Sang Cameo

Sang Cameo

Belum ada komentar 122 Views

Namanya Artur Barci, seorang aktor terkenal Polandia. Namun, dalam serial Dekalog garapan Krzysztof Kielowski, ia tampil sebagai cameo yang muncul tak terduga dan sekejap. Di dalam sinematografi, cameo adalah sosok yang tampil sekelebat, yang justru diperankan oleh seseorang yang terkenal. Ia hadir kerap tanpa punya arti penting bagi plot sebuah film, namun tak jarang ia menjadi penentu plot. Barci tampil sebagai seorang cameo di seluruh episode, kecuali episode 7 dan 10.

Saya mendapat kesempatan berharga untuk memberikan ulasan kritis atas episode 6 dan 9, ketika diundang dalam dua kesempatan oleh komunitas LayarKita, Bandung; yang pertama ketika komunitas itu masih bergabung dengan GKI Maulana Yusuf, Bandung, dan yang kedua ketika mereka bergabung dengan Institut Français Indonesia (IFI), Bandung.

Di episode 6, sang cameo tanpa nama itu, tampil hanya beberapa detik, dua kali banyaknya. Namun, kehadirannya menjadi penanda perubahan mood para pelakon utama episode itu, Tomek dan Magda. Saya tidak ingin bertutur tentang isi cerita episode yang membahas perintah, “Jangan berzinah” itu. Kieslowski secara jenius menghadirkan problem seks dan seksualitas di dalam episode ini sebagai sebuah persoalan kemanusiaan yang lazim, banal, dan biasa saja; namun tetap mengakar kuat dalam pergumulan batin para pelakonnya.

Di episode 9, yang menyajikan perintah “Jangan mengingini istri sesamamu”, Barcis lagi-lagi menjadi cameo yang hadir saat sang pelakon, Roman Nycs, bergumul dengan berita mengejutkan bahwa ia ternyata mengalami impotensi. Sang cameo muncul saat Roman nyaris menabrak pohon. Cameo yang sama muncul kembali saat Roman ingin mengakhiri hidupnya, setelah mengalami kepedihan akibat sang istri, Magda, berselingkuh dengan seorang pemuda.

Di kedua episode ini, demikian juga di episode lainnya, sang cameo menjadi tanda kehadiran Yang Ilahi di dalam kancah gumul manusia. Pergumulan manusiawi yang dihadapi pelakon-pelakon setiap episode tersebut ditampilkan secara wajar dan tidak lebay. Demikian pun sang cameo hadir tanpa berniat untuk mengintervensi keputusan yang harus diambil pelakon-pelakon tersebut. Ia mengawasi tanpa mengancam. Ia memasuki peristiwa genting manusiawi, tanpa bersikap heroik untuk menyelamatkan begitu saja. Para pelakon hampir selalu tak menyadari kehadirannya, sebab mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka. Namun sang cameo itu sungguh hadir … dan menghadirkan Allah sendiri.

Cameo dalam INJIL

Sosok cameo dalam serial Dekalog mengingatkan saya pada buku Ronald J. Lavin, People Who Met Jesus (2006). Di dalam buku ini, Lavin menghadirkan “orang-orang kecil” yang muncul di dalam keempat Injil lewat “peran cameo“. Mereka tak seterkenal Petrus, Yakobus, Yohanes, atau para murid Yesus lainnya. Dalam kata-kata Lavin,

Merekalah “orang-orang kecil”, mereka yang tampaknya tidak berarti. Mereka adalah orang-orang yang muncul dan menghilang dalam kisah Alkitab dan tak terdengar lagi. “Orang-orang kecil” ini melakukan peran cameo dan lantas pergi selamanya. (hlm. 14)

Para cameo tersebut, misalnya, adalah ayah dari seorang anak yang menderita epilepsi, Bartimeus, Marta dan Maria, dan banyak lainnya. Tentang para cameo itu, Lavin menasihati pembaca bukunya,

Perhatikan para cameo di dalam cerita-cerita di dalam Alkitab. “Orang-orang kecil” ini sungguh dapat membawa perubahan. Mereka menunjuk melampaui diri mereka kepada Allah. Itulah inti dari Alkitab – memusatkan perhatian pada Allah, bukan pada diri sendiri. Itulah sesungguhnya inti dari peran cameo. Lihatlah orang-orang yang menunjuk, yang bahkan tidak sadar bahwa mereka tengah menunjuk [pada Allah]. Di dalam perilaku mereka yang melupakan diri sendiri, mereka mengundang Anda untuk mengambil bagian di dalam kerajaan Allah. (hlm. 15)

Akan tetapi, keempat Injil tampaknya juga tak mau berhenti pada perjumpaan para cameo itu dengan Yesus. Mereka tanpa sungkan juga menyajikan para pelakon konyol yang berjumlah dua belas orang itu. Mereka seperti enggan keluar dari lakon yang terpusat pada Yesus. Ke mana pun Sang Guru pergi, mereka pasti ikut. Tak jarang mereka dengan sengaja tampil secara heroik, namun konyol.

Para pembaca tampaknya diharapkan menangkap pesan yang terselubung namun sekaligus telanjang: Jika Kristus adalah pusat perhatian Injil, apakah saya berani menjadi cameo yang hadir namun kemudian melenyap, ataukah saya menjadi seperti para murid yang “mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka” (Mrk. 9:34). Mereka lupa bahwa peran cameo terbaik sudah dipertontonkan oleh Yohanes Pembaptis; sampai-sampai Yesus sendiri berkata, “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis …” (Mt. 11:11). Di mata Yesus, Yohanes Pembaptis adalah manusia terbesar, setepatnya karena dengan sadar dan rela ia menjadi cameo yang berani berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30).

PRESENTING AND RE-PRESENTING GOD

Cameo, baik dalam Dekalog Kieslowski maupun dalam keempat Injil, memiliki kesamaan yang sangat erat. Mereka menjadi tanda kehadiran Allah di tengah kehidupan sesehari yang berat sekaligus wajar. Dengan cara lain, kita dapat berkata, para cameo itu “menghadirkan” (representing) Allah dalam sosok yang sangat real dan konkret, sekaligus “mewakili” (representing) kehadiran Allah. Dengan cara itu kita “menghadirkan-kembali” (re-presenting) Allah; membuat Sang Bapa dari Yesus Kristus, hadir kembali, melalui kehidupan para cameo tersebut.

Kisah Esau dan Yakub tampaknya dapat memberi inspirasi kepada kita. Setelah nama Esau senyap selama berpuluh-puluh tahun, tiba-tiba nama tersebut hadir dalam kehidupan Yakub (Kej. 32-33). Esau, sang cameo, tampil mengancam sekaligus selalu mendesak untuk hadir. Prasangka Yakub bahwa Esau akan membunuhnya akhirnya pudar, karena secara mengejutkan Esau justru menghadirkan Sang Pengampun itu melalui keputusannya untuk mengampuni Yakub, adiknya. Begitu mengejutkan, hingga Yakub akhirnya dengan terbata-bata mengungkapkan kekagumannya, “melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah” (Kej. 33:10). Esau sungguh menjadi presentasi sekaligus representasi Allah.

Maka, lebih bersungguh-sungguhlah menyimak kehadiran Allah di dalam wajah sesama, sekalipun mereka bukan orang terkenal. Jangan-jangan Allah hadir di dalam para cameo itu, para pelakon kecil yang kehadirannya nyaris senyap, namun mampu mengubah hidup.

Dan senyap-senyap kita pun men-dengar sebuah suara, “Aku lapar … Aku haus … Aku telanjang … Aku terpenjara.” Dan suara itu segera lenyap, berganti wajah sesama kita, yang kerap kita anggap bukan siapa-siapa.

Kisah “Pemilik Penginapan yang MURAH Hati”

Entah sejak kapan kisah di dalam Lukas 10:25-37 dikenal dengan judul, “Orang Samaria yang Murah Hati”? Tentu tak ada yang keliru dengan penjudulan ini, kecuali bahwa teks Alkitab sendiri tidak pernah memberi atribut “murah hati” pada orang Samaria yang menolong korban perampokan yang malang, yang tergeletak di jalanan sepi antara Yerusalem dan Yerikho. Yesus mungkin secara khusus memakai sosok orang Samaria ini sebagai lakon protagonis, setelah sesaat sebelumnya Ia dan para murid justru ditolak oleh orang-orang Samaria (Lk. 9:53).

Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain. (Lk. 9:51-56)

Kata Yunani “menerima” pada ayat 53 adalah dechomai, yang akan kita lihat keterkaitannya nanti.

Agaknya kegeraman para murid terhadap orang-orang Samaria – memang sejak dulu orang Samaria dan orang Yahudi bermusuhan dengan sengit—menjadi contoh stigmatisasi terhadap orang Samaria sebagai orang yang kafir dan jahat. Yesus lantas menjungkirbalikkan stigma tersebut dengan berkisah tentang “orang Samaria yang murah hati” itu.

Namun demikian, cameo dalam kisah tersebut juga bisa ditemukan dalam diri “pemilik penginapan” (ay. 35; Yunani: pandochei), yang tanpa dinyana terlibat di dalam drama cinta kasih itu. Pemilik penginapan itu hanya menerima uang dua dinar – satu dinar adalah upah minimum dalam satu hari – untuk merawat orang yang terluka itu, yang mungkin membutuhkan waktu jauh lebih lama dari dua hari. Orang Samaria yang membawa orang yang terluka itu berjanji akan datang kembali; dan entah apakah ia sungguh datang kembali atau tidak, kisah kita tidak mencatatnya. Yang jelas, pemilik penginapan itu stuck dengan si korban. Singkatnya, pemlik penginapan itu sungguh bermurah hati!

Ia, si pemilik penginapan itu, bukan pelakon utama kisah kita; ia sekadar seorang cameo, yang sebentar tampil dalam lakon dan kemudian lenyap … melanjutkan tugasnya merawat si korban. Namun, ia menjadi tanda kehadiran Allah yang tak terbicarakan dalam merawat korban. Ia sungguh menjadikan penginapannya bukan sekadar sebuah hotel komersial, namun sebuah tempat yang “menerima semua orang” (Yunani: pandocheus, dari kata pas, “semua”, dan dechomai, “menerima”).

Kita sungguh-sungguh dapat memetik mutiara kehidupan yang sangat berharga dari cameo dan tempat penginapannya ini. Kata Yunani untuk tempat penginapan adalah pandocheion, yang dalam sebuah manuskrip Injil Lukas berbahasa Arab pada abad ke-9 diterjemahkan dengan kata funduq. Olivia Remie Constable, dalam bukunya, Housing the Stranger in the Mediterranean World (2009), membahas migrasi istilah ini dengan sangat menarik. Agaknya kata Arab funduq diterima dari kata Yunani pandocheion, melalui penerjemahan ke dalam bahasa Aram, pundheqa’. Di Indonesia, pengaruh ini meluas hingga kita menerima kata pondok.

Dalam literatur bapa-bapa Gereja, khususnya Yohanes Krisostomus, Origenes, dan Agustinus, kata pandocheion dipergunakan secara teologis untuk menunjuk pada lokasi cinta kasih yang harus ditawarkan oleh orang Kristen kepada dunia yang mengembara ini. Krisostomus mengundang keluarga-keluarga Kristen untuk menjadi “pandocheion bagi Kristus”, sedangkan Origenes dan Agustinus mengenakan pandocheion pada gereja di tengah dunia. Agaknya, pengenaan ini menginspirasi kita untuk memahami bahwa tugas kristiani di tengah dunia ini adalah menjadi ruang terbuka bagi para pengembara, yaitu sesama yang sekaligus orang asing bagi kita. Dengan cara itu, kita menjadi cameo yang mungkin tak terekam jejak keramahtamahannya (hospitality) dalam sejarah, namun benar-benar telah menjadi “pemilik penginapan yang murah hati”.

Pdt. Joas Adiprasetya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan