Perilaku Orientasi Seksual, Apa Bedanya?

Belum ada komentar 471 Views

Bapak Pendeta Yth.

Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh maraknya pemberitaan tentang pernikahan sejenis. Bahkan beberapa negara di dunia mulai mengakui pernikahan sejenis dan mengesahkannya di Catatan Sipil.

  1. Apakah yang dikatakan Alkitab tentang homoseksualitas?
  2. Apakah homoseksualitas merupakan kecenderungan yang diperoleh sejak lahir (bakat), dan
  3. Bagaimana mencegah anak-anak kita dari penyimpangan tersebut.

Terima kasih atas penjelasan Bapak.

(Indri)

Sdr. Indri yang baik,

Memang akhir-akhir ini terjadi diskusi yang cukup marak tentang homoseksualitas. Karena itu saya bisa memahami jika Anda pun tertarik untuk menanyakan hal ini. Nah, untuk memahami tentang homoseksualitas, maka pertama-tama kita harus membedakan antara orientasi seksual dengan perilaku seksual.

Orientasi seksual adalah: ketertarikan secara seksual pada jenis kelamin tertentu. Jika tertariknya pada jenis kelamin yang berbeda, maka kita menyebutnya heteroseksual. Jika tertariknya pada jenis kelamin yang sama, kita menyebutnya homoseksual. Ada juga yang tertarik pada jenis kelamin yang berbeda maupun yang
sama, maka kita menyebutnya bi-seksual.

Namun, orang yang orientasi seksualnya homo, belum tentu melakukan perilaku seksual yang bersifat homo. Bisa saja ia tidak melakukan hubungan seks sesama jenis, tidak menikah atau bahkan untuk orang dengan orientasi bi-seksual, bisa saja ia memilih perilaku seksual yang bersifat hetero. Pendek kata, orientasi seksual adalah kecenderungan atau ketertarikan, sedangkan perilaku seksual adalah yang dilakukan atau dipraktikkan.

Mengapa saya mengajak Anda untuk memahami perbedaan antara orientasi seksual dengan perilaku seksual? Karena sejauh yang saya tahu, Alkitab hanya berbicara tentang perilaku seksual yang bersifat homo tetapi tidak berbicara tentang orientasi seksual yang bersifat homo secara eksplisit. Harus dipahami, bahwa orang yang perilaku seksualnya bersifat homo, tidak selalu orientasi seksualnya bersifat homo. Bahkan bisa saja orang dengan orientasi heteroseksual mempraktikkan perilaku seksual yang bersifat homo. Misalnya ketika ia berada di dalam penjara, dan karena ia tidak menemukan jenis kelamin yang berbeda, pada akhirnya ia melakukan perilaku homoseksual, meskipun ia adalah seorang heteroseksual!

Nah, kembali pada Alkitab. Dalam kitab Kejadian hanya dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia itu laki-laki dan perempuan (Kej. 1:27, 2:21-22). Tidak dijelaskan apa orientasi seksualnya. Yang muncul kemudian adalah ayat yang menyatakan bahwa laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu dengan isterinya (Kej. 2:24). Namun ayat ini lebih berbicara tentang lembaga pernikahan ketimbang orientasi seksual.

Jadi orientasi seksual manusia pertama itu tidak pernah dijelaskan secara eksplisit. Kita menafsirkannya, orientasi seksual manusia pertama itu bersifat hetero karena ada ayat tentang lembaga pernikahan seperti yang sudah saya jelaskan (Kej. 2:24). Anggap saja begitu (bersifat hetero), apakah di kemudian hari tidak mungkin muncul (lahir) seorang manusia dengan orientasi seksual yang bersifat homo? Tanpa mau mengatakan bahwa homoseksual adalah cacat bawaan, analoginya begini: jika Allah menciptakan manusia dengan jari tangan yang berjumlah 10, bukankah di kemudian hari bisa lahir seorang manusia dengan jari tangannya berjumlah 11? Entah, apapun penyebabnya.

Itu bisa terjadi karena tubuh dan DNA manusia itu sangat kompleks. Begitu juga orientasi seksual manusia—menurut pemahaman saya—sangat kompleks. Jadi sangat potensial lahir seorang manusia dengan orientasi seksual yang bersifat homo. Namun apakah perilaku seksualnya homo, ya belum tentu. Bahkan perilaku seksual homo bisa saja dilakukan oleh seorang yang orientasi seksualnya bersifat hetero!

Yang jelas, orang dengan orientasi seksual yang bersifat homo pasti berada dalam sebuah pergumulan. Nah, menjadi tugas pastoral gereja untuk mendampingi orang/kelompok dengan orientasi homoseksual ini. Pendampingan pastoral tidak boleh menghakimi, tetapi bergumul bersama dalam terang Firman Tuhan untuk menemukan jawaban/solusi atas pergumulan tersebut. Karena itu, orang/kelompok homoseksual ini harus dikasihi, tidak boleh dikucilkan, karena bagaimana mungkin kita (gereja) mendampingi mereka jika kita tidak datang dengan kasih yang merangkul dan menerima mereka?

Nah, apakah orientasi seksual yang bersifat homo itu diperoleh sejak lahir? Sejauh pemahaman saya, orientasi seksual itu diperoleh dari lahir dan bersifat menetap. Namun perilaku seksualnya bisa saja berbeda dengan orientasi seksualnya. Apapun itu, sekali lagi saya tekankan, bahwa kita dipanggil untuk mengasihi semua orang dan mendampingi seseorang dalam pergumulannya secara pastoral. Termasuk pergumulan tentang orientasi seksualnya.

Lalu bagaimana mencegah anak-anak kita menjadi homoseksual? Jika seorang anak punya orientasi homoseksual yang didapat dari lahir, maka kita hanya bisa mendampingi anak itu dalam pergumulannya. Mengajaknya untuk mencari kehendak Tuhan berkaitan dengan pergumulannya.

>> Pdt. Rudianto Djajakartika

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • Kerajaan Maut
    Anugerah Keselamatan
    Pak Pendeta yang budiman, Saya sudah termasuk lansia dan dibaptis sekian puluh tahun yang lalu. Buku pedoman katekisasi yang...
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
  • ALLAH Sang Sutradara?
    Bapak Pendeta Yth. Saya sedang membaca kitab Yehezkiel dan di sana terdapat banyak segala nubuatan, baik bagi bangsa Israel,...
  • Manusia Purba
    Pak Pdt. yang baik, Bolehkah saya meminta penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang mengusik hati saya: Siapakah manusia...
Kegiatan