akan adanya suatu kekekalan dan kesempurnaan mutlak (contohnya, ketika akhirnya kita dapat memiliki barang yang kita ingini, gairah kita akan barang tersebut tidak lagi sekuat semula ketika kita masih belum memilikinya). Pada awalnya, Adam dan Hawa sempurna. Tetapi citra Allah tersebut kemudian rusak karena dosa.

Sejak itu, manusia senantiasa mengalami pergumulan dan kesulitan hidup. Sakit-penyakit dan dosa merasuk dan bahkan merajut kehidupan kita. Semua itu terlalu berat untuk kita hadapi sendiri karena sebenarnya musuh kita adalah suatu kuasa roh. Efesus 6:12 mengatakan, “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Pemimpin roh-roh jahat itu adalah Lusifer, mantan Penghulu Malaikat Allah. Yehezkiel 28:3 memujinya sebagai makhluk yang hikmatnya melebihi hikmat Daniel; tiada rahasia yang terlindung baginya.

Karena itulah, Tuhan sendiri perlu dan harus datang ke dunia melalui Yesus Kristus yang adalah manusia sepenuhnya, tapi sekaligus juga Allah seutuhnya. Kedatangan Kristus ke dunia ini bukan hanya untuk membawa keselamatan jiwa bagi kehidupan kita yang kedua nanti, tetapi juga memberi dan meninggalkan model dan teladan tentang bagaimana menjalani hidup yang sekarang ini. Kristus hidup tanpa dosa. Karenanya, ketika Ia dibawa ke Mahkamah Agama Yahudi, para penuduh-Nya tidak dapat menemukan sebuah dosa pun pada-Nya walau mereka menggunakan sejumlah saksi palsu (Matius 26:59-60). Akhirnya mereka menggunakan pernyataan Kristus bahwa Ia adalah Anak Allah sebagai dasar tuduhan bahwa Yesus menghujat Allah, sehingga menurut mereka, Ia harus dihukum mati (Matius 26:65-66).

Kristus menjalani kehidupan-Nya bukan hanya tanpa dosa, tetapi di dalam Dia saja kita melihat model ketaatan yang sempurna bagi hukum utama Allah, yakni: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” dan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37 dan 39). Bahkan Kristus meminta kita untuk “mengasihi musuh kita dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kita” (Matius 5:44). Kristus telah menjalani semua itu dengan sempurna.

Lebih konkret lagi, dan sebagai pengembangan lebih lanjut dari hukum utama Allah di atas, kehidupan Kristus juga secara sempurna mencerminkan buah-buah roh yang diuraikan dalam Galatia 5:22, “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.“

Sebagaimana pohon dikenali terutama dari buahnya, demikian pula kualitas seseorang dapat dilihat secara konkret dari buah-buah kehidupannya. Apakah hidup kita berbuahkan “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri?“ Buah-buah roh ini memberi isi pada gambaran tentang Kristus, seperti yang disebut dalam Roma 8:29. Semakin banyak buah roh yang hadir dan terpelihara dalam hidup kita, semakin serupa kita dengan Yesus, Tuhan kita, hari demi hari, waktu demi waktu.

Tetapi, perlu diingat bahwa buah-buah roh sejati tidak dikaruniakan begitu saja. Dari namanya, buah-buah roh memang seperti “buah.” Ia dihasilkan melalui suatu proses di mana pohonnya akan banyak menghadapi serangan angin atau bahkan badai, dan rongrongan binatang bahkan manusia.

Di dalam konteks manusia, bagaimanakah kita dapat menghasilkan buah-buah roh sejati? Jawabannya ada di Roma 8:28 tadi, yakni melalui suka-duka kita. Penderitaan atau bahkan kelimpahan menjadi cobaan bagi kita. Buah-buah roh dihasilkan melalui cobaan hidup yang Tuhan izinkan kita hadapi. Allah seringkali mengizinkan terjadinya suatu keadaan di dalam mana kita digoda untuk melakukan sesuatu yang sifatnya secara langsung bertolak belakang dengan sifat-sifat buah-buah roh.

Ketika kita meminta Tuhan memberi kita SUKACITA, Tuhan justru mungkin membawa kita ke keadaan yang dapat membuat kita susah dan berduka. Saat kita bertekad untuk sabar, jangan heran bila ternyata kita kemudian menghadapi suasana yang dapat membuat kita marah dan emosional. Saat kita ingin mengasihi orang, justru kita dibawa pada situasi yang dapat mendorong kita untuk membenci.

Memang, kita tidak dapat memiliki karakter kasih dari Kristus tanpa ada orang yang sebenarnya berat untuk kita kasihi. Kita juga tidak dapat mempunyai SUKACITA yang menjadi citra Kristus bila kita tidak pernah menghadapi keadaan susah yang dapat menjauhkan kita dari sukacita. Bahkan kita tidak mungkin menjalankan penguasaan diri yang Kristus contohkan, bila kita tidak pernah mengalami kelimpahan harta duniawi yang menjadi sukacita duniawi dan dapat menjauhkan kita dari Kristus.

Intinya, pencobaan-pencobaan yang ada tersebut, melalui suka maupun duka justru memberi kita pilihan dan bahkan kesempatan untuk melakukan yang baik. Di saat kita punya pelbagai alasan untuk membenci seseorang, kita sejatinya punya pilihan dan kesempatan untuk melakukan sebaliknya, yakni mengasihi orang itu sehingga dengan demikian kita dapat menjadi serupa dengan Kristus.

Sisi lain dari fakta tersebut adalah bahwa sebagai makhluk yang diciptakan menurut citra Allah, kita diberi kehendak bebas (free will) untuk memilih dan menentukan apakah kita mengikut karakter Kristus atau menuruti tipu muslihat Iblis. Intinya ialah bahwa Allah ingin agar ketika kita mencintai-Nya, kita memutuskan hal itu sebagai hasil pilihan atas dua hal yang bertentangan. Bukankah cinta sejati lahir ketika ada pilihan?

Sukacita

Walau Kristus adalah Tuhan itu sendiri, Ia memilih dilahirkan di kandang binatang, menjalani kehidupan yang sangat sederhana, bahkan mati dengan cara yang paling menyakitkan dan memalukan.

Kita mungkin tidak pernah mendengar ada orang yang sedemikian miskinnya sehingga harus dilahirkan di kandang binatang. Tetapi Yesus demikian. Ketika tumbuh dewasa pun, Ia menjalaninya di Nazaret. Di dalam Yohanes 1:46, Natanael, yang kemudian menjadi salah satu murid Yesus, sempat berucap, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Yesus harus menjalani hukuman mati bukan karena ditemukan suatu kesalahan pada-Nya kendati telah dihadirkan sejumlah saksi palsu. Bahkan, cara mati dengan disalib merupakan simbol kehinaan yang paling berat karena tubuh orang yang disalib dipertontonkan di depan umum untuk menimbulkan efek jera bagi publik. Bagi yang disalib, kematian di atas salib juga sangat menyakitkan. Setelah dipaku (bahkan binatang pun tidak ada yang dipaku untuk dibunuh), korban penyaliban dibiarkan tergantung berjam-jam lamanya di bawah serangan panas matahari dan/atau hawa dingin sehingga membawa penderitaan hebat ketika menunggu dijemput maut. Bila terlalu lama tidak mati, kakinya dipukul dengan keras sampai patah sehingga tubuh akan melorot ke bawah, mendorong paru-paru yang terdesak dan dibanjiri darah sehingga dapat segera menghentikan pernapasan dan membawa kematian lebih cepat.

Apakah yang memampukan Yesus menjalani semua itu? Salah satu jawabannya ada di Ibrani 12:2: “…Yesus,… dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan tahta Allah.”

Rumusan dalam bahasa Indonesia di atas kurang dapat mengangkat makna penting ayat ini. Dalam Today English Version, disebutkan, “…Jesus… because of the joy that was waiting for him, he thought nothing of the disgrace of dying on the cross, and he is now seated at the right side of God’s throne.”

King James Version: “…Jesus … for the joy that was set before him endured the cross, despising the shame, and is set down at the right hand of the throne of God. “

Kristus mampu menyelesaikan misi-Nya di dunia ini karena Ia meletakkan pandangan-Nya, bukan pada apa yang ada di depan mata-Nya, tetapi pada SUKACITA yang menanti-Nya kemudian, setelah Ia menyelesaikan penderitaan-penderitaan-Nya itu. SUKACITA yang menanti-Nya ini bukan semata karena Ia akan duduk di sebelah kanan tahta Allah karena Ia memang sudah Allah itu sendiri, tetapi terlebih lagi karena kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya memberi kita, manusia yang jatuh dalam dosa, (a) teladan hidup yang sempurna, dan (b) pemulihan kembali hubungan kita dengan Allah Pencipta, sehingga dapat hidup bersama Yesus di Surga di dalam kekekalan.

Yang tidak kalah indah dari karya Kristus ialah bahwa di dalam Kristus, kita dapat memanggil Allah, Pencipta langit dan bumi, sebagai “Bapa.” Jikalau Allah adalah Bapa kita, tidak akan ada yang dapat memisahkan kasih-Nya dari kita. Dengan-Nya, kita dapat mengimani dan mengamini bahwa suka-duka yang kita alami memang Tuhan rancangkan atau izinkan terjadi, agar kita tidak saja bahagia, tetapi terlebih dari itu, agar kita dapat makin serupa dengan Kristus, hari demi hari, dengan setiap kemenangan kita atas segala pencobaan yang lahir dari suka-duka tersebut. Karena itu kita punya banyak alasan untuk bersukacita, seperti Kristus sendiri.

Fabian Buddy Pascoal

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan