Servant  Leadership

Servant Leadership

Belum ada komentar 454 Views

Konsep dan gagasan Servant Leadership (Kepemimpinan Pelayan) sebenarnya telah dikenal dari literatur Leadership sejak diperkenalkan dan dipublikasikan oleh Robert Greenleaf (1977). Gerakan ini memperoleh momentum ketika model Servant Leadership diadopsi oleh berbagai perusahaan di ranah bisnis global, seperti Southwest Airlines, Fedex, Service Master, Starbuck dsb. dan telah terbukti bermanfaat dalam meraih kesuksesan, khususnya dalam menghadapi krisis dan persaingan bisnis.

Ironisnya, konsep yang sebenarnya bersumber dan terinspirasi dari pola kepemimpinan pelayanan Yesus pada masa hidup-Nya di dunia ini, telah disia-siakan dan belum banyak diterapkan dalam model kepemimpinan Kristen dan di dalam kehidupan bergereja.

Tahun lalu, dalam program pembinaan Penatua GKI PI, penulis telah berikhtiar untuk memerkenalkan konsep ini (yang terbatas pada informasi dan ciri-ciri karakter Servant Leadership) sebagai alternatif pola kepemimpinan yang mungkin baik diadopsi oleh jemaat kita, khususnya dalam mewujudkan visi dan misi kita. Sayang, tidak banyak penatua yang hadir dalam acara tersebut.

Suatu blessing in disguise ketika dengan bantuan koordinasi Pdt. Joas, upaya untuk menghadirkan salah satu pembicara yang kompeten dalam topik ini, yaitu Dr. Sen Sendjaya, pengajar di Monash University, Melbourne, mendapatkan sambutan positif dari beliau. Pada tanggal 1 Juli 2009, di sela-sela program acara dan sekaligus liburannya di Indonesia, beliau memberikan seminar sehari mengenai tema ini di GKI PI., yang dihadiri oleh ± 70 peserta, terdiri atas penatua, aktivis Badan-Badan Pelayanan GKI PI dan diselenggarakan oleh Majelis bidang Pembinaan Umum dan Pengembangan Masyarakat.

Dr. Sen Sendjaya, peneliti, pemikir dan pengajar senior, khususnya dalam bidang Servant Leadership, adalah juga Teaching Elder di jemaat Indonesian Church (I.C.C.) of the Scot’s Presbyterian Church, Melbourne. Dengan demikian ceramah Dr. Sen yang lebih reflektif dari sisi spiritual ini diharapkan mampu menggugah dan memberi inspirasi kepada kita sekalian untuk memahami dan menerapkannya bagi pelayanan jemaat kita.
Berikut adalah rangkuman ceramah Dr. Sen Sendjaya yang dapat Anda baca dan renungkan, khususnya bila Anda berhalangan menghadiri seminar tersebut.

Henky C.Wijaya, penulis & pemandu

Dr. Sen mengawali ceramahnya dengan membaca dari 2 Kor. 4:1-6, yang mengisahkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Rasul Paulus ketika melayani jemaat di Korintus. Ketika itu jemaat Korintus diliputi oleh kekacauan dan perselisihan. Para pemimpin menyalahgunakan wewenang mereka untuk kepentingan pribadi dan pemenuhan hawa nafsu mereka, dan bukan untuk melayani dan memberitakan Injil Yesus. Rasul Paulus mengajarkan bagaimana seharusnya memiliki pola kepemimpinan yang benar sebagai pemimpin jemaat dan sekaligus hamba Kristus.

Tiga pokok utama yang dibahas adalah:
1. Bagaimana kepemimpinan Kristen disia-siakan?
2. Mengapa kepemimpinan Kristen disia-siakan?
3. Bagaimana kepemimpinan Kristen ditebus kembali?

Bagaimana Kepemimpinan Kristen Disia-siakan

  • Ketika pemimpin Kristen atau Gereja dipilih atas dasar karisma, kemampuan intelektual, senioritas dan/atau semata-mata berdasarkan kekayaan materinya (bukan karena panggilan Kristus).
    Seringkali seseorang melayani jemaat sebagai penatua dan aktivis gereja, bukan karena beban panggilan yang digumulinya secara intens. Hati sanubarinya tidak merasakan panggilan Yesus (internal call).
  • Ketika pemimpin Kristen memimpin sebagai tiran/penguasa yang memanipulasi dan menindas atau menjadi Yes-man/woman seperti badut (clown-like panderers), tanpa memiliki prinsip-prinsip yang diyakininya dengan jelas (tidak seperti Kristus).
    Pemimpin yang selalu memikirkan bagaimana membuat orang lain senang dengannya, seperti yang digambarkan Rasul Paulus, ketka Firman Allah dibengkokkan sedemikian rupa agar sesuai dengan keinginan-keinginan si pemimpin itu sendiri.
  • Ketika pemimpin Kristen mengadopsi cara-cara duniawi dan mengaborsi prinsip-prinsip Firman Allah dan salib Kristus (tidak meneladani Kristus).
    Sebagai contoh, sungguh ironis bahwa Servant Leadership diadopsi oleh dunia (usaha), sementara Gereja yang seharusnya menerapkan konsep yang diinspirasi dari teladan pelayanan Yesus itu, justru tidak melakukannya.
  • Ketika pemimpin mengorbankan orang lain demi melayani dan mementingkan dirinya sendiri ketimbang melayani orang lain dengan mengorbankan kepentingan dirinya (bukan untuk Kristus).
  • Ketika orang-orang yang dipimpin semakin lama semakin menyukai diri pemimpin mereka saja (bukan kepada Kristus).
    Sebagai contoh, banyak pemimpin aliran karismatik yang cara dan gaya berbicaranya disukai orang, namun tidak menonjolkan Kristus yang mereka ikuti. Hal ini tidak seperti Rasul Paulus yang mengatakan, “Ikutlah aku, sama seperti aku mengikuti Kristus.”
    Kita memiliki Alkitab yang sebenarnya sarat dengan berbagai prinsip kepemimpinan yang dapat menjadi panduan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan dan pelayanan di gereja. Kalau kita tidak dapat dibedakan dari dunia, maka kita adalah pemimpin-pemimpin Kristen yang tidak menggarami sekeliling kita. Kalau dunia busuk, hal itu disebabkan karena para pemimpinlah yang membuatnya busuk.
    Dalam menyoroti masalah-masalah tersebut di atas, Dr. Sen mengambil analogi seekor ikan, yang selalu mulai mengeluarkan bau busuk dari bagian kepalanya.
    Artinya, bila terjadi kebusukan di sebuah organisasi atau kepemimpinan, biasanya bau busuk mulai tercium dari pemimpinnya. Apabila terjadi kebusukan, janganlah menyalahkan ikannya, melainkan carilah di mana “garam”-nya.

Mengapa Kepemimpinan Kristen Disia-siakan?

Penyebab utamanya ialah karena kita tidak mengerti siapa diri kita, jati diri kita. Kita tidak pernah berpikir bahwa kita adalah “budak,” dan sebagai pemimpin kita tidak pernah menganggap diri kita sebagai hamba Kristus dan hamba sesama kita. (“budak” adalah istilah yang dipakai oleh. Dr Sen selama seminar), atau “Doulos Christou.“1

Rasul Paulus sangat mengerti dan mengenal dirinya sebagai budak Yesus, demikian pula rasul-rasul lainnya.

  • Paulus, sebagai hamba Yesus Kristus; yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah (Roma 1:1).
  • Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus (Yak. 1:1).
  • Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus (2 Pet.1:1).
  • Yudas, hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus (Yudas 1:1).
  • Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus ( Fil. 1:1).

Budak Kristus: dimerdekakan dari perbudakan, dimerdekakan untuk perbudakan

  • Seseorang harus memilih, apakah ia menjadi budak dosa atau budak Kristus. Ia tidak dapat memilih untuk tetap netral atau mencari alternatif perbudakan lainnya .
  • Di dalam hidup ini, siapapun kita, tak mungkin bisa merdeka tanpa menyembah sesuatu. Kita diciptakan untuk menyembah sesuatu. Pertobatan kita untuk menjadi pengikut Kristus adalah saat kita mulai menjalani perbudakan/perhambaan baru.
    “…bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah, untuk melayani Allah yang hidup dan benar” (1 Tes.1:9).
    “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah (douloi)” (1 Pet.2:16).

Refleksi Untuk Kita

1. Taat (obedience):
Apakah kita mau taat di area pelayanan, di manapun kita ditempatkan, bagaimanapun perasaan kita? Atauah kita lebih sering memilih-milih pelayanan?

2. Patuh (submission):
Apakah kita dapat berterima kasih kepada Tuhan, apapun yang terjadi di area di mana kita ditempatkan, bahkan meskipun kita mungkin tidak memahaminya?

3. Penyerahan Diri (reliance):
Apakah kita mau menyerahkan dan memercayakan diri kita kepada Tuhan di area ini daripada kepada harapan, tujuan dan arti hidup yang kita pikirkan? Sering kali kita lebih cenderung mengutamakan penampilan, karir, pencapaian dan kontribusi kita di dalam masyarakat, yang merupakan kebanggaan, harapan, makna dan tujuan hidup kita. Oleh karena itu kita masing-masing perlu bertanya, “Kepada siapa saya mengabdi? Kepada Tuhan yang menjadikan segala sesuatu bagi saya, atau bagi kebanggaan saya sendiri?”

4. Menaruh Kepercayaan (trust):
Adakah pergumulan, masalah atau keterbatasan di dalam hidup kita, yang menurut kita terlalu besar untuk Tuhan atasi?
Budak semua orang: dimerdekakan dari perbudakan/perhambaan (1 Kor. 7:21-24)

  • 1 Korintus: “… sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang”(9:19)
  • 2 Korintus: “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hamba-Mu karena kehendak Yesus” (4:5)
  • Galatia: “… maka aku bukanlah hamba Kristus (doulos)” (1:10)
    “…melainkan layanilah (douleute) seorang akan yang lain oleh kasih”(5:13) atau dengan perkataan lain “perhambakan dirimu kepada orang lain melalui kasih yang aktif.”

Bagaimana Kepemimpinan Kristen Ditebus Kembali

Kuncinya, bagaimana motivasi pelayanan kita? Sering kali kita salah memiliki persepsi “melayani,” misalnya,

  • Agar menerima berkat sebagai imbalan. Kalau demikian halnya, bukankah seolah-olah kita menyogok Tuhan?
  • Agar Tuhan tidak marah kepada kita. Apa bedanya kita dengan orang-orang yang memberi sesajen, karena takut akan malapetaka/hukuman dari Tuhan?

Kita kerap memper-Tuhan-kan diri kita sendiri dan bukan Tuhan dan Yesus Kristus . Oleh karena itu esensi dari motivasi pelayanan dan kepemimpinan kita seharusnya karena “Dia yang telah mengasihi kita,” sebagaimana yang tertulis di dalam Filipi 2:6-8:
Kristus Yesus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba (budak), dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Akhirnya kita dapat menebus kembali kepemimpinan yang telah kita sia-siakan hanya apabila kita benar-benar bersedia untuk bersandar kepada Kristus dan percaya serta beriman kepada-Nya.

Jakarta, medio Agustus 2009

Don’t  waste
Your Leadership
Jangan Sia-Siakan
Kepemimpinan Anda

Sen Sendjaya, Ph.D

“Doulos Christou.“1 Menurut Dr. Sen, istilah “budak” dalam Perjanjian Baru yang diterjemahkan oleh LAI telah diperhalus menjadi “hamba.” Istilah “doulos” (budak) lebih banyak dipakai dibandingkan dengan istilah-istilah lain seperti diakonos, tua-tua dan sebagainya. Kita perlu memahami bahwa pengertian “budak” pada abad pertama sangat berbeda dengan pemahaman pasca abad ke-18 (di mana misalnya, Abraham Linclon memperjuangkan hak-hak anti perbudakan). Oleh karena itu, kita tidak pernah menemui anti perbudakan di dalam Alkitab, karena pemahaman tentang budak pada konteks abad pertama sangat berbeda dengan pemahaman kita saat ini.

Perbudakan pada abad pertama
1.    Seorang budak tidak dibedakan menurut ras, bahasa atau busananya.dari orang lain yang merdeka/bebas.
2.    Terkadang ia bahkan memiliki pendidikan dan penghasilan yang lebih tinggi daripada majikannya dan memegang posisi dengan tanggung jawab profesional.
3.    Beberapa menjual diri mereka menjadi budak demi kepentingan ekonomi, dan tidak selamanya menjadi budak.
4.    Ia mampu mengumpulkan uang dengan tabungannya untuk membeli kembali kemerdekaannya.

Selain materi ceramah tersebut, Dr. Sen Sendjaya menyampaikan sebuah makalah pendamping berjudul
“Hati Seorang Hamba.” yang dapat diunduh disini:

pdfword

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan