Refleksi Natal: Ruangan Hati Untuk Yesus

Refleksi Natal: Ruangan Hati Untuk Yesus

1 Komentar 738 Views

Apa yang Anda rayakan pada Natal tahun ini? Melihat tanggal 25 Desember di kalender membuat sebagian orang senang karena bisa berkumpul dengan sanak keluarga dari luar kota atau luar negeri. Kaum muda yang bekerja, menantikan THR atau bonus Natal. Mahasiswa dan pelajar menikmati liburan yang panjang di hari Natal dan Tahun Baru.

Tanggal 25 Desember sering menjadi patokan pergantian tahun yang melambangkan keberhasilan atau kegagalan yang telah dijalani selama setahun. Namun, bulan Desember bisa menjadi bulan tumpukan tugas yang tidak mendamaikan hati. Para pegiat sibuk menyiapkan acara Natal, mendekorasi ruangan, latihan drama Natal, paduan suara, dan musik. Para keluarga pun sibuk berbelanja hadiah, menyiapkan dan mengirimkan kartu ucapan, membersihkan dan menghiasi rumah, memasang pohon dan lampu Natal.

Mungkin sebagian besar umat Kristen menyadari bahwa tanggal 25 Desember adalah hari perayaan kelahiran Yesus. Tapi, berapa banyak yang meluangkan waktu untuk menghayati dan menikmati makna Natal? Masihkah ada Yesus di ruang hati kita tatkala merayakan hari Natal?

Natal adalah peristiwa yang memiliki kekayaan makna. Tersimpan harta karun yang indah di hari Natal. Sebab itu, kita perlu menggali kembali harta karun itu sebagaimana yang dicatat dalam Alkitab sehingga kita dapat mengerti, menghayati, dan menghidupi kembali makna Natal pada tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang.

Ribuan tahun yang lalu, ketika malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Maria dan Yusuf, ia memberitahukan mereka bahwa anak yang dikandung oleh Maria berasal dari Roh Kudus dan harus diberi nama Yesus, karena Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Mat.1:21). Jadi, kado kasih terindah di hari Natal ialah lahirnya sang Juru Selamat sejati di dunia ini. Bahkan, Dia akan dinamakan Imanuel, yang artinya ‘Allah menyertai kita’ (Mat.1:23). Luar biasa! Penghayatan inilah yang harus bergema di ruang hati kita. Bukan hanya menjelang dan ketika merayakan Natal; tetapi juga dalam kehidupan kita setiap hari.

Kita patut bersyukur bahwa hari Natal ditetapkan pada tanggal 25 Desember, karena dekat dengan akhir dan pergantian tahun yang baru. Hal itu dapat membuat kita merenungkan hidup yang telah kita jalani dari awal hingga akhir tahun. Bahkan juga menantang kita untuk berani memberikan kado terindah di hari Natal kepada Yesus. Sungguhkah Yesus menjadi Pribadi yang hidup di ruang hati kita setiap hari? Apakah Yesus benar-benar menjadi satu-satunya Juru Selamat yang hidup di hati dan kehidupan kita? Berapa banyak janji perubahan hidup yang kita ikrarkan namun belum kita tepati bahkan kita langgar?

Menerima Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat berarti menjadikan-Nya sebagai Pribadi yang bertahta di hati dan kehidupan kita. Dia menjadi Junjungan hidup yang berjalan di depan kita, dan kita mengikuti-Nya dari belakang. Mengikuti apa? Mengikuti teladan kasih-Nya dalam melayani dan mengasihi sesama; mendengarkan dan menaati apa yang diajarkan-Nya; berjuang untuk semakin serupa dengan-Nya dalam karakter, sifat, dan perilaku sehari-hari.

Sesungguhnya, Natal menjadi alarm yang mengingatkan sejauh mana kita mengasihi Allah dan mempersembahkan hidup kita kepada-Nya. Sejauh mana kita menghargai kasih pengorbanan Kristus. Yesus tidak menyerukan “Aku mengasihimu” melalui suara dari surga. Ia merendahkan diri. Ia datang dengan mengambil rupa sebagai manusia untuk menyatakan betapa Ia sangat mengasihi kita. Puncak pernyataan kasih Kristus terbukti melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Melalui salib yang hina, Ia menanggung murka Allah. Bahkan, Ia membuktikan kemurahan hati dan kasih Allah kepada manusia berdosa. Karena itu, Natal menjadi alarm yang terus mengingatkan kita tentang keajaiban kasih Allah; mulai dari palungan menuju palang yang hina.

Biarlah hati kita menjadi telinga yang mendengar alarm Natal. Alarm yang mengingatkan siapakah kita sebagai manusia. Alarm yang menyelidiki ruang hati kita. Masih adakah Yesus sebagai Raja di ruang hati kita? Masih adakah ungkapan syukur atas pengorbanan Kristus di kayu salib? Masih adakah kesadaran untuk menghargai kasih karunia Allah di ruang hati kita?

Natal akan berlalu. Tahun baru pun akan dilewati. Namun, alarm dari palungan hingga palang terus berbunyi di ruang hati kita. Mari, kita beri yang terbaik kepada Tuhan dengan menyediakan ruang hati kita diisi oleh kasih karunia Allah; mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang harum di hadapan Allah; melayani Tuhan dengan semangat kasih Kristus; membuka diri untuk mengalami pertobatan setiap hari sehingga semakin serupa dengan Kristus. Bahkan menghidupi kasih Kristus dengan menjadi pelaku kasih yang sejati bagi sesama; seperti syair lagu berikut ini:

Natal ‘tak berarti tanpa Yesus di hati

Natal tak’kan indah tanpa damai di hati

Persembahkan hidupmu serahkan pada Yesus

dan kau akan mengalami NATAL

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru!

Tuhan beserta kita!

1 Comment

  1. Anitha pataz

    Yesus adalah sang juruselamat umat manusia
    Dia datang ke dunia untuk memberitahukan kepada kita sebenarnya apa makna dari hidup

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Menyongsong Fajar Kebangkitan
    Orang bilang bahwa dalam mempertimbangkan atau mengalami banyak hal, yang menentukan adalah “suasana hati.” Dalam pengalaman sehari-hari, memang kerap...
  • berbuah
    Pemimpin: Dari Hamba Ke Sahabat
    Kita sudah terlalu sering memakai kata “pelayan,” “pelayanan,” atau “melayani” untuk menunjuk pada karya dan kegiatan kristiani di dalam...
  • Walau Ditolak …
    Pernahkah Anda ditolak? Jelas bukan pengalaman yang menyenangkan. Ketika permintaan Anda ditolak oleh seseorang, Anda masih dapat mengatakan kepada...
  • GEREJA: Rumah Kita RUMAH: Gereja Kita
    Ketika kita berbicara tentang ‘gereja’ maka itu berarti kita sedang berbicara tentang ‘persekutuan’, dan bukan ‘gedung’. Sedangkan saya memahaminya...
  • berbuah
    Hidup untuk Berbuah
    “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah….” (Filipi 1:22) Hidup di dalam...
Kegiatan