Selalu Mengampuni

Selalu Mengampuni

Keluaran 14:19-31; Mazmur 114; Roma 14:1-12; Matius 18:21-35

Belum ada komentar 28 Views

Matius 18:27 merupakan inti dari kisah hamba yang berhutang dan raja yang mengampuni, “Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.” Inilah pesan cinta ilahi yang berbuah pengampunan itu. Sungguh banyak kata “belas kasihan” (splagchnon) muncul di dalam Injil untuk menggambarkan sedekat mungkin isi hati Yesus yang mencerminkan isi hati Allah sendiri.

Saya merasa perlu untuk menegaskan logika pengampunan berbasis anugerah dan belas kasihan ini. Anugerah selalu gratis, bukan karena ia murahan, namun karena ia terlampau mahal untuk dapat kita beli. Anugerah yang gratis itu tidak didahului oleh tindakan apa pun dari pihak si terampun untuk memperolehnya. Ia melulu kehendak Allah. Ia merupakan aksi ilahi, tak pernah berupa reaksi atas aksi manusiawi.

Untuk itu kita perlu berhati-hati mengartikulasikannya. Tak jarang kita menghadirkan logika anugerah ini justru dengan penjelasan yang berlawanan dengannya. Misalnya, saya pernah mendengar seorang pengkhotbah yang berkata nyaring, kurang-lebih, “Allah itu mahakasih namun juga mahaadil. Karena mahakasih Ia ingin menyelamatkan; karena mahaadil maka Ia harus menghukum sehingga terbayarlah seluruh hutang manusia kepada-Nya. Maka Allah mengutus Anak-Nya untuk mati, dan dengan demikian, Yesus membayarkan hutang-hutang manusia dengan darah-Nya.”

Sekilas indah dan mengesan, namun perhatikan baik-baik logika yang hendak dibangun. Kematian Kristus dipahami sebagai pembayaran hutang manusia kepada Allah. Artinya, dengan matinya Yesus, terbayarlah hutang keadilan Allah. Artinya, Allah tidak merugi apa-apa. Maksudnya mungkin baik, namun artikulasinya menyesatkan. Anugerah tak pernah dapat dipahami lewat lensa hutang-piutang, lewat kerangka bayar-membayar. Ia sepenuh-penuhnya aksi kasih Allah tanpa ada tukar-menukar apa pun. Hanya dengan mempertahankan logika anugerah ini, iman Kristen akan melahirkan keterpesonaan, iman, dan kegembiraan yang meluap-luap. Amin.

(ja)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • allah menyesal
    Allah Menyesal
    Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16
    Apabila ada salah seorang dari saudara kita yang berdosa kemudian bertobat dan Tuhan mengampuninya, bagaimana kah sikap kita, senang...
  • Mengampuni itu Indah
    Kejadian 50: 15-21, Mazmur 103: 1-13; Roma 14: 1-12; Matius 18: 21-35
    Seorang ibu dari Afrika Selatan, Joyce Ledwaba mengampuni pembunuh anaknya – Samuel yang berusia 17 tahun – Samuel menghilang...
  • besar hati
    Allah yang Besar Hati
    Yehezkiel 33:7-11; Mazmur 119:33-40; Roma 13:8-14; Matius 18:15-20
    Alih-alih menghendaki hal buruk (kematian) terjadi kepada orang berdosa, Allah lebih berkenan agar pertobatan terjadi dalam hidup mereka (Yehezkiel...
  • Kasih itu tidak Berpura-pura
    Yeremia 15:15-21; Mazmur 26:1-8; Roma. 12:9-21; Matius 16:21-28
    Kalimat ‘Hendaklah kasih itu jangan pura-pura’ (Roma 12:9). Dalam International Standard Version ditulis demikian: “Your love must be without...
  • Peduli : Mengutamakan Kepentingan Orang Lain
    Lukas 10:25-37
    Si ahli Taurat bertanya: ‘Siapa sesamaku’? Yesus bertanya: ‘Siapa sesamanya’? Kelihatannya sama, tetapi jauh berbeda. Yang satu tertutup (sesamaku)...
Kegiatan