Post Tenebras Lux

Post Tenebras Lux

Belum ada komentar 24 Views

Post Tenebras Lux

Larut malam tanggal 1 Maret 2011, saya baru saja hendak mematikan laptop ketika sebuah e-mail dari Dr. Douwe Visser, Sekretaris Eksekutif program Teologi dan Persekutuan dari World Communion of Reformed Churches (WCRC), sebuah organisasi internasional beranggotakan gereja-gereja dalam tradisi Reformasi (Calvinis), termasuk GKI, masuk di inbox saya. Douwe, yang saya kenal dari program Global Institute of Theology di Amerika Serikat pada tahun 2010 yang lalu, menyampaikan informasi tentang adanya kesempatan internship/magang di kantor WCRC dan menanyakan apakah saya berminat mendaftarkan diri sebagai salah seorang kandidat.

Bulan Februari-Maret tersebut, saya tengah disibukkan oleh berbagai tanggung jawab. Menulis tesis, magang dalam bidang pelayanan pastoral di GKI Pondok Indah, koordinator acara dalam panitia Paska 2011, melayani sebagai pembicara di beberapa gereja, belum lagi berbagai masalah pribadi dan keluarga. Kalau mau jujur, sebetulnya salah satu alasan utama mengapa saya menulis tesis tentang burnout pada pendeta adalah karena saya ingin mengetahui lebih banyak tentang fenomena ini. Maklumlah, saya sendiri merasa berada di ambang burnout. Kenyataan bahwa setelah lulus saya diharapkan segera mengikuti program Bina Kader dan kemudian ditahbiskan menjadi pendeta, lebih merupakan sebuah momok bagi saya.

Di tengah kondisi seperti itulah saya menerima e-mail dari Douwe. Saya menjawab e-mail tersebut dengan menyampaikan bahwa saya sangat tertarik dengan program tersebut, namun saya harus memastikan dulu dengan sinode GKI bagaimana hal ini akan memengaruhi masa depan saya sebagai salah seorang kader GKI. Belum lagi, prospek akan tinggal sendirian di sebuah negara yang bahkan belum pernah saya kunjungi merupakan sebuah hal yang menakutkan. Dalam ketidakpastian ini, sebuah suara kecil di dalam hati saya seakan-akan berkata bahwa program ini merupakan sesuatu yang saya butuhkan. Saya memerlukan sebuah petunjuk dari Tuhan.

Seperti biasa, saya membaca renungan harian dan bersaat teduh sebelum tidur, dan dari renungan harian malam itulah saya menerima petunjuk yang saya butuhkan. Saya tidak ingat lagi siapa yang menulis renungan tersebut atau apa judulnya, tapi saya ingat ayat yang mendasarinya dari Ulangan 8:2, “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.”

Berdasarkan ayat tersebut, penulisnya mengatakan bahwa adakalanya dalam kehidupan kita, kita pun dibimbing (versi NIV dari ayat tersebut, “Remember how the LORD your God led you all the way…”) melalui ‘padang gurun.’ ‘Padang gurun’ ini bisa merupakan sebuah pengalaman dalam hidup, sebuah perjalanan, sebuah tempat yang harus kita tuju… Saat itulah saya menyadari bahwa Jenewa mungkin merupakan ‘padang gurun’ tersebut, tempat ke mana Tuhan tengah membimbing saya.

Dalam perkembangan selanjutnya, memang Tuhan membimbing saya melalui berbagai proses hingga akhirnya saya sampai di Jenewa dan memulai internship di WCRC pada bulan September 2011. Bagi saya, saat itu rasanya berkat Tuhan senantiasa menyertai saya. Saya sangat bahagia, dan saya yakin bahwa saya telah melalui ‘kegelapan’ yang meliputi saya di awal tahun 2011. Ketika saya melihat moto dari kota Jenewa yang diambil dari moto gerakan Reformasi, Post Tenebras Lux (setelah kegelapan, terang), saya berpikir, betapa sesuainya ini dengan apa yang saya alami.

Namun, di akhir bulan Desember, saya mengalami serangkaian peristiwa yang tidak mengenakkan. Pertama-tama, saya dicopet di stasiun kereta dan kehilangan iPod saya. Kemudian, terjadi kebakaran di gedung apartemen saya, yaitu ruangan pas di sebelah saya. Meskipun tempat tinggal saya baik-baik saja, selain tentunya bau asap dan sisa-sisa abu, pengalaman harus berlari keluar apartemen pada jam sebelas malam dengan asap hitam mengepul di belakang, lalu menunggu di depan gedung di tengah suhu udara bulan Desember selagi pemadam kebakaran mengevakuasi puluhan orang, merupakan pengalaman yang cukup menegangkan.

Seakan-akan kejadian tersebut belum cukup, sebuah kesalahpahaman dengan perusahaan asuransi kesehatan menyisakan saya uang sebesar 13 frank (setara dengan satu kali makan siang di kantin) pada tanggal 03 Januari. Kejadian terakhir ini betul-betul membuat saya putus asa.

Rasanya yang ingin saya lakukan adalah menangis sejadi-jadinya, kalau bisa di bawah selimut di tempat tidur saya, paling tidak sampai tanggal 20 Januari, yaitu hari di mana kami menerima gaji, tapi tentunya ini tidak mungkin. Dalam perjalanan pulang dari kantor, saya kembali ingin menangis, namun angin dingin yang menerpa wajah saya membuat air mata saya kering, dan saya teringat akan Jenewa sebagai ‘padang gurun’ saya.

Sudah semestinya perjalanan melalui padang gurun akan jauh berbeda dari berjalan-jalan sore hari di taman, dan meskipun orang-orang Israel di Alkitab sering kali kita bicarakan sebagai bangsa yang tidak tahu berterima kasih, rasanya tidak seorang pun di antara kita yang akan berperilaku lebih baik seandainya kita berada di posisi mereka. Berjalan melalui padang gurun tentu tidak nyaman, pemandangannya membosankan, perjalanannya melelahkan, panas matahari menyengat, angin meniup pasir yang masuk ke mata, dan… bayangkan harus menyantap makanan yang sama setiap hari!

Demikianlah kemudian saya menyadari bahwa rangkaian kejadian yang tidak menyenangkan ini, masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan kita, hal-hal yang membuat kita merasa tidak nyaman, lelah, sedih dan putus asa, sesungguhnya merupakan hal yang kita perlukan untuk menjaga keseimbangan dalam kehidupan kita. Seandainya kita senantiasa mengalami hal-hal yang menyenangkan, kita tidak akan dapat mengenali rasa bahagia. Selain itu, masalah-masalah ini merupakan sebuah ujian. Wah, ada masalah, bagaimana menghadapinya kali ini?

Hal yang indah adalah bahwa di tengah ‘padang gurun’ ini, Tuhan berjalan bersama kita, Dia membimbing kita melalui padang gurun tersebut. Yang berarti bahwa hal-hal yang tidak menyenangkan ini akan berlalu, kita akan melewatinya. Dan ketika kita melewatinya, kita menjadi lebih kuat, kita memiliki cerita yang dapat dibagikan dengan orang lain, kita dapat membantu orang lain dalam perjalanan mereka. Post tenebras, lux… kita dapat melihat terang itu lagi.

Aiko Wididana

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah ini bermula pada tahun 1971, ketika tugasku beralih menjadi “eksekutif” salah satu organisasi komoditas tanaman keras yang baru...
  • BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    Sejak kecil, aku dididik ayah untuk berdoa setiap pagi sebelum melakukan aktivitas hari itu. Sampai kini, doa pagi itu...
  • Mozaik Kehidupan
    Mozaik Kehidupan
    Salah satu kegemaran saya adalah bidang sejarah. Selain sejarah perkembangan peradaban dan sejarah politik, sejarah gereja menarik minat saya....
  • Lely simatupang: Fighting for My One Minute
  • Ruth K. Trijoso: Tantangan  Menghadapi  Transplantasi  Kornea
Kegiatan