Rentannya Ikatan Keluarga

Rentannya Ikatan Keluarga

Belum ada komentar 362 Views

Adalah sebuah kenyataan jika “nasib” keluarga terhempas oleh realitas zaman. Survei yang dilakukan Stephen Covey dalam konteks Amerika Serikat, menunjukkan betapa rapuhnya keluarga masa kini. Kerapuhan itu ditandai oleh [Covey, h. 35-36]:

  • tingkat kelahiran tidak sah yang meningkat lebih dari 400 persen;
  • persentase keluarga yang dikepalai oleh orangtua tunggal meningkat lebih dari tiga kali lipat;
  • tingkat perceraian meningkat, bahkan ada yang berpendapat bahwa separuh dari semua pernikahan akan berakhir dengan perceraian;
  • setiap tahun, 4 juta perempuan dipukuli oleh pasangan mereka;
  • seperempat dari semua anak muda pernah terkena penyakit seksual sebelum lulus SMU.

Temuan ini menunjukkan bahwa keluarga tidak imun terhadap berbagai penyebab penyakit yang merusak ikatan suami-istri dan anak. Kehidupan pernikahan yang diawali dengan ikatan janji pernikahan dapat digoyahkan, bahkan dihancurkan oleh penyakit-penyakit mematikan, seperti kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, dan perilaku menyimpang dalam rumah tangga. Bagaimana upaya keluarga masa kini untuk mewujudkan rumah tangga yang kuat menghadapi persoalan? Salah satu jawabannya adalah identitas atau jati diri. Keluarga kristiani perlu menggumulkan kembali jati diri atau identitas keluarga. Melalui pemahaman identitasnya, keluarga diharap mampu mewujudkan keluarga yang sehat. Tulisan ini akan memanfaatkan buku karya Maurice Eminyan, Teologi Keluarga, Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Pentingnya Menegaskan Identitas Keluarga Kristiani

Maurice Eminyan, dengan mengutip Eric McLuhan, mengatakan: “Keluarga modern… seperti atom, mudah terbelah dan disertai dengan penghancuran dan perubahan besar… Terpecahnya keluarga sekarang ini sungguh menjadi kenyataan [Eminyan, h. 7]. Sebelum kehancuran total benar-benar terjadi, dibutuhkan upaya serius untuk menyelamatkan keluarga. Sebab dari keluargalah kehidupan sejatinya ada. Keluarga yang sehat menghasilkan masyarakat yang sehat. Keluarga yang sakit menghasilkan masyarakat yang sakit. Sejarah telah membuktikan bahwa keluarga menjadi tempat utama bagi “latihan atau pendidikan keutamaan-keutamaan (kebajikan) moral dan peradaban yang memberi sumbangan bagi penghormatan terhadap sesama, solidaritas serta kesejahteraan umum masyarakat”. Untuk itu dibutuhkan sebuah pemahaman baru terhadap keluarga. Pemahaman yang digagas oleh Eminyan adalah keluarga sebagai Komunitas Cinta Kasih, Hidup dan Keselamatan [Eminyan, h.19].

Tuhan membuat keluarga dengan maksud agar setiap keluarga menjadi seperti yang dikehendaki-Nya dalam proses penciptaan, yaitu agar kehidupan menjadi lebih baik. Tujuan itu sulit diwujudkan oleh keluarga karena ancaman dosa. Kekuatan dosa merusak rencana Allah yang baik bagi keluarga. Kekuatan dosa merasuk dalam rumah tangga, salah satunya melalui persoalan kedudukan suami dan istri. Ketika yang satu merasa lebih unggul ketimbang yang lain (begitulah kedudukan laki-laki dalam budaya patriarkat), ia akan cenderung menindas. Ketika yang lain merasa tertindas, ia akan melawan. Dampaknya, kedua belah akan saling menuntut hak dan kewajiban pihak lainnya.

Dasar yang kerap dipakai untuk menempatkan laki-laki sebagai yang utama adalah Kejadian 2:20b-22 “…tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.” Tafsiran kata “penolong” sering disamakan dengan “pembantu”, hingga ada stereotip yang menganggap bahwa kalau laki-laki menikah, pastilah hidupnya akan nyaman, karena ada yang memasak, mencuci baju, dll. Padahal kata “penolong” dalam teks Alkitab ini tidak identik dengan “pembantu”. Mzm. 46:2 dan 146:5 menunjukkan gelar “penolong” (ezer) yang ditujukan bagi Allah. Kata sepadan menunjukkan kecocokan dalam perbedaan (Ibr: kenegeddo, Ing: counterpart).

Persoalan yang selanjutnya muncul dari teks yang sama adalah: perempuan diambil dari tulang rusuk laki-laki. Karena diambil “hanya” dari tulang rusuk, itu berarti kedudukan perempuan jauh di bawah laki-laki. Padahal teks Ibrani juga memahami kata tulang rusuk itu sebagai sisi atau bagian samping atau separuh. Jadi, perempuan adalah separuh bagian dari laki-laki! Permainan kata laki-laki (isy) dan perempuan (issya), menunjukkan keduanya saling melengkapi. Perbedaan itu diciptakan Tuhan agar keduanya saling melengkapi (komplimenter).

Itulah sebabnya manusia –laki-laki dan perempuan– disebut sebagai gambar Allah (Kej. 1:27), karena mencerminkan realitas Allah itu sendiri. Allah yang memperkenalkan diri adalah Allah yang Trinitaris. Ketiga-tiganya adalah pribadi yang berbeda-beda, tetapi sedemikian intim sehingga mereka membentuk kesatuan ilahi, satu Allah [Eminyan, h. 46].

Allah Trinitaris seharusnya menjadi tonggak bagi kehidupan keluarga. Melalui pemahaman Allah Trinitaris, keluarga belajar tentang perbedaan. Perbedaan setiap anggota keluarga adalah sebuah kenyataan, sekaligus kekayaan tersendiri. Perbedaan bukan berarti keterpisahan, sebab perbedaan itu bersifat komplimentaris (saling melengkapi). Selain itu, keluarga juga belajar tentang keutuhan. Sebagaimana Allah Trinitaris yang tak terpisahkan, demikianlah juga suami dan istri. Keutuhan bermakna kesetiaan yang tak dapat dipisahkan (indissolubilitas). Perekat bagi relasi suami-istri adalah cinta kasih.

Berangkat dari pemahaman dalam penciptaan ini, keluarga diajak melihat kembali identitas asalinya yaitu sebagai komunitas cinta kasih, hidup dan keselamatan. Komunitas keluarga bukan sekadar kumpulan orang-orang yang sepakat hidup bersama. Karena itu dibutuhkan cinta. Cinta adalah perekat yang memberikan totalitas relasi suami-istri, komitmen dan antusiasme keluarga. Inilah jati diri atau identitas keluarga yang harus dipahami dan dihidupi keluarga.

Keluarga Sebagai Komunitas Cinta Kasih

Cinta suami-istri, yang menunjukkan pemberian diri secara total serta tak dapat ditarik kembali, adalah bentuk cinta yang paling sempurna dalam membentuk sebuah keluarga [Eminyan, h. 23]. Agustinus, Bapa Gereja, mengatakan: “Ama et fac qoud vis”. Artinya: “Mulailah dengan cinta kasih, jika cinta kasih sudah ada, lakukanlah apa saja yang kaukehendaki”. Awal dari segala-galanya adalah cinta kasih. Keluarga adalah tempat cinta kasih hidup dan dipraktikkan. Tanpa cinta kasih, kehidupan keluarga berjalan menuju kehancuran. Seperti yang dituturkan Eminyan: “Banyak masalah yang dihadapi keluarga-keluarga mempunyai akarnya persis di sini: kekurangan cinta, kekurangan cinta yang benar…” [Eminyan, h. 32-33].

Keluarga Sebagai Komunitas Hidup

Apa yang paling berharga dalam hidup manusia? Yang paling berharga dalam hidup adalah hidup itu sendiri. Kita memahami bahwa hidup adalah anugerah Allah. Karena hidup adalah pemberian, maka hidup harus dialirkan, dibagikan. Paus Paulus Yohanes II pernah berujar bahwa manusia tidak dapat menemukan diri sepenuhnya, tanpa tulus memberikan dirinya. Memberikan diri secara utuh menyemai kehidupan yang saling menumbuhkan. Sebab pertumbuhan hanya mungkin terjadi dalam relasi. Kehidupan yang menumbuhkan akan terjadi ketika setiap anggota keluarga memberikan dukungan, yang pada gilirannya mampu menyembuhkan dan bertumbuh kembang bersama-sama [Eminyan, h. 94]. Bentuk dukungan tentulah berbeda-beda, tergantung pada pribadi setiap orang yang memang berbeda-beda itu. Dukungan itu bisa dalam bentuk fisik (sentuhan, belaian, pelukan, hubungan suami-istri, dll.), pengakuan (kata-kata pujian, tatapan, senyuman, dll.), emosional (kehadiran, kegembiraan, dll.), kehadiran, hadiah dan banyak lagi yang lain. Pertanyaan reflektif yang seharusnya selalu ada dalam benak setiap anggota keluarga adalah: Apa yang dapat saya lakukan untuk menumbuhkan keluarga saya secara bersama-sama?

Keluarga Sebagai Komunitas Keselamatan

Tentang keluarga, seorang bapa Gereja, Tertulianus, menulis demikian: “Betapa mengagumkan ikatan perkawinan antara dua orang Kristen, yang ditandai dengan satu harapan, satu keinginan, satu pelaksanaan, satu pengabdian! Mereka berdua saudara-saudari, keduanya rekan sepengabdian. Tidak ada pemisahan antara mereka dalam jiwa dan raga. Kenyataannya, mereka itu sungguh dua dalam satu daging; dan bila daging itu satu, satu pulalah roh mereka. Mereka berdoa bersama, puasa bersama, saling menasihati satu sama lain, memberikan dorongan satu sama lain, memperkuat satu sama lain… Di mana ada dua orang berkumpul di situ juga Ia hadir, dan di mana Ia ada, di situ kejahatan tidak ada” [Eminyan, h. 190]. Jelaslah keluarga bukan sekadar kontrak sosial antar dua orang manusia. Keluarga adalah komunitas di mana keselamatan diteguhkan. Karena itu keluarga layak disebut sebagai “Gereja mini”, di mana nilai-nilai kerajaan Allah terus-menerus diupayakan hadir dalam keseharian keluarga itu. Bukankah sebagai orangtua kita senantiasa ingin agar anak-anak kita tumbuh dalam iman pada Kristus? Hal itu dimulai dengan terwujudnya dimensi spiritual dalam keseharian keluarga itu!

Cinta kasih, hidup dan keselamatan sebagai nilai-niai identitas keluarga Kristen terkait dengan erat dan tak dapat dipisahkan. Namun menjalankan tiga hal tersebut tentu tidaklah mudah dan membutuhkan proses. Itu sebabnya, mulailah dengan apa yang mungkin dilakukan. Dan bergeraklah terus, hingga identitas itu tegak dalam kehidupan keluarga kita masing-masing.

Pdt. Addi S. Patriabara & Wisnu S. Nugroho

(LPP Sinode, Yogyakarta)

Sumber Bacaan:

Covey, Stephen. 2000, The 7 Habits of Higly Effective Families, Jakarta, Mitra Media.

Eminyan, Maurince. 2001, Teologi Keluarga, Jogjakarta, Kanisius.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan