Recycling  the Stumbling Blocks

Recycling the Stumbling Blocks

Belum ada komentar 61 Views

“A stumbling block is a problem which stops you from achieving something.” (Collins Cobuild Student Dictionary)

Pada suatu petang, kami dan keluarga dokter Harrie menuju ke rumah Bapak Zilvanus untuk menghadiri pengucapan syukur keluarga, di mana paduan suara Agape akan mempersembahkan pujian. Biasanya kami melalui kawasan Permata Hijau, tetapi saat itu kami melalui jalan lain, sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai ke tujuan. Dalam perjalanan itu, saya menanyakan bagaimana pengalaman Pak Harrie sehingga berhasil menamatkan pendidikan dokter spesialis bedah di Jerman. Percakapan kedua dengan Pak Harrie dilaksanakan beberapa hari yang lalu di rumah kami, sehingga melengkapi pembicaraan tersebut.

Pada awalnya saya mengira bahwa pengalaman Pak Harrie biasa-biasa saja sebagaimana layaknya mahasiswa yang belajar di luar negeri. Namun ternyata ia telah melalui proses yang sangat mencekam, dan perjumpaannya dengan kasih Tuhan kemudian semakin memperdalam imannya kepada-Nya.

Sewaktu di SMA, Pak Harrie sudah memiliki visi untuk menolong dan menyelamatkan sesama, yang akhirnya membawanya pada pilihan untuk menjadi pendeta (menyembuhkan jiwa) atau dokter (menyembuhkan tubuh). Pada suatu konsultasi dengan Pdt. Oei Bian Tiong (Zefanya Azarya) dari GKI Guntur-Bandung, pendeta tersebut menasihatinya untuk menjadi pendeta, namun akhirnya Pak Harrie memilih karier sebagai dokter. Ia masuk Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha di Bandung pada tahun 1968 dan kuliah di sana sampai tingkat 4 pada tahun 1972. Pada saat itu ia mulai menyadari bahwa biaya studi semakin meningkat setiap semester, padahal ayahnya hanya pegawai bagian akuntansi sebuah perusahaan dengan penghasilan terbatas. Selama itu orangtuanya tidak pernah mengeluh bahwa beban yang mereka tanggung cukup berat. Satu faktor lagi pada masa itu ialah keharusan lulusan kedokteran swasta untuk menempuh akreditasi negara sebelum mendapat izin praktik. Dalam kenyataan, walaupun tidak transparan, izin tersebut sulit diperoleh. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Pak Harrie memutuskan untuk studi ke Jerman.

Sewaktu menyampaikan keinginannya kepada orangtuanya, mereka tertegun. Namun ibunya mengatakan bahwa kalau itu jalan yang dipilihnya, mereka akan merestuinya. Berdasarkan keputusan tersebut maka sanak keluarganya memberi sumbangan semampunya. Akhirnya terkumpullah biaya perjalanan dan uang saku sebesar DM 100 yang hanya cukup untuk hidup 2 minggu (Pak Harrie tidak menjelaskan kepada saya apakah keberaniannya untuk melanjutkan pendidikannya ke Jerman didasarkan pada informasi bahwa ia dapat mencari jalan keluar kalau sudah tiba di sana). Sebelum berangkat, Pak Harrie juga meminta surat pengantar dari GKI Guntur.

Pada tanggal 19 Desember 1972, Pak Harrie tiba di Mainz dan menginap di pondokan temannya. Keesokan harinya, bersama dengan seorang temannya ia ke luar rumah untuk mencari pekerjaan. Hawa dingin menerpanya sehingga ia menggigil kedinginan, namun ia tetap meneruskan perjalanan ke sebuah restoran Cina untuk minta pekerjaan. Restoran masih tutup saat itu karena hari masih pagi. Dengan kemampuan bahasa Jerman yang terbatas, ia berhasil mengemukakan maksudnya kepada si pemilik restoran, yang kemudian memberinya pekerjaan karena kebetulan saat itu banyak pegawainya yang cuti Natal. Itulah pekerjaan pertama yang diperolehnya dan kebetulan bertepatan dengan Natal dan akhir tahun, sehingga Pak Harrie terenyuh mengingat keluarganya di Indonesia.

Sementara menunggu hasil pendaftaran di universitas, Pak Harrie mengunjungi sebuah gereja dan menyerahkan surat pengantar dari GKI Guntur kepada pendeta dengan harapan agar pendeta itu dapat mencarikan pekerjaan untuknya guna menopang biaya hidup dan biaya kuliah. Pada waktu pendeta itu melihat surat pengantar dan paspor Pak Harrie, dengan spontan ia mengatakan bahwa ia tidak bisa mencarikan pekerjaan untuknya karena visa Pak Harrie adalah visa kunjungan jangka pendek dan bukan visa kerja. Meskipun demikian, karena rasa empati, pendeta tersebut bersedia membantu mengumpulkan dana dari jemaat guna membeli tiket kapal laut bagi Pak Harrie untuk pulang ke Indonesia.

Tidak disangka, keesokan harinya pendeta itu memanggil Pak Harrie dan mengatakan bahwa ada seorang anggota jemaatnya yang membutuhkan tenaga untuk membagi-bagikan brosur promosi produk usahanya. Pak Harrie berkeyakinan bahwa baik pekerjaan pertama maupun yang kedua berasal dari Tuhan.

Sambil bekerja, Pak Harrie tetap menunggu hasil pendaftaran ke universitas. Pada suatu hari ia menerima kiriman surat dari Universitas di Giessen yang tidak segera dibukanya karena ditulis dalam bahasa Jerman yang kurang dimengertinya, sehingga untuk sementara waktu dibiarkan tergeletak begitu saja. Baru setelah seorang teman dari Indonesia datang berkunjung bersama seorang Jerman, ia meminta bantuan orang Jerman itu untuk membaca isi surat tersebut. Begitu membacanya, orang Jerman itu berteriak terkejut, “Kamu gila, ini adalah surat panggilan yang harus segera direspons dalam waktu 14 hari.” Padahal jangka waktu yang ditetapkan telah lewat (pada tahun tersebut pemerintah Jerman mulai membatasi jatah penerimaan mahasiswa asing di bidang kedokteran, sehingga surat panggilan tersebut merupakan hal yang istimewa). Betapa kagetnya Pak Harrie! Hari itu juga ia dan temannya berangkat ke instansi Kultus Misterium di kota Wiesbaden, yaitu badan yang ditunjuk oleh pihak universitas untuk melakukan verifikasi mahasiswa asing.

Ketika ia tiba di kantor tersebut, ia ditemui oleh seorang petugas yang sudah agak lanjut usianya. Setelah memeriksa surat-suratnya, dengan serta-merta petugas itu mengatakan bahwa Pak Harrie tidak dapat diterima karena sudah melewati jangka waktu yang ditetapkan. Saat itu Pak Harrie merasa impian dan cita-citanya runtuh. Namun sementara ia dan temannya termangu-mangu, keluarlah seorang staf muda dari dalam. Ia bertanya kepada Pak Harrie apakah yang dapat dibantunya, dan Pak Harrie memberitahukan masalah itu kepadanya. Staf tersebut memeriksa berkasnya dan mengatakan bahwa dia akan membantu dengan menulis rekomendasi ke universitas. Dengan harap-harap cemas, Pak Harrie dan temannya pergi ke Universitas Giessen untuk menyerahkan surat rekomendasi tersebut dan akhirnya Pak Harrie diterima di sana.

Setelah berbagai stumbling blocks (batu sandungan) diatasi, pendidikan Pak Harrie berjalan dengan lancar. Ia menyelesaikan studinya dengan meraih gelar dokter umum, lalu ijazah spesialisasi bedah. Selama studi, ia menikah dan mendapatkan pekerjaan di rumah sakit sehingga biaya hidupnya tercukupi. Ia berada di Jerman selama 12 tahun (termasuk bekerja setelah tamat) dan harus kembali ke tanah lahir karena pemerintah Jerman membatasi izin kerja bagi warga negara asing. Ia kembali ke Indonesia pada tahun 1984.

Sebagaimana ketentuan yang berlaku bagi dokter tamatan luar negeri, ia harus menjalani penyesuaian dengan melewati penempatan dan bekerja di rumah sakit di Indonesia. Menurut Pak Harrie, untuk mendapatkan proses adaptasi ini tidak mudah, namun berkat pertolongan teman dan keluarganya, ia mendapat tempat di rumah sakit Dr. Sarjito-Jogjakarta dan kemudian dilanjutkan dengan masa bakti di rumah sakit Mardi Santoso-Surabaya. Gajinya pas-pasan pada saat itu. Di Surabaya, ia menjadi anggota GKI Diponegoro dan diangkat menjadi penatua. Ia bertemu dengan pendeta Agus Susanto yang ketika itu melayani di gereja tersebut.

Pak Harrie Christanto.
Setelah selesai masa bakti, Pak Harrie melamar pada salah satu rumah sakit yang besar di Surabaya. Di luar dugaan, lamarannya ditolak karena posisi yang diinginkan sudah terisi oleh pelamar lain. Tentu saja penolakan ini membuatnya kecewa, namun ia meyakini bahwa Tuhan pasti berkehendak lain bagi dirinya. Ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan melamar di salah satu rumah sakit besar, dan kali ini ia diterima. Namun salah seorang temannya menasihatkan agar ia tidak mengambil pekerjaan itu, karena sebagai dokter pendatang, ia akan sulit mendapatkan pasien. Di rumah sakit tersebut ada kebiasaan di mana kelompok dokter yang sudah lebih dahulu mapan, memprioritas penjatahan pasien di antara mereka.

Akhirnya temannya itu menawarkan pekerjaan untuk membantu proyek pembangunan rumah sakit Medistra. Di kemudian hari, Pak Harrie menjadi dokter ahli bedah di sana (bahkan pernah menjabat sebagai kepala bagian bedah) yang dijalaninya sampai usia pensiun.

Walaupun Pak Harrie tidak menjelaskan secara verbal, saya yakin bahwa ia dapat melewati semua peristiwa di atas karena bersandar kepada firman dan anugerah Tuhan. Pada waktu menceritakan bagian-bagian yang mencekam, saya melihat matanya berkaca-kaca. Keharuan tersirat jelas di wajahnya. Sorot matanya mencerminkan perasaan syukur atas karya Tuhan yang begitu indah di dalam hidupnya.

For our earthly fathers disciplined us for a few years, doing the best they knew how. But God’s discipline is always right and good for us because it means we will share in his holiness. No discipline is enyoyable while it is happening – it is painful! But afterward there will be a quiet harvest of right living for those who are trained in His way (Hebrews 12:10-11).

Sola Gracia – Nono Purnomo (Penyunting)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah ini bermula pada tahun 1971, ketika tugasku beralih menjadi “eksekutif” salah satu organisasi komoditas tanaman keras yang baru...
  • BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    Sejak kecil, aku dididik ayah untuk berdoa setiap pagi sebelum melakukan aktivitas hari itu. Sampai kini, doa pagi itu...
  • Mozaik Kehidupan
    Mozaik Kehidupan
    Salah satu kegemaran saya adalah bidang sejarah. Selain sejarah perkembangan peradaban dan sejarah politik, sejarah gereja menarik minat saya....
  • Lely simatupang: Fighting for My One Minute
  • Ruth K. Trijoso: Tantangan  Menghadapi  Transplantasi  Kornea
Kegiatan