Persembahan Bagi Tuhan

Belum ada komentar 380 Views

Yth. Pak Pendeta,

Mengapakah ragi dan madu dilarang digunakan bangsa Israel pada saat membakar hewan-hewan korban di Kemah Suci, sedangkan garam justru harus selalu dibubuhkan di dalam setiap persembahan korban sajian? Saya kutipkan ayat-ayatnya di dalam Imamat 2:

ayat 11:
Suatu korban sajian yang kamu persembahkan kepada TUHAN janganlah diolah beragi, karena dari ragi atau dari madu tidak boleh kamu membakar sesuatu pun sebagai korban api-apian bagi TUHAN.

ayat 13:
Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam.

Banyak terima kasih atas penjelasannya. (Sam)

Hai, Sam!

Konteks Imamat 2 adalah ‘memberikan persembahan yang terbaik kepada Tuhan’. Coba Anda perhatikan Imamat 2:1: “Apabila seseorang hendak mempersembahkan persembahan… hendaklah persembahannya itu tepung yang TERBAIK…” Nah, bagaimana persembahan kita kepada Tuhan? Baik harta kita, tenaga kita, pelayanan kita… sudahkah kita memberikan YANG TERBAIK? Itu pesan moral dari Imamat 2.

Berkaitan dengan persembahan yang terbaik dalam wujud tepung… maka ragi dan madu dilarang, karena ragi khususnya—tetapi juga sesuatu yang manis seperti madu—bisa merangsang proses fermentasi, yang mengubah ‘yang baik’ menjadi ‘tidak baik’.

Kebalikannya adalah garam, yang bersifat mengawetkan. Artinya, ‘yang baik’ itu akan bertahan lama ketika hadir bersama garam. Tentu kita bisa berargumentasi bahwa dengan ragi (dan madu), tepung akan diubah menjadi sesuatu yang baik dalam bentuk lain, roti misalnya.

Apapun argumentasi kita, itulah pemahaman orang-orang Israel pada waktu itu. Pemahaman ini diteruskan sampai Perjanjian Baru. Garam dikonotasikan sebagai ‘yang baik’. Karena itu ada nasihat: ‘Jadilah garam dunia’. Sebaliknya, ragi dikonotasikan sebagai ‘yang buruk’. Karena itu ada nasihat: ‘berhati-hatilah dengan ragi orang Farisi’.

Bagi saya, yang penting bukan soal larangannya, tetapi apa pesan moralnya. Itu yang tidak berubah sepanjang masa. Berikanlah persembahan yang terbaik! Nah, Imamat 2 memperhadapkan kita pada sebuah pertanyaan: ‘Sudahkah yang terbaik kuberikan’?

Semoga jawaban ini mendorong kita semua untuk selalu memberikan yang terbaik buat Tuhan.

>> Pdt. Rudianto Djajakartika

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
  • ALLAH Sang Sutradara?
    Bapak Pendeta Yth. Saya sedang membaca kitab Yehezkiel dan di sana terdapat banyak segala nubuatan, baik bagi bangsa Israel,...
  • Manusia Purba
    Pak Pdt. yang baik, Bolehkah saya meminta penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang mengusik hati saya: Siapakah manusia...
  • upacara gereja
    Mengapa Tuhan Mengeraskan Hati Firaun?
    Bapak Pendeta Yth. Di dalam Keluaran 8-10, diceritakan tentang Tuhan yang mengeraskan hati Firaun. Mengapa Tuhan mengeraskan hati Firaun?...
Kegiatan