pilihan

Pilihan

Belum ada komentar 21 Views

Dalam beberapa tahun terakhir, lagu yang kalimat awalnya ‘hidup ini adalah kesempatan’, mendadak populer di kalangan umat gereja. Memang, hidup adalah kesempatan. Karena hidup adalah sebuah kesempatan, otomatis di dalamnya terkandung beragam pilihan.

Setiap saat, setiap waktu, kita disodori begitu banyak pilihan dari Allah. Dari soal makan, pakaian, arah perjalanan, dan ribuan lainnya. Setiap tindakan kita adalah hasil dari pilihan kita. Katakanlah soal makanan. Di kulkas ada beragam bahan mentah, seperti tempe, telur, tahu, jeroan sapi, dan ayam. Kita bebas memilih dari bahan itu untuk kita olah menjadi sarapan pagi kita. Kita bisa memilih salah satu, salah dua, atau semua bahan itu, bahkan bisa juga memilih tidak makan.

Pilihan ini kadang tampak sederhana. Namun, dalam setiap pilihan terkandung segala konsekuensi. Ketika kita memilih makan tempe dan tahu saat asam urat kita tinggi, maka konsekuensi sakit dapat datang. Saat kita memilih makan jeroan sapi saat kolesterol kita tinggi, maka konsekuensi leher kaku akan mudah terjadi. Pilihan kita sekarang menentukan hasil yang kita tuai berikutnya. Tabur – tuai.

Pilihan-pilihan ini kadang disadari dan kadang tidak disadari. Kebiasaan bisa disebut sebagai mengulang pilihan. Memang, biasanya, manusia cenderung mengulang pilihan yang dianggapnya enak atau nyaman. Kita sering memilih melalui jalan yang sama setiap hari. Menggunakan kemeja atau kaos yang kita anggap nyaman. Makan makanan di resto yang sama karena kita merasa enak.

Namun, meski tidak disadari, hal itu tetap pilihan kita dan konsekuensi tetap ada. Contohnya, seorang bapak tewas tersambar kereta di sebuah perlintasan kereta tanpa palang yang biasa ia lalui setiap hari. Sebenarnya ia memiliki pilihan untuk tidak melalui perlintasan itu dan ada jalan memutar yang lebih aman. Namun karena pilihannya, ia tersambar kereta.

Pilihan dalam hidup mirip permainan catur. Langkah kita menentukan pergerakan berikutnya. Ada banyak peluang dan banyak risiko. Bagi penulis, lagu “Tuhan Menetapkan Langkah-langkah Orang” tidak dipahami sebagai dalang terhadap wayang. Tuhan membuka setiap pilihan (free will) bagi manusia. Lihatlah Adam yang diberi larangan untuk tidak makan buah larangan. Saat ia makan, ia terusir dari Firdaus, tetapi bila tidak memakannya, ia akan tetap tinggal di Firdaus.

Tuhan menyediakan konsekuensi yang rumit dan misterius terhadap jalan hidup kita. Hidup ibarat cabang pohon ketika kita memilih satu percabangan, berikutnya akan ada percabangan lain dan seterusnya. Percabangan itu bisa bersinggungan dengan percabangan lain tetapi juga ada yang tidak. Katakanlah soal pasangan hidup. Bagi penulis, pasangan hidup ditetapkan Tuhan bersama dengan gerak pilihan manusia. Penulis menikah dengan Irma, karena penulis memilih studi teologi. Bila penulis memilih untuk melanjutkan proses di kedokteran umum, ada peluang bahwa penulis tidak berkesempatan bertemu Irma tetapi bertemu, sebut saja, Wati. Namun ketika penulis memilih berkuliah kedokteran, Allah bisa saja tetap mempertemukan dengan Irma. Percabangan, persinggungan percabangan, menjauhnya percabangan satu dengan yang lain adalah misteri kehidupan yang Allah tetapkan. Dan itulah kerumitan ‘gerak’ bersama kehendak Allah dengan pilihan manusia.

Penulis berefleksi, sering kali dalam menentukan pilihan, di sana terkandung kesalahan dan dosa. Sejatinya, Allah senantiasa menyediakan ‘rambu-rambu’ jalan di setiap persimpangan. Sebelum Adam makan buah larangan, Allah memberikan rambu. Sebelum Petrus memilih menyangkal, Yesus telah mengingatkan. Meski memberi rambu, Allah tidak pernah memaksa. Kesadaran diri dan hikmat yang kuat sangat diperlukan manusia untuk mengambil pilihan. Kewaspadaan dan ‘dengar-dengaran’ terhadap rambu-rambu yang Allah berikan membuat orang tidak salah jalan karena salah pilih. Maka dari itu ada baiknya dalam pilihan yang berkonsekuensi besar dan rumit, kita tidak terburu-buru. Berpikir, beriman, dan berdoa lebih dahulu sebelum memutuskan supaya tidak ada sesal kemudian.

Meski demikian, dalam setiap kesalahan pilihan kita yang berakibat buruk dan dosa, Allah senantiasa memberi ruang kepada manusia untuk memperbaiki diri dan pilihannya. Manusia selalu diberi kesempatan untuk kembali pada ‘jalur’, atau paling tidak mendekatkan diri pada jalur yang tepat. Memang untuk konsekuensi yang ‘sudah menjadi bubur’, manusia hanya bisa menerima, meminta ampun, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tetapi bila ‘belum menjadi bubur’, Allah selalu memberi kesempatan perbaikan. Yudas memilih mengkhianati Yesus. Ia sebenarnya memiliki pilihan atas konsekuensi yang telah dibuatnya dengan bertobat, alih-alih bunuh diri. Ia gagal memperbaiki kesalahan pilih yang dilakukannya.

Dari refleksi di atas, setiap detik kita memiliki pilihan yang harus dipertimbangkan. Hidup ini adalah pilihan, maka bijaklah memilih. Apa pun tindakan dan perkataan kita mengandung ribuan risiko dan juga ribuan kesempatan baik. Bijak dalam memilih menolong kita untuk menuai hal baik di kemudian hari.

>> Pdt. Bonnie Andreas

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Pilihanku, Pilihanmu, Pilihan-Nya
    Hidup adalah Pilihan Pendapat tersebut sering kali kita dengar dalam banyak situasi. Misalnya dalam kehidupan sehari-hari, kita harus memilih...
  • Pikiran yang Ramai
    Bijak Memilih
    Mudah ditebak mengapa judul di atas dipilih, yaitu mengantisipasi Pemilu yang akan diadakan pada bulan April mendatang, tepatnya 17...
  • Sahabat Allah
    Berjalan Bersama TUHAN Setiap hari
    Mengapa ada orang Kristen yang baru 2 tahun percaya kepada Kristus, tapi sudah memahami dasar-dasar kekristenan, bisa membawa orang...
  • Tantangan Berkomunitas
    Sebuah refleksi singkat tentang hidup menggereja saat ini
    Dalam rangka mengembangkan kehidupan menggereja, pertanyaan tentang apa tantangan gereja saat ini kembali muncul sebagai pertanyaan yang relevan. Pertanyaan...
Kegiatan