Refleksi Garam dan Terang Dunia

Refleksi Garam dan Terang Dunia

John Lennon (1940-1980), dalam lagunya yang legendaris “IMAGINE” (September 1971), mengungkapkan kristalisasi khayalannya tentang dunia, di mana manusia dapat hidup berdampingan dengan damai. Ia mengangan-angankan dunia yang tanpa batas negara, tanpa agama, tanpa jabatan, di mana manusia tidak perlu saling berperang dan saling membunuh; di mana tidak ada keserakahan dan kelaparan, dan di mana seluruh umat manusia hidup dalam persaudaraan dan saling berbagi.

Terlepas dari kontroversi persepsi sebagian kalangan kristiani yang menganggap John sebagai utopia, ateis, antikris dsb., adalah bijaksana apabila kita sebagai umat kristiani menangkap pesan-pesan dalam impiannya yang merupakan respons dan ekspresi protes serta kritik spiritual-sosial terhadap keadaan dunia saat itu. Ketimbang perdamaian, keadilan dan kesejahteraan, yang terjadi justru keserakahan, kebencian, peperangan, kanibalisasi sesama demi kepentingan diri sendiri dan demi melestarikan kebenaran diri sendiri, ambisi kedudukan, jabatan dan kemuliaan dengan membangun tembok-tembok penyekat atas nama negara, bangsa, agama, baik secara komunal maupun individu.

Pesan dan kritik lagu “IMAGINE” sebenarnya masih relevan dan kontekstual untuk kita renungkan dan refleksikan pada situasi dan kondisi dunia saat ini, khususnya dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan berjemaat dan bergereja, apabila kita mengaku sebagai pengikut Kristus. Apa lagi kalau kita menyaksikan dan merasakan sendiri di dalam paguyuban hidup kita berbangsa dan bermasyarakat di tanah air tercinta ini, bagaimana pembusukan nilai-nilai keadaban, etika dan moral, penindasan terhadap yang lemah, pemancungan kebebasan berkeyakinan, telah terjadi. Praktik-praktik korupsi dianggap sebagai hal yang biasa, tanpa beban rasa bersalah dan malu sedikit pun…

Di ranah dunia semacam inilah Gereja dan jemaatnya berada dan hadir di antara komunitas masyarakat, khususnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang masih dilanda masalah-masalah besar, dan secara spesifik, sebagai warga jemaat GKI PI, baik sebagi individu maupun komunitas yang telah bersepakat memiliki Visi & Misi untuk hidup, terbuka, partisipatif dan peduli. Lalu, sampai sejauh mana Visi & Misi bersama itu telah diwujudkan dalam praktik, cara dan gaya hidup kita, baik sebagai pribadi maupun dalam gerakan komunal kita sebagai sebuah jemaat? Sejauh mana kesadaran iman kita “tersentak” oleh keadaan di sekitar kita?

Marilah kita bersama kembali mengingat salah satu pesan esensial Yesus dalam Khotbah di Bukit, yaitu tentang fungsi dan peran kita sebagai pengikut-pengikut-Nya:

“Kamu adalah Garam dan Terang Dunia” (Matius 5:13-16).

Pesan dalam kiasan tersebut (yang mungkin sudah kita lupakan) jelas ditujukan kepada kita semua sebagai pengikut-pengikut-Nya.

Kamu (kita) – adalah pesan tentang alasan pokok keberadaan (reason for being) kita yang mendapat anugerah kehidupan di dunia ini untuk menjadi “garam dan terang dunia”.

Hendaknya pesan ini membangkitkan kesadaran kita akan fungsi dan peran keberadaan kita, di mana simbol (ikon), kiasan yang diajarkan Yesus dengan sangat sederhana ini memiliki makna yang dalam dan signifikan bagi kita apabila kita mengaku sebagai pengikut-pengikut-Nya. Simbolisasi “Garam dan Terang” tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, karena keduanya memiliki keterkaitan yang hakiki. Garam berasal dari air laut dan terang dari sinar matahari, dan kedua-duanya berasal dari kemurnian alam ciptaan Allah. Mungkin kita yang hidup sebagai manusia modern, tidak menganggap ikon garam sebagai sesuatu yang “wah”, keren dan membanggakan seperti misalnya burung rajawali, atau salib sebagai ikon kristiani. Namun pada konteks kesadaran fungsional, marilah kita coba merenungkan dan merefleksikannya sebagai berikut:

Garam berfungsi mengasini dan pada ayat selanjutnya dikatakan: “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Di sini Yesus memperingatkan kita sebagai pengikut-pengikut-Nya agar kita benar-benar menyadari fungsi dan manfaat positif serta peran kita di dalam kehidupan ini. Fungsi terang jelas untuk menerangi hal-hal yang gelap, sehingga kehadiran kita dapat mencerahkan sesama kita.

Mari kita coba renungkan beberapa sifat positif garam bagi kehidupan. Ciri fungsional garam adalah bahwa dengan jumlah sedikit (kualitas ketimbang kuantitas), mampu/efektif untuk mengasini. Di sini pesan kepada kita adalah bahwa meskipun peran kita kecil atau sedikit dalam menjalankan fungsi pelayanan kita, hal itu tidak dapat dijadikan alasan/dalih untuk tidak melakukan peran dan fungsi yang diamanatkan kepada kita. Kecenderungan manusiawi kita biasanya sebaliknya, bukan? Kita menginginkan peranan dan ambisi yang serba besar, serba penting dan mulia.

Sifat positif garam lainnya adalah sebagai penyedap (menghibur, membawa damai dan sejahtera); pengawet (melestarikan nilai-nilai kasih).

Di tengah proses pembusukan nilai-nilai kemanusiaan, etika dan moral yang destruktif dan mereduksi kualitas hidup manusia di komunitas dunia maupun masyarakat bangsa kita saat ini, bahkan—dan ini yang lebih memprihatinkan— orang-orang atau lembaga dan komunitas Kristiani juga ikut-ikutan dicemari oleh proses pembusukan ini (tidak terlepas pula pada kehidupan berjemaat dan gereja), di tengah situasi dunia dan komunitas sekitar itulah kita dihadirkan, karena amanat Yesus dalam kiasan di atas, jelas lokus & fokusnya, yaitu dunia di mana kita hidup dan berkarya, baik sebagai komunitas jemaat maupun sebagai pribadi.

Yang terakhir, sisi manfaat positif garam adalah bahwa untuk dapat mengasini, garam harus larut. Lihatlah keteladanan Yesus yang merendahkan diri-Nya bagi penebusan dunia (baca Filipi 2:7. Kenosis, mengosongkan diri). Bagaimana kita dapat lebih mementingkan kepentingan orang lain lebih daripada diri kita sendiri.

Perumpamaan Yesus dengan mengamanatkan kepada kita untuk menjadi Garam dan Terang Dunia, selayaknya membuat kita merenungkan, sejauh mana kehidupan kita sebagai pribadi maupun sebagai komunitas jemaat telah memberikan dampak positif bagi komunitas di sekitar kita. Ataukah kita telah menjadi tawar, dan seperti sisi negatif garam (unsur kalsium klorida) yang destruktif karena menyebabkan korosi/karatan, pola pikir kita telah berkarat dan cara hidup kita telah turut merusak lingkungan hidup kita?

Oleh karena itu, untuk dapat menjadi “garam dan terang” dunia, cara hidup berjemaat kita sebagai sebuah komunitas haruslah berubah dan melakukan transformasi. Demikian pula di dalam kehidupan kita sebagai pribadi, di mana pun kita berada.

Dunia sekitar kita saat ini krisis keteladanan, di mana kualitas dan nilai-nilai kemanusiaan makin merosot, sebagai jemaat dan pribadi, kita tidak dapat lagi melanjutkan cara berjemaat seperti pada masa lalu. Kita harus menjadi Gereja dan jemaat yang mau berubah dan mengubah sebagaimana pelayanan yang diteladankan Yesus sendiri pada masa kehadiran-Nya di dunia. Secara lebih spesifik, untuk mewujudkan Visi & Misi kita dengan, antara lain, menyalurkannya melalui rencana Community Center kita.

Jadilah Komunitas Teladan dan Oase di Tengah Padang Gurun!

Bagaimana kita melakukannya, simaklah pesan dan lirik lagu yang diilhami oleh nasihat St. Fransiskus dari Assisi:

Make Me a Channel of Your Peace
where there is hatred, let me bring Your LOVE
where there is injury, Your Pardon, Lord
where there is doubt, true faith in You
where there is despair in life, let me bring HOPE
where there is darkness, only LIGHT
where there is sadness, ever JOY
it is in pardoning that we are pardoned
it is in giving to all men that we receive
it is in dying that we are born to eternal life
Oh, Master grant that I may never seek,
so much to be consoled as to console
to be understood, as to understand
to be loved, as LOVE with all my soul

Henky C. Wijaya

*) Disampaikan pada acara Momen Reflektif Panitia Community Center dan Penatua GKI PI, 15 Juni 2013)

Bookmark and Share

Sampaikan Pendapat Anda

Berikan komentar Anda...
dan sertakan avatar anda. Dapatkan disini!

(*) wajib diisi