Semua Karena Cinta

Semua Karena Cinta

1 Komentar 14 Views

Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambat di depan terminal Pulogadung. Saat berlari, ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusia satu tahun. Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak alat musik karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya mengejar bis kota, sayangnya bis besar itu hanya menyisakan kepulan asap hitam di wajah wanita pengamen itu.

Si kecil yang digendongnya, hanya bisa menutup mata untuk menghindari kepulan asap yang memerihkan mata. Ia sungguh takkan pernah mengerti sebab apa ia dibawa berlari mengejar satu bis ke bis lainnya. Ia juga takkan pernah memahami, setiap kali ibunya bernyanyi di depan puluhan pasang mata di dalam bis kota. Yang ia tahu hanyalah terik matahari, atau derasnya hujan, debu jalanan, asap knalpot, aroma bis kota, tatapan iba, dan juga makian penumpang yang terganggu oleh ingar-bingar musik ibunya. Semua itu menjadi sahabat sehari-hari si kecil.

Lain lagi dengan pemandangan di Pasar Induk Kramatjati. Pukul 02.00 dini hari, seorang anak berusia tidak lebih dari tiga tahun terlelap di tengah pasar. Berselimut angin malam, berteman aroma pasar, si kecil tertidur ditemani hiruk pikuk para aktor pasar: penjual dan pembeli. Sesekali mimpinya tergugah oleh klakson mobil, matanya terbuka melihat sekejap sang ibu yang sibuk melayani pembeli. Kemudian terlelap kembali merajut mimpi indahnya.

Anak pasar–itu kalau boleh disebut begitu–tak pernah tahu sebab apa ibunya menyertakannya dalam aktivitas di pasar dini hari itu. Ia tak pernah benar-benar mengerti kenapa dirinya berada di tengah-tengah tumpukan cabai, bawang, tomat dan sayuran setiap pagi dan melihat transaksi jual beli yang dilakukan ibunya. Saat terbangun dan menemani ibunya, cabai, bawang, tomat itulah sahabatnya. Angin pagi yang menusuk menjadi selimutnya, dan aroma tak sedap pasar beceklah yang kerap mengakrabinya.

Di tempat yang berbeda. Seorang ibu naik turun KRL (kereta api listrik) menggendong anaknya yang cacat mental dan fisik, padahal si anak sudah berusia belasan tahun. Anak yang takkan pernah mengerti itu, benar-benar tidak tahu, sebab apa ibunya rela menanggung malu mengemis belas kasih dari penumpang kereta. Si anak juga tak pernah bertanya, “beratkah ibu menggendong saya?”

Masih di kereta yang sama, seorang ibu lainnya menggendong anaknya yang berusia tiga tahun. Si kecil yang lucu dan ramah itu, hanya memiliki sebelah tangan. Ia tak dianugerahi tangan kiri dan dua kaki saat terlahir ke dunia ini. Anak itu tak pernah memahami kenapa di setiap menit selalu ada tetes air mata di sudut mata ibunya. Si kecil selalu tersenyum, meski air muka ibunya tak pernah menyiratkan bahagia. Senyum sang ibu kerap dipaksakan di depan para penumpang kereta, demi sekeping receh yang diharapnya.

Anak-anak itu, memang belum akan mengerti sebab apa ibunya mengejar bis kota, mengakrabi malam di pasar, dan menyusuri gerbong demi gerbong kereta api. Yang mereka tahu hanyalah, mereka tak pernah jauh dari ibunya. Yang mereka rasakan adalah kecupan di kening dan wajah setiap kali sang ibu berkesah tak mendapatkan rezeki. Bahasa kalbu ibu berkata, “Sebab cinta, ibu melakukan semua ini, Nak.”

Sungguh, jika tak karena cinta, langkahnya sudah terhenti. Cintalah yang mengajarkannya untuk menghapus kata “lelah” dan “putus asa” dalam kamus hidup seorang ibu. Itu semua karena cinta memang tidak meminta, melainkan hanya memberi. Memang itulah hakikat cinta.

Terlebih cinta agung dari Yang Maha Kasih, Allah Bapa kita. Karena cinta-Nya kepada kita–bukan cinta yang ‘jika’ tetapi cinta yang ‘walaupun’–Ia telah mengutus anak-Nya, Yesus Kristus untuk hadir ke dunia. Tidak dengan mahkota, melainkan dengan lahir di kandang domba, merendahkan diri sedemikian rupa untuk kita. Untuk kita manusia berdosa, Ia rela menderita bahkan sampai mati secara hina di kayu salib untuk menebus kita. Walaupun kita manusia berdosa, kita tetap dicintai-Nya.

Selamat mengasihi!

[Eddy Nugroho]

1 Comment

  1. Ifer

    Kekuatan Cinta memang selalu ingin memberi dan memberi dan tak pernah tanya sudah berapa banyak yang ia mampu beri.
    Ibu saya seorang yang sederhana dan tak berpendidikan tinggi, bahkan menulispun sungguh terbatas. Namun sudah lima puluh tahun yang lalu lewat, TAPI pemberian cintanya masih sungguh terasa sampai hari ini. Ibuku telah memberi cinta yang menjadi inspirasi untuk terus mencintai dan mencintai tanpa henti. Taburkanlah cinta! Soli Deo Glory.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
  • Jangan Menyerah
    Bacaan: Lukas 18:1-8
    “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari...
  • Kejujuran, Kesantunan & Etika MAKIN PUDAR
    Jujur, santun dan beretika adalah tiga kata yang sangat menentukan dalam peringkat kehidupan seseorang atau sebuah bangsa. Negara-negara tanpa...
Kegiatan